BAHASA DAN POLITIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bahasa Indonesia memiliki dua keistimewaan, pertama sejak 1928 bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa nasional. konsekuensi dari kenyataan ini berarti bahwa bahasa Indonesia menjadi alat persatuan bangsa Indonesia yang beraneka ragam ras, agama, dan suku bangsa. Kedua, bahasa Indonesia dalam bahasa lain telah menjadi bahasa “administarsi Negara”. Dilihat dari dua sis ini bahasa Indonesia memiliki nilai strategis.
Bahasa dalam setiap rezim kekuasaan memiliki warna yang berbeda. Bahasa Indonesia dalam ragam politik dan birokrasi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan ragam bahasa sosiolek lainnya. Sejarah ejaan bahasa Indonesia menunjukan bahwa setiap rezim kekuasaan memiliki kepentingan terhadap keberperanan bahasa selaras dengan kecendrungan kekuasaan saat ini. Bahkan bahasa dalam beberapa hal dipolitisasi baik makna (semantic) maupun bentuk (sintaksis) agar secara sinergis mendukung berlangsungnya kekuasaan
Makalah ini mencoba membahas perkembangan kosakata politik dalam dinamika politik dalam dinamika politik bangsa. Untuk membatasi permasalahan, pembahasan ditiitkberatkan pada kosakata politik masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945-1949, masa demokrasi parlementer tahun 1950-1959, masa orde lama tahun 1960-1965, masa orede baru tahun 1966-1998, dan masa pascaorde baru atau era reformasi dan demokrasi tahun 1998-1999.
Sajian pengatar di atas merupakan yang melatar belakangi terhadap kajian bahasa dan politik yang bersinggungan langsung dengan kekuasaan sehingga menjadi menarik untuk dikaji dalam pandangan sosiolinguistik sebagai fenomena-fenomena kebahasaan di masyarakat Indonesia.
B.    Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas antara lain:
1.    Bagaimanakah hubungan bahasa dan politik?
2.    Bagaimanakah penggunaan bahasa pada setiap rezim atau elit politik dalam mencapai kekuasaaan?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang bahasa dan politik dalam mencapai dan mempertahankan kekuasaan. Sekaligus sebagai laporan tugas individu dari matakuliah sosiolinguistik yang dibimbing oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. dan Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd. pada program pendidikan bahasa Indonesia fakultas pascasarjana Universitas Negeri Malang.
D.    Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai penambah wawasan pengetahuan bagi pembaca khususnya mahasiswa program pendidikan bahasa Indonesia yang mengkaji terhadap bahasa dan politik dalam pandangan sosiolinguistik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakekat Bahasa dan Politik
Bahasa dan politik (langgue of power), topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, terutama pada kajian sosiolinguistik. Jika kita melihat hakikat bahasa sendiri secara umum didefinisikan sebagai alat komunikasi. Tetapi penjelasan tersebut kurang tepat, karena pertanyaan mengenai definisi juga harus dijawab dengan definisi bukan fungsi. Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas. sebenarnya hakekat bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sebuah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.  Definisi hakikat bahasa di atas dapat dicirikan bahwa hakikat bahasa mempunyai ciri antara lain, bahwa bahasa itu adalah sebuah lambang, berupa bunyi, bersifat arbiter, produktif, dinamis, beragam dan tentunya bahasa itu juga manusiawi. Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami perkembangan. Dan perkembangan berarti perubahan. Perubahan itu terjadi, oleh karena bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Kecenderungan studi bahasa yang memisahkan bahasa dengan dimensi pemakai dan pemakaiannya (konteks sosialnya) inilah yang kemudian mengilhami lahirnya pendekatan baru dalam studi bahasa yaitu sosiolinguistik.
Dalam hal ini, objek studi bahasa dalam pandangan sosiolingustik bukan hanya semata dilihat dari sistem atau kaidah-kaidah bahasa itu, melainkan juga pada konteks dan komunikatifnya. Ciri-ciri bahasa yang disebutkan di atas, yang menjadi indikator akan hakikat bahasa adalah menurut pandangan linguistic umum (general linguistics). Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interkasi sosial dan sebagai alat mengidentifikasikan diri.
Selain fungsi penggunaanya sebagai situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut Gravin dan Matiot (1956:785-787)  juga mempunyai fungsi sosial politik yaitu fungsi pemersatu, fungsi pemisah, fungsi harga diri, fungsi kerangka acuan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, nampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain. Fungsi bahasa bagi manusia sangat penting Halliday  mengungkapkan ada fungsi bahasa bagi manuisa sebagai instrumental yaitu melayani pengelolaan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa itu terjadi. Fungsi regulasi yaitu bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan peristiwa-peristiwa. Fungsi representasional yaitu berfungsi menggambarkan realitas sebanarnya. Fungsi interaksional yaitu untuk menjamin dan memantapkan ketahan dan kelangsungan komunikasi sosial. Fungsi personal yaitu memberikan kesempatan kepada pribadi-pribadi untuk mengekspresikan diri. Fungsi heuristik yaitu melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahua. Fungsi imajinatif melayani pencptaan sistem-sistem atau gagasan yang bersifat imajinatif. Fungsi bahasa halliday ini biasa disebut sapta guna bahasa.
1.    Politik
Terlepas dari pendefinisian apa hakikat bahasa sebenarnya, maka pembahasan selanjutanya kita akan menyinggung masalah topik utama yaitu “bahasa dan politik”. Bahasa dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Politikus harus menemukan cara-cara agar bisa memengaruhi masyarakat dan mereka sering kali menggunakan aspek retorika (seni berbicara) dari bahasa untuk mencapai tujuan itu.
Politik sangat erat kaitannya dengan masalah kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan publik dan alokasi atau distribusi. Pemikiran mengenai politik di dunia barat banyak dipengaruhi oleh Filsuf Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles yang beranggapan bahwa politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik. Usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang diantaranya terdiri dari proses penentuan tujuan dari sistem serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Politik adalah masalah kekuasaan, yaitu kekuasaan utntuk  membuat keputusan, mengendalikan sumber daya, mengendalikan perilaku orang lain dan seringkali mengendalikan nilai-nilai yang dianut orang lain.
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik bisa mencakup banyak jenis kegiatan, mulai dari proses pembuatan kebijakan nasional, kesetaraan gender, persaingan kelompok yang erat jalinanya, seperti persaingan antarrekan sekantor memperebutkan jabatan yang biasanya dilakukan dengan membocorkan atau meyimpan rahasia kantor, cara orang menegoisasikan peran yang harus mereka jalankan dalam kehidupan pribadi mereka, sejarah dari sistem politik, kegiatan yang berkaitan dengan transportasi, pemukiman dan konsumsi yang bisa memengaruhi lingkungan (lingkungan politik).  Fungsi politik sebenarnya sangat luas, jika melihat dari fugsi di atas maka dalam berbagai hal kegiatan kita tidak akan terlepas  dari politik. Salah satu untuk mencapai tujuan politik dengan menggunakan implikatur. Implikatur adalah cara dimana pendengar bisa memahami sendiri asumsi-asumsi dibalik sebuah nformasi tanpa harus mengungkapkan asumsi-asumsi itu secara eksplisit.
2.    Bahasa Sebagai Pengendali Pikiran
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu memahami bahasa akan memungkinkan kami untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Penggunaan bahasa tidak sekedar mempengaruhi seseorang tetapi bisa digunakan sebagai pengendali pikiran seseorang. Sunggu kekuatan bahasa yang sangat luar biasa, seperti pepatah mengatakan “dengan bahasa akan ku kuasai dunia”. Uraian di  atas menunjukan bahwa bahasa bisa digunakan untuk memengaruhi atau mengubah idiologi (= kewajaran) sehingga mampu memengaruhi cara pikir seseorang  . Ada satu cara bagi mereka yang cepat bagi mereka mempunyai kekuasaan untuk memasukan akal–sehat ideologis kepada orang-orang, sebagaimana yang harus kita lihat. Tetapi selalu ada beberapa tingkatan perbedaan ideoogi, yaitu konflik dan pertentangan yang sesungguhnya, sehingga keserasian ideologi tidak tercapai.
Terkait dengan hal di atas, styawan menjelaskan  dapat dikatakan sebenarnya manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecakan persoalan dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa individu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran. Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran. Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi  pikiran. Ujaran merupakan sintesis dari proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman pesan tersebut hasil analisis kode. Orwell menjelaskan dalam novelnya (1984:331)  Tujuan newspeak (pengendali pikiran) bukan sekedar sebagai media ekspresi dari wawasan dunia dan kebiasaan berpikir dari penganut ingsoc, tetapi juga membuat pola-pola pikir lainya menjadi lumpuh.
3.    Bahasa Muslihat, Retorika dan Gaya Bahasa
Ada sebuah lelucon lama  sebagai berikut:
Pertanyaan: bagaimana caranya agar kita tahu kapan politisi berbohong?
Jawab: setiap kali mereka berbohong, mereka selalu menggerakan bibirnya (artinya politisi tidak pernah berhenti berbohong dan selalu berbohong).
Lulucon tersebut memberikan pemahaman kepada kita semua bahwa setiap politisi menyampaikan pendapat atau gagasan maka pasti memiliki unsur kepentingan kekuasaan didalamnya.
Para politisi sering menggunakan bahasa dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari rakyat untuk kepentingan meraih kekusaan. Sehingga para politisi tidak akan menggunakan bahasa biasa yang sering digunakan oleh orang lain terutama yang banyak terdapat di media masa. Hal ini dikarenakan penggunaan bahasa yang sering digunakan oleh orang lain atau politisi lain di media masa membuat unsur kepentingan politik akan semakin terlihat sehingga diperlukan bahasa yang belum pernah digunakan oleh politisi yang lain. Salah satuh contohnya dapat dilihat dari kandidat presiden Indonesia antara Megawati, Jusuf Kalla dan Amien Rais yang ketiga kandidat tersebut dalam iklan kampanye menggunakan bahasa argumentasi dari orang lain untuk menilai kebaikan dari kandidat tersebut. Berbeda halnya dengan kandidat SBY yang tidak menggunakan bahasa yang sama akan tetapi mencoba untuk mengubah salah satu jingle produk mie instan kedalam bahasa politik.
Kemudian politisi juga tidak akan menggunakan kata – kata yang terlalu panjang. Hal ini disebabkan penggunaan kata – kata yang terlalu panjang membuat kebosanan dan akan terjadi ketidak pemahaman terhadap maksud dari politisi tersebut. Sebaliknya politisi akan menggunakan bahasa yang singkat namun mencapai sasaran yang diinginkan. Misalnya para politisi ketika menggabungkan kedua nama pasangan kandidat mereka atau ketika menamakan program yang akan mereka lakukan.
Penggunaan bahasa dikalangan politisi juga selalu menggunakan bahasa yang aktif yang didalam bahasa tersebut akan ditunjukan kontribusi yang telah ia lakukan terhadap rakyatnya sehingga rakyatpun tertarik dari bahasa yang ia lontarkan.
Politisi menyadari bahwa bahasa yang ia gunakan dalam mencapai kekuasaan akan didengar dari semua golongan masyarakat, baik yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi hingga yang tidak mengenal pendidikan. Sehingga politisi akan menghindari bahasa – bahasa asing atau ilmiah yang sangat sulit dimengerti. Politisi akan menggunakan bahasa yang sangat akrab dipakai dikalangan masyarakat. Misalnya para kandidat calon bupati yang menggunakan bahasa daerah setempat yang mengandung makna politik.
Para politisi sangat akrab dengan kegiatan pidato dan orasi, dimana gagasan atau ide di tuangkan dalam bentuk lisan. Pidato atau orasi menggunakan teknik retorika, retorika merupakan suatu teknik penggunaan bahasa sebagai seni tulis maupun lisan yang didasarkan pada pengetahuan yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain ( Keraf, 2010: 3). Dalam kajian retorika pemilihan kata dan gaya bahasa diatur dan disesuaikan agar audiens tertarik dan simpati terhadap gagasan yang tuangkan dalam bentuk pidato.
Salah satu bentuk penggunaan gaya bahasa yang sering digunakan oleh politisi adalah gaya bahasa metofor yang merupakan analogi yang membangdingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat ( Keraf, 2010: 139). Misalnya penggunaan kalimat “kita memiliki prekomonian yang kuat” antara kata ekonomi dan kuat memiliki makna yang berbeda. Sedangkan kata ekonomi merupakan gagasan yang abstrak yang kemudian diikuti dengan kata kuat yang maknanya dilekatkan pada keadaan fisik. Hal ini menjadi pemahaman baru bagi audiens sehingga tertarik pada ucapan politisi. Contoh lain dalam penggunaan retorika misalnya pada pidato
Salah satu cara yang banyak digunakan dalam retorika politik adalah “pernyataan dalam tiga bagian”. Ini adalah sebuah strategi linguistic di mana hal – hal yang diutarakan dikelompokan menjadi tiga bagian. Pengelompok seperti ini bertujuan agar terasa lebih estetik. Seperti halnya salah satu partai di Indonesia yang mengatakan “ hanya dengan hati nurani kita dapat meresakan kesengsaraan, penderitaan, dan penderitaan”.
Pemilihan kata dalam penggunaan reorika politik sangat penting. Agar menimbulkan persepsi positif terhadap diri seorang politikus. Misalnya pada pidato Bush sebagai presiden Amerika.
Seperti yang sudah kami umumkan kemarin malam, kami tidak akan menyerang prajurit yang tidak bersenjata dan sedang bergerak mundur.
Kami tidak punya pilihan lain kecuali menggangap unit tempur yang sedang mundur sebagai ancaman sehingga kami bertindak sesuai dengan situasi… (bush menegaskan bahwa unit yang diserang tentara AS itu bersenjata)
Sejak awal dari operasi udara, hamper 6 minggu yang lalu, saya sudah mengatkan bahwa upaya saya berjalan sesuai dengan jadwal. Pagi ini dengan senang hati saya umumkan bahwa operasi yang dijalankan koalisi telah lebih awal dari jadwal. Kuwait akan bebas tidak lama lagi
Perhatikan dalam pidato tersebut dalam penggunaan kata kami dan saya. Penggunaan kata kami lebih mengarah pada keputusan yang diambil tidak berdasarkan seorang diri yang kemudian makna dari kalimat tersebut mengarah pada pembunuhan yang dapat memberikan stigma buruk jika menggunakan kata saya. Kemudian penggunaan kata saya diperuntukan pada sebuah keputusan seorang diri yang lebih cendrung untuk membangun kepribadian pahlawan dimana pada kalimat tersebut akan diberikan penekanan pembebasan suatu Negara.
B.    Kosakata Bahasa Politik
Pada setiap rezim penguasa timbul berbagai macam ragam bahasa yang digunakan untuk kepentingan kekuasaan. Ragam bahasa yang dikhususkan pada kosa kata yang digunakan untuk dilekatkan kepada orang-orang yang menentang kekuasaan pada saat itu atau yang digunakan untuk memudarkan fakta sosial baik dibidang politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.
Ragam bahasa politik yang dikemukakan oleh pemerintah disosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. Dengan menggunakan media massa (surat kabar) diharapkan informasi akan meluas, baik dalam jumlah orang maupun luas wilayah yang dapat dijangkaunya. Dalam mensosialisasikan bahasa politik dengan gaya bahasa yang khas melalui media massa, peran wartawan sangat diperlukan dalarn menjembatani informasi yang dituturkan pemerintah untuk disampaikan kepada masyarakat luas. Dalam hal ini wartawan tidak harus menyalin bulat-bulat apa yang disampaikan oleh pemerintah, tetapi sebaiknya disaring terlebih dahulu dengan menggunakan kata-kata yang lebih sederhana tanpa mengubah arti yang dimaksudkan. Media komunikasi dapat membantu melipatganda-kan pesan-pesan komunikasi yang disampaikan kepada masyarakat, baik secara regional, nasional, maupun internasional.

Ragam bahasa politik tersebut diantaranya:
1.    Rezim Orde Lama
Rezim orde lama merupakan rezim yang pertama kali memimpin bangsa Indonesia dimulai pada tahun 1945 sampai dengan 1965. Pada masa orde lama kosa kata yang muncul terbagi dalam beberapa tahap. Penjelasan ini dapat dilihat pada table dibawah ini.
No    Tahun    Kosa Kata
1.    Tahun 1945 sampai 1949    republik, Yogya, Nica, diplomasi, perjuangan, lasykar, bung, rakyat, federal, kooperator, nonkooperator
2.    Tahun 1950 sampai 1959    kabinet, mosi tidak percaya, lisensi istimewa, pemilihan umum, konstituante, pusat, daerah, berontak
3.     Tahun 1960 sampai 1965    Manipol Usdek, kontra revolusi, pemimpin besar revolusi, ganyang, setan kota, nasakom, indoktrinasi, nekolim

2.     Rezim Orde Baru
Razim orde baru merupakan rezim yang menggantikan rezim orde lama. Rezim ini berkuasa paling lama dibandingkan rezim-rezim kekuasaan sebelum dan sesudahnya rezim ini berakhir. Lebih tepatnya rezim ini berkuasa selama 32 (tiga puluh dua tahun) di bangsa Indonesia.
Interverensi yang paling nyata dari rezim kekuasaan orde baru terhadap bahasa adalah “pemiskinan makna”  dalam bahasa-bahasa yang sentralistik. Istilah terakhir ini tidak hanya dipakai pemerintah orde baru dalam bidang ekonomi, politik dan kekuasaan. Makna diikat dalam suatu kepentingan politik penguasa dan diberikan secara mentah-mentah kepada masyarakat untuk dipakainya. Otoritas makna dan dominasi public membuat bahasa-bahasa politik menjadi bermakna tunggal.
Ketika banyak kerusuhan dan penentangan terhadap kesewenang-wenangan, penguasa membuat kosakata, seperti “provokator dan “actor Intelektual”. Yang memiliki makna secara teknis sama dengan pelaku makar. Orang-orang yang dituduh sebaga provokator diposisikan sebaga musuh Negara dan harus dimusuhi oleh masyarakat banyak. Paling tidak, rezim orde baru telah membentuk warna berpikir yang seragam dalam bantuk dan polanya karena senantiasa dikontrol oleh kekuasaan.
Manusia yang hidup selama 32 tahun  dibawah kekuasaan orde baru, menurut Rahmat  memiliki karakteristik yang khas dan biasa untuk berpikir “berkelok-kelok” karena di satu sisi ingin disebut oleh public, namun di sisi lain tidak hendak “berhadapan” atau melakukan politik akomodasi dengan penguasa orde baru supaya tetap survive atau istilah psikologinya ego defense mechanism yang berarti mekanisme pertahanan ego. Sosok manusia orde ini oleh Rahmat disebut dengan nama “Homo Orbaicus” terjadinya model manusia “Orbaicus” ini dikarenakan terlalu lamanya berpikir yang melewati penataran P4 sejak SD, SMP, SMU, hingga PT.
Otoritas bahasa sebagai consensus sosial yang berstruktur dan berlogika sehingga menghasilkan makna yang “baik dan benar” telah hilang. Otosentris bahasa oleh penguasa terjadi pada struktur birokrasi dalam melaporkan peristiwa di daerahnya. Di saat banyak warga masyarakay mengalami krisis pangan, seorang Bupati memberikan laporn dan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Terjadilah manipulai bahasa berupa data yang dimaklumi dan dianggap benar sehingga di saat Indonesia dilanda kelaparan Menpen mengatakan kita tidak mengalami rawan pangan dikarenakan persediaan pangan cukup memadai.
Akibatnya masyarakat cukup hebat, dalam memaklumi dan menyukai bahasa-bahasa imbolis dan populis. Di jaman orde baru kita menganal sebuah program yang dinamakan “gerakan pembangunan” disanalah julukan kepada pemimpin penguasa dilekatkan yaitu “bapak pembangunan” hal ini menjadi alat untuk mempopulerkan diri dalam meraih simpati rakyat. Demikian juga julukan yang diberikan kepada pejabat yaitu “bermanis bibir” sehingga makna ini ditafsirkan sebaga pejabat yang tunduk dan patuh terhadap penguasa bukan lagi “pwtuh terhadap rakyat”.
Kesadaran akan besarnya pengaruh bahasa dalam kepentingan kekuasaan ole horde baru sehingga timbullah kebijakan terhadap pengontrolan bahasa pada media massa sehingga krtikan yang tergandung dalam bahasa yang berpotensi untuk menjatuhkan keuasaan orde baru sangat dilarang keras.
Kemunculan kosa kata pada zaman orde baru yang bertujuan dalam “pengamanan” kekuasaan diantaranya:
No    Tahun    Kosa Kata
1.    Tahun 1965 sampai dengan Tahun 1998    Anti pembangunan, ekstrim kanan, ekstrim kiri, GPK, SARA, OTB, kiri baru, bersih diri, bersih lingkungan, subversi, kecemburuan sosial.

3.    Era Reformasi dan Demokrasi
Era reformasi dimulai semenjak runtuhnya penguasa orde baru pada tahun 1998. Peristiwa ini sekaligus membuka lembaran baru bagi bangsa Indonesia. simbol penguasa orde baru menyerahkan kekuasaannya pada wakilnya dan dalam proses kepemimpinannya hanya bertahan pada 522 hari.
Keruntuhan masa kepemiminan ini sekaligus diikuti oleh perkembangan bahasa-bahasa kritikan seperti tuduhan korupsi, kolusi dan nepotisme, kemudian lukidasi, krisis moneter, legitemasi, konstitusional, inkontisonal,sembilan bahan pokok.
kaki tangan penguasa dan lain-lain. Fenomena kebahasan yang muncul pada ruang public ini dikarenakan pada masa orde baru bahasa-bahasa keras tidak diperbolehkan sehingga pelampiasan pengekangan bahasa terjado di era reformasi.

C.    Melurukan Posisi Bahasa
Bahasa memiliki peranan yang sangat besar dalam mencapai keinginan. Seolah bahasa merupakan sebuah alat yang digunakan oleh manusia untuk mendapatkan atau memenuhi keinginannya. Namun, juga harus disadari penggunaan bahasa dengan maksud mencapai kekuasaan dengan cara memanipulasi bahasa dari yang fakta menuju kebohongan atau dari yang bersifat bebasa menjadi terikat dalam posisi yang mengekang maka hal ini menjadi sala dalam penggunaan bahasa. hal ini dikarenakan sifat bahasa tidak terlapas dari moralitas antara penutur dan lawan tutur atau pengguna bahasa.
Dalam kaitanya dengan bahasa dan politik maka beberapa hal yang perlu penulis sampaikan dalam makalah ini yaitu:
1.    Bahasa harus digunakan sebaik mungkin dalam pencapain keinginan si pemakai bahasa.
2.    Penggunaan bahasa pada area public harus mengacu pada penggunaan bahasa yang benar dan sesuai dengan kaidah kebahasan agar tidak terjadi salah persepsi bahasa.
3.    Penggunaan bahasa tidak relepas dari moralitas pemakai bahasa.
4.    Bahasa harus lepas dari kepentingan kekuasaan yang mengekang terhadap pemakai bahasa.
5.    Bahasa harus relevan dengan fakta sosial.

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pembahasan makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Bahasa memiliki peranan penting dalam mencapai kekuasaan
2.    Bahasa dapat mempertahankan kekuasaan dan meruntuhkan kekuasaan
3.    Bahasa sebagai alat pengendali politik
4.    Bahasa sebagai alat pengendali pikiran
5.    Bahasa menunjukan ideologi pemakai bahasa
6.    Ragam bahasa politik bermunculan seiring pergantian rezim kekuasaan pada suatu bangsa
7.    Dalam penggunaan bahasa untuk kepentingan politik harus mengacu pada kaidah kebasaan dan yang paling penting adalah tidak menggunakan bahasah sebagai mengekang dan membohongi.
B.    Saran
1.    Kajian terhadap bahasa dan politik sangat menarik untuk dilihat dari sudut pandang sosiolinguistik. Sehingga dapat dijadikan bahan penelitian pada masa mendatang.
2.    Kajian terhadap bahasa politik sekaligus memberikan arahan pada pemakai bahasa dalam dunia politik agar menggunakan bahasa berdasarkan kaidah bahasa dan norma sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, abdul. dan Leoni  Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rieneka Cipta
Fairlough, Norman.2003. langguage and power relasi bahasa, kekuasaan dan ideologi. Malang: Boya Publishing
Keraf, Goris. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Ikrar Mandiriaabadi
Tarigan. H. G. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung:Angkasa
Thomas, Linda. Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat dan kekuasaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Rahmat, Jalaludin. 1999. Rekayasa Sosial, Reformasi atau Revolusi. Bandung: Remaja Rosdakarya. h. 142
Styawan, Susilo Adi. 2009. Pikiran Bahasa dalam Kajian Psikolinguistik. http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/2009/10/21/pikiran-dan-bahasa-dalam-kajian-psikolinguistik/ diakses 13 juli 2012.

About these ads

Posted on February 13, 2013, in makalah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: