MENGENAL BUMI PAGUNTAKA KOTA TARAKAN

MENGENAL BUMI PAGUNTAKA KOTA TARAKAN

OLEH JEPRIDIN

Indonesia sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Setiap pulau yang ada di Indonesia terdapat suku – suku dan suku tersebut memiliki tradisi kebudayaan yang sangat menarik untuk di kaji dalam ilmu pengetahuan. Tradisi kebudayaan tersebut telah diwariskan dari generasi ke genarasi dengan tujuan untuk di lestarikan dan muatan dari tradisi kebudayaan tersebut memiliki nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Salah satu suku yang terdapat di Indonesia adalah suku tidung yang mendiami daerah provinsi Kalimantan Timur khususnya wilayah Utara yang tetap eksis dalam mempertahankan kebudayaannya dan memiliki tradisi yang sangat banyak dan sangat baik untuk di kaji dalam pandangan ilmu pengetahuan. Di dalam tradisi tersebut mengandung pesan rohani dalam bentuk nilai-nilai moral, gagasan, cita-cita dan pandangan kehidupan suku tidung baik hubungan terhadap manusia, hubungan terhadap tuhan maupun hubungan terhadap alam yang menjadi tempat tinggal untuk melakukan aktifitas keseharian. Jadi bagaimana para leluhur suku tidung dalam pandangan kehidupan yang di tampilkan dalam bentuk kebudayaan.
Penelitian ini sangat menarik untuk di kaji dan layak untuk di pentingkan karena berhubungan langsung dengan ilmu pengetahuan sastra khususnya pada sastra lisan dikeranakan tradisi yang di gunakan dalam mempertahankan kebudayaan suku tidung dilakukan dengan cara lisan.
Tradisi kebudayaan yang diwariskan secara lisan dari pada setiap generasi disebut dengan sastra lisan yang masuk pada kajian ilmu foklor. Foklor akan membicarakan warisan tradisi lisan diantranya cerita prosa  rakyat, bahasa rakyat, ungkapan tradisional, sajak dan puisi rakyat.
Pengumpulan terhadap tradisi kebudayan dari suatu suku akan memberikan sumbangan pengetahuan kepada setiap orang yang tertarik pada kajian kebudayaan di masa mendatang dan juga membantu untuk mendokumentasikan secara keseluruhan dari kebudayaan yang terdapat di Nusantra. Mempelajari dan mengkaji secara dalam terhadap trasdisi suatu suku akan juga memberikan pengawetan terdap keberadaan tradisi tersebut dari hantaman arus modern yang sasaranya adalah generasi muda. Dengan penelitian terdapat tradisi suku tidung berarti turut memberikan sumbangsi pengetahuan dan mempertahankan kebudayaan tersebut.

MENGENAL KOTA TARAKAN

Kota Tarakan merupakan satu-satunya kota di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia dan juga merupakan kota terkaya ke-17 di Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 250,80 km² dan sesuai dengan data Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana, Kota Tarakan berpenduduk sebanyak 239.787 jiwa. Tarakan atau juga dikenal sebagai Bumi Paguntaka, berada pada sebuah pulau kecil
Kota yang memiliki semboyan  “BAIS” (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera) ini memiliki empat kecamatan yaitu Kecamatan Tarakan Timur, Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Utara dengan total dua puluh kelurahannya yaitu
Berikut adalah daftar Kelurahan di Kota Tarakan:
1.    Kelurahan Karang Anyar
2.    Kelurahan Karang Anyar Pantai
3.    Kelurahan Karang Balik
4.    Kelurahan Karang Rejo
5.    Kelurahan Karang Harapan
6.    Kelurahan Pamusian
7.    Kelurahan Kampung 1 Skip
8.    Kelurahan Selumit
9.    Kelurahan Selumit Pantai
10.    Kelurahan Sebengkok
11.    Kelurahan Lingkas Ujung
12.    Kelurahan Gunung Lingkas
13.    Kelurahan Kampung 4
14.    Kelurahan Kampung 6
15.    Kelurahan Mamburungan
16.    Kelurahan Mamburungan Timur
17.    Kelurahan Pantai Amal
18.    Kelurahan Juata Permai
19.    Kelurahan Juata Laut
20.    Kelurahan Juata Kerikil
Secara geografis kota Tarakan yang bersetatus kota madya ini  terletak pada 3°14’23” – 3°26’37” Lintang Utara dan 117°30’50” – 117°40’12” Bujur Timur, terdiri dari 2 (dua) pulau, yaitu Pulau Tarakan dan Pulau Sadau dengan luas wilayah mencapai 657,33 km².
Adapaun batas-batas wilayah sebagai berikut :
•    Sebelah Utara : Kecamatan Pulau Bunyu
•    Sebelah Timur : Laut Sulawesi
•    Sebelah Selatan : Kecamatan Tanjung Palas
•    Sebelah Barat : Kecamatan Sesayap dan Kecamatan Sekatak
Suhu udara minimum Kota Tarakan rata-rata 24,1 °C dan maksimum 31,1 °C dengan Kelembabab rata-rata 84,7%. Curah Hujan dalam 5 tahun terakhir rata-rata sekitar 308,2 mm/bulan dan penyinaran rata-rata 49,82%, telah memberikan julukan tersendiri bagi pulau ini sebagai daerah yang tak kenal musim.

PRIBUMI TARAKAN
Suku tidung merupakan salah satu suku yang terdapat di Kalimantan Timur wilayah Utara, tepat nya di pulau Tarakan, Tanah Tidung, Bulungan, Nunukan dan Malinau. Suku tidung menganut agama islam dan mayoritas mendiami di pulau Tarakan, Tanah Tidung dan Nunukan. System mata pencarian hidup sebagai nelayan.
Suku tidung juga memiliki kekayaan kebudayaan yang di wariskan secara turun temurun seperti pesta rakyat yang biasa disebut dengan iraw tengkayu yang berarti pesta laut, upacara perkawinan, rumah adat, bahasa, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, cerita prosa rakyat seperti mite, legenda, dan dongeng,  kesenian seperti nyayian, dan tarian dan lain – lain. Tradisi tersebut telah lahir sejak zaman dahulu dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan keseharian.
Suku Tidung juga memiliki kerjaan besar yang induk kerajaan tersebut pada kerjaan Bulungan, sedangkan kerajaan Tidung berada di Tarakan dan daerahnya meliputi salimbatu. Pada zaman dahulu suku tidung juga dikenal dengan sebutan kaum Tenggara hal ini di kerenakan suku tidung memiliki pemimpin yang di lahirkan dari dinasti Tenggara.
Berdasarkan silsilah, sejarah kerajaan Tidung di mulai pada tahun 1076. Pada saat itu, di pesisir timur Pulau Tarakan tepatnya di kawasan Binalatung sudah ada Kerajaan Tidung kuno, yang berkuasa kira-kira sepanjang tahun 1076-1156. Setelah itu, tahun 1156 hingga tahun 1216, kerajaan berpindah lagi, namun tetap di sekitar pesisir barat  yakni di kawasan Sungai Bidang kira-kira pada tahun 1216-1394. Setelah itu berpindah lagi, ke kawasan Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning yang letaknya cukup jauh dari pulau Tarakan sekitar pada tahun 1394-1557.
Pada tahun 1557, Kerajaan Tidung menempati lokasi Pamusian wilayahnya di Tarakan sebelah Timur. Sejak Dinasti Tenggara tercatat mulai bertahta pertama kalinya melalui Raja Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet, yang berkuasa hingga tahun 1571. Setalah itu, secara turun temurun Dinasti Tenggara memimpin Kerjaan Tidung. Berikut adalah nama-nama keturunan Dinasti Tenggara yang pernah memimpin kerjaan sampai awal abad 20.
1.    Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
2.    Amiril Pengiran Dipati (1571-1612)
3.    Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
4.    Amiril Pengiran Maharajalilah I (1650-1695)
5.    Amiril Pengiran Maharajalilah II (1695-1731)
6.    Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
7.    Amiril Pengiran Maharajadinda (1731-1765)
8.    Amiril Pengiran MAharajalila III (1782-1817)
9.    Amiril Tadjoedin (1817-1844)
10.    Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
11.    Datoe Maolena/Ratoe Intan Doera (1867-1896)
12.    Datoe Adil (1896-1916)

JEJAK SEJARAH
DI KOTA TARAKAN

ERA HINDIA BELANDA
Ketenangan masyarakat setempat agak terganggu ketika pada tahun 1896, sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menemukan adanya sumber minyak di pulau ini. Banyak tenaga kerja didatangkan terutama dari pulau jawa seiring dengan meningkatnya kegiatan pengeboran. Mengingat fungsi dan perkembangan wilayah ini, pada tahun 1923 Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang Asisten Residen di pulau ini yang membawahi 5 (lima) wilayah, yakni: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau. Namun pada masa pasca kemerdekaan, Pemerintah RI merasa perlu untuk mengubah status kewedanan Tarakan menjadi Kecamatan Tarakan sesuai dengan Keppress RI No. 22 Tahun 1963
ERA PENDUDUKAN JEPANG
Pada saat pendaratan Sekutu, angkatan Jepang di Tarakan berjumlah 2.200 orang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Satuan terbesar adalah Batalion Infantri Independen ke-455 yang berkekuatan 740 orang yang dikomandoi oleh Mayor Tadai Tokoi. 150 pasukan pendukung AD juga ada di Tarakan. Sumbangan AL kepada garnisun Tarakan tersusun atas 980 pelaut yang dikomandoi oleh Komandan Kaoru Kaharu. Satuan laut utama adalah Angkatan Garnisun Laut ke-2 yang berkekuatan 600 orang. Satuan laut ini dilatih bertempur sebagai infantri dan mengoperasikan beberapa senapan pertahanan pesisir. 350 pekerja minyak sipil Jepang juga diharapkan bertempur pada saat serangan Sekutu. Angkatan Jepang termasuk sekitar 50 orang Indonesia yang berdinas di satuan pengawal pusat. Mayor Tokoi mengarahkan keseluruhan pertahanan Tarakan, meskipun hubungan antara AL dan AD buruk.
Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, pelabuhan utama Tarakan dan tempat satu-satunya pantai yang cocok untuk pendaratan pasukan. Pembela itu telah menghabiskan waktu beberapa bulan sebelum serangan yang menyusun posisi bertahan dan menanam ranjau.[6] Pertahanan yang diatur itu banyak dipakai selama pertempuran, dengan taktik Jepang yang difokuskan pada posisi bertahan pra-persiapan yang kuat. Jepang tak melakukan kontra-serangan besar apapun, dan kebanyakan gerakan menyerang terbatas pada beberapa pihak penyerang yang mencoba menyelusup garis Australia.[7]
Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan garnisun Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari di mana separuh pasukan Belanda gugur. Saat ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944.

Menyusul penyerahan Belanda, 5.000 penduduk Tarakan amat menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan dan sebagai akibatnya banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai “jugun ianfu” (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.[9]
Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat pada tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu.[10] Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia.[11] Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, garnisun Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.

ERA KEMERDEKAAN
Letak dan posisi yang strategis telah mampu menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan Timur bagian utara sehingga pemerintah perlu untuk meningkatkan statusnya menjadi Kota Administratif sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1981.
Status Kota Administratif kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-undang RI No. 29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997, sekaligus menandai tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Kota Tarakan.
Sejak tahun 2012, Kota Tarakan merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, seiring dengan pemekaran provinsi baru tersebut dari Provinsi Kalimantan Timur

FOKLOR BUMI PAGUNTAKA
LEGENDA, NYAYIAN DAN ADAT ISTIADAT
Suku Tidung sangat memiliki khasanah tradisi yang sangat unik dan mangandung pesan moral yang sangat mendalam. Tradisih tersebut dituangkan dalam bentuk cerita rakyat yang melegenda, dalam bentuk kesenian berupa  nyayian sekaligus menjadi media hiburan, dan adat istiadat berupa upacara dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa cerita-cerita rakyat dalam bentuk legenda, nyayian, dan adat istiadat:
1.    Cerita Rakyat
Suku tidung memiliki cerita-cerita rakyat, baik yang bersifat dongeng maupun legenda. Cerita-cerita ini diwariskan secara turun temurun atau dari generasi ke generasi yang biasanya disampaikan sebagai pengantar tidur anak dan menjadi cerita hiburan masyarakat suku Tidung. Cerita rakyat tersebut diantaranya:
BETAWOL
Di daerah sebuku hiduplah seorang pemuda yang bernama betawol. Suatu hari ia pergi berburuh dengan membawa beberapa ekor anjing untuk menemani dirinya. Hingga hari menjelang sore Betawol belum juga mendapatkan hasil buruannya. tiba-tiba anjing yang ia bawa menggogong dengan suara yang sangat aneh tidak seperti ketika anjing peliharaanya melihat buruannya. Betawol pun bertanya-tanya dalam hati dan melihat daerah sekitarnya tapi tidak melihat sesatu yang diinginkannya kemudian dengan rasa penasaran ia memanjat pohon dengan maksud untuk melihat lebih jauh lagi. Di atas pohon, Betawol melihat 7 (tujuh) wanita cantik sedang mandi sambil bercanda ria di kolam. lalu ia mendekati dengan cara mengendap-endap. kemudian mengambil dan menyembunyikan baju dari salah satu wanita tersebut. Ketika wanita-wanita tersebut selesai mandi mereka pun memakai pakaian mereka lalu satu persatu  terbang  melayang. Betawol pun menyadari bahwa mereka merupakan bidadari. Salah satu diantara mereka tidak bisa terbang dikarenakan baju yang ia miliki disembunyikan oleh Betawol. Bidadari tersebut mencari-cari baju miliknya. tiba-tiba, betawol datang menghampiri sehingga bidadari tersebut terkejut lalu ia menanyakan baju yang ia cari kepada batawol akan tetapi jawaban dari betawol berbada dari pertanyaan wanita tersebut. Betawol hanya mengungkapkan rasa kekaguman dirinya terhadap kecantikan bidadari itu tanpa memperdulikan pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya. Terjadi pembicaraan diantara mereka lalu Betawol mengajak bidadari tersebut ke kemapungnya, kemudian Betawol menjadikan bidadari tersebut sebagai istrinya.Dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup seperti manusia biasa dan dari hasil perkawinannya mereka memiliki seorang anak.
Suatu hari di desa mereka sedang mengadakan iraw (pesta adat). Dalam acara iraw tersebut sangat banyak kegiatan yang dilakukan seperti tarian, dan nyayian. Dikarenakan istri betawol merupakan wanita yang sangat cantik masyarakatpun menginginkan istri Betawol yang bernama dayang dadari untuk menari sehingga dapat dilihat kecantikan nya. Akan tetapi permintaan tersebut tidak langsung di penuhi oleh dayang dadari ia menolak akan tetapi masyarakat terus memaksa sehingga dayang dadari mengajukan satu syarat yaitu ia akan menari dengan menggunakan baju yang disembunyikan oleh suaminya. Suamipun menyanggupi syarat tersebut lalu memberikan baju dayang dadari untuk digunakan menari.  Dalam tarian masyarakat tidak menyadari bahwa dayang dadari telah menari tetapi kaki tidak lagi menyentuh tanah hingga masayarat dan suaminya barulah menyadari hal tersebut ketika dayang dadari telah berada diatas ketinggian suaminya pun meminta sang istri untuk turun tetapi dayang dadari tidak menghiraukannya tetap saja menari sambil terbang mengarah ke laut diikuti oleh Betawol sambil terus memanggil istrinya untuk turun kembali.
Dalam pengejarannya dayang dadari sempat berdiri di atas batu (batu tinagat) yang berada di tengan laut   ia pun menghampiri dan meminta dengan segala bujuk rayunya agar sang istri untuk turun tetapi sang istri tidak juga turun. Betawol pun menabang batu tersebut dengan usaha yang sangat keras sehingga membuat hati dayang dadari kasian dan berkata “jika ingin bertemu denganku maka tunggu lah di muara sungai sebuku pada air mulai pasang” kemudian ia terbang lagi dan menghilang. Betawol segara kembali pulang dan menjemout anaknya untuk dibawah ke muara sungai sebuku untuk menunggu istrinya. Tiba waktu air dalam keadaan pasang maka datanglah gelombang yang cukup besar menghampiri betawol dan anaknya tiba-tiba muncullah dayang dadari yang berdiri di atas gelombang tersebut. Kemudian Betawol pun menarik tangan anaknya untuk terjun ke air kemudian mereka hilang diseret gelombang.

Amanat cerita menggambar tentang cinta dan kasih sayang seorang pria dari manusia kepada istrinya yang berasal dari bidadari.

BENAYUK
Benayuk merupakan kisah dari Menjelutung tepat di daerah Kecamatan Sesayap, awal kisah Benyuk dimulai dari sebuah kampung yang didaerah tersebut terpat sebuah pohon yang bernama tenggilang yang diyakini oleh masyarakat kampung tersebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Dikarenakan kampung tersebut masyarakatnya tidak pernah sakit maka tidak ada orang yang meninggal. Hal ini berbeda dengan dua kampung yang berada disekitarnya yang mengenal dengan kematian.
Suatu ketika masyarakat Benayuk ingin melaksanakan upacara Iraw Bengkayan yang berarti pesta kematian. Dikarenakan mereka tidak dapat mati maka mereka memutuskan untuk mengambil ikan yang sangat besar lalu dibungkus seperti orang yang sedang mati setelah itu mereka melaksanakan iraw Bengkayan yang dalam acara tersebut sebagian oleh mereka menangis dan yang lainya menikmati pesta minum-minuman dan bersenang-senamg.
Ditengah kelangsungan acara Iraw Bengkayan tiba-tiba petir benyambar yang disebut dengan gasam yang dikuti dengan hujan yang sangat lebat. Sehingga menenggelamkan semua masyarakat kampung tersebut.
Pada saat acara Iraw Bengkayan suami Benayuk sebagai putra mahkota raja tidak mengikuti dan berada di kampung yang lain. Ketika pulang ia sangat terkaget dikarenakan kampungnya tenggelam dalam perjalanan yang temani oleh pengawal ia mendengar suara dari istrinya yang berasal dari pusaran air lalu ia juga menemukan topi milik Benayuk yang disebut dengan kedabang keyakinannya bertambah ketika melihat bayangan istri muncul dari pusaran air, ia pun terjun ke dalam pusaran air. Secara tiba-tiba pengawal yang turut menemaninya mendengar suara nyayian yang berasal dari pusaran tersebut.
Amanat dari cerita tersebut bahwa manusia tidak boleh memain-mainkan binatang dan mensukuri nikmat kehidupan dari Tuhan yang maha Esa.
KIMO KAJANG
Suatu kampung tinggalah seorang ibu dan anak laki-laki yang bernama alung  yang hidup secara sederhana. Setiap hari sang ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sedangkan alung  setiap hari hanya bermain. Hari-hari ibunya mencari ikan disungai yang tidak jauh dari rumah mereka  untuk dijadikan makanan.
Suatu hari ibunya mencari ikan disungai tersebut akan tetapi hari menjelang siang hanya seekor ikan yang ia dapatkan. Sehingga ia pulang dengan membawa ikan tersebut untuk dimasak dan dijadikan lauk. Setelah selesai memasak sang ibu kembali lagi mencari ikan di sungai namun ia tidak mendapatkan hasil tanggapan.
Sang ibu kembali pulang kerumah. Sesampainya dirumah, ia terkaget dikarenakan semua masakannya dihabiskan olah alung. Ia pun kembali mencari sayuran yang dapat dijadikan lauk. Dalam pencarian ia menumakan papaya muda yang berada di pinggir tebing. Sang ibu berupaya untuk mengambil buah papaya tersebut namun terjatuh  yang kemudian masuk kedalam dasar sungai yang ada Kimo kajang sehingga ia di telan.
Sayup-sayup sang anak mendengar suara ibunya memanggil-manggil anaknya. Sang anakpun berlari mencari sumber suara. Alangkah  terkagetnya ia melihat ibunya hampir seluruh badanya di telan kimo kajang dan alungpun berlari mengejar ibunya akan tetapi setelah ia mendekat sang ibu hanya tersisah rambut. Secara perlahan alung mendengar pesan ibunya.
Selamat Tinggal Alung…jaga dirimu baik-baik… kemudian alung sempat bertanya pada ibunya mengapa hal ini bisa terjadi.. ibunya menjabawa bahwa ibu telah sendapan karena tidak sempat memakan hidangan siang.

NYAYIAN RAKYAT
Salah satu bentuk kesenian yang diwariskan secara turun-temurun dan bersifat tradisional adalah nyayian rakyat. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Suku tidung juga memiliki khasanah kebudayaan nyayian rakyat yang tetap terpelihara hingga saat ini. Nyanyian rakyat tidung beraneka ragam temanya mulai yang bersifat historis hingga yang bermakna kehidupan manusia.

BEBALEN
Pesan

Inindang … Inindang
Menari … Menari

I yadu yaki
I nenek kakek

Bebilin yadu yaki (2X)
Pesan  nenek kakek

Nyusub de labu bebilit (2X)
Surutnya labu memilit

Penembeyud ne de pikir (2X)
Teriring pesan untuk di pikir

Impeng ne de lunas insuai (2X)
Tidak menghendaki dasar perahu untuk bercerai

Sapu tangan jingga
Sapu tangan berwarna jingga

Sapu tanggan jingga – jingga
Sapu tangan warna jingga jingga

Mapit ke gulu injakin (2X)
Singga sebentar

Buei kati intamu (2X)
Lama sudah kita tidak bertemu

Betapap maya bedindang (2X)
Betepuk kita menari

Katul ku lesakan
Gusung di waktu surut

Maneng katulku lesakan
Betul gusung di waktu surut

Maneng katulku lesakan (2X)
Betul gusung di waktu surut

Suang lubeku indalem (2X)
Banyak teluk yang dalam

Besapai ke ki de nunuk (2X)
memanjat pohon beringin

Nupe ke sangakad sie (2X)
Tidak pernah akan terjangkau

Lakiu anak tambang
Berteriak si anak rusa

Laki lakiu anak tambang
Berteriak teriak si anak rusa

Lakiu anak tambang (2X)
Berteriak si anak rusa

Guang naked de pisau (2X)
Hendak memanjat pohon kelapa

Kalap ke ki naked sie (2X)
Hendak memanjat pohon kelapa

Belinggage upun nane
Dapatkah engkau memanjatnya

Belinggaga upun nane (2X)
Banyak semut besar

Ku teganak kandis
Kayu kecil  buah kandis

Maneng ku teganek kandis
Sebatang kayu kecil buah kandis

Maneng ku teganek kandis (2X)
Sebatang kayu kecil buah kandis

Layau ni adan ku gine (2X)
Begitulah merunduk dahan ku

Sembalayan awei lumet (2X)
Serumpun rotan kecil

Batan tembalei ku kie (2X)
Hanya cukup untuk pondok bagiku

Makna filosofis yang terdapat pada lagu bebalen adalah utamakan persatuan hindarkan perpecahan, seorang harus memiliki jati diri sekalipun ia tidak memiliki harta tetapi ia akan di hormati, seseorang yang harus memiliki cita-cita yang tinggi, seseorang yang memiliki kemampuan dalam mengahadapi masalah dapat muda diselesaikan.

BELADAW

Beladaw gilambey beladaw
Beladaw melambai beladaw

Gilambe lambay beladaw
Melambai lambai beladaw

Gilambey beladaw gilamdey beladaw
Melambai beladaw melambai beladaw

Gilambey lambey beladaw
Melambai lambai beladaw

Beladaw beladaw beladaw

Piasau nakod de piasaw
Memanjat pohon kelapa

Gium dupun anu disaw
Dari pohon yang rendah

Tenugos de pataw (2X)
Membuat santan

Lutu maya de siyandaw
Bekal pergi ke siandaw

Beladaw beladaw beladaw

De padaw imbusay de padaw
Di perahu mendayung di perahu

Ngayas lala dasam mindauw
Bergegas taku turun hujan

Intad de si yaudaw (2X)
Dari si andaw

Bagu muli makow ngambaw
Baru pulang menangkap kepiting

Beladaw beladaw beladaw

DI GANDANG
Ke heranan

Ina madui gandang, gandang guruki gurandang (2X)

Di gandang …. Di gandang … di gandang

Ndang dudu jamban senengkilang, ina madui gandang
Kamu berjalan di atas jembatan kayu,

Samamu ligad senunsui
Jembatan itu jangan bergoyang saat di lewati

Lala di yujang ke tundang, ina madni gandang
Takut paman jatuh

Yujang ngibit de kuntika
Paman membawa buku pedoman

Ina madui gandang, gandang guruki gurandang (2X)

Di gandang … di gandang … di gandang

Katu – katub buan bebal, ina madui gandang
Bejatuhan buah bebal

Ketundang de langas tawa
Jatuh di padang lumbur yang luas

Imaniman yuti mundut, ina madui gandang
pemuda yang kecewa memungut buah

Tandes ne buai belimpung
Dia menyangka itu buah yang bundar

Ina madui gandang, gandang, gandang guruki gurandang (2X)

Di gandang … di gandang … di gandang

Beguntung tanan Tarakan, ina madui gandang
Beruntung tanah Tarakan

Bayan bintang gidedatu
Ada bintang jatuh di sana

Manengi kati bepiat, ina madui dangan
Walapun di tidak berkilau

Belindada de linuang
Berbayangan ke daerah lain

Ina madaui gandang, gandang guruki gurundang (2X)

Di gandang …. Di gandang … di gandang

UNTUN BELANAY

Musay de padaw pelitulituk
Mendayung perahu seorang diri
Tudung dedulung padaw tepilay
Pedayung duduk di haluan

Damo Talu guang beiluk
Kami hendak menari
Beiluk jepin untun belanay
Menari jepin untun belanay

Nitik degambus tabid sepuluh
Memetik gambus senar sepuluh
Ransak ketipung tugos siramay
Irama pukulan ketipung membuat dia menjadi ramai

Jepin inumbak damu talu
Jepin kami mainkan
Iluk no nggalan duntun belanay
Tariannya bernama duntun belanay

Baloy mayo begatap sirap
Gedung beratap sirap
Betingkot talu atap meligay
Bersusun tiga atap mahligai

Kasino sala malok no map
Mohon maaf kalau ada salah
Mulow ni jepin untun belanay
Berhenti dulu tarian jepin untun belanay

Untun Belanay merupakan jenis pantun yang di yang di lagukan. Hal ini dapat dilihat dari sajak yang memiliki a-a sehingga ini dapat dikatagorikan sebagai sastra lisan yang berjenis pantun. Pantun yang berbahasa tidung ini membuktikan bahwa suku tidung telah memiliki kebudaan sastra yang sangat tinggi.

SUARA SIAM
Suara Sembilan

Bulu serapun mai neramu
Serumpun bambo habis di ambil
Tugos buyagan penakay mintu
Membuat buyagan (tempat ikan) di pakai memancing

Sedungan taka kalap intamu
Senang kita dapat bertemu
De adow bais de baya gitu
Di hari yang baik di tempat ini

Buan lansat benungkus dayam
Buah langsat di bungkus pakai tikar
Guang pengitak danak iujang
Untuk di berikan pada anak si paman
Jepin kinsat suara siam
Jepin kinsat suara sembilan
Jika inumbak pantun bedindang
Jika di mainkan pantun dinyayikan

Pasok urut linuang kayam
Deras air surut di linuang kayam
Nyasak nelisir sawa temanga
Kalau melawan arus jangan di tengah
Jepin kinsat suara siam
Jepin kinsat suara sembilan
Mbak umbak laid tantu iningga
Permainan lama tentu di sayangi

Abun gabur sumbul pemulu
Abun gabur sumbul pemulu (nama benda yang terbuat dari kuningan)
Guang si bulay bais benagu
Kalau mau bersih sebaiknya di cuci
Jepin kinsat mulow ni gulu
Jepin kinsat berhenti dahalu
Senggilan adow intamu bagu
Kapan-kanpan kita bertemu lagi

Iluk Tengkayu
Anak melayu intad de umo
Anak melayu dari ladang
Ngibit pelampung batang pesana
Membawa pelampung dari batang gambus
Iluk tengkayu inumbak damo
Tarian pesisir kami mainkan
Nitik ketipung gendang rebana
Membunyikan ketipung, gendang, rebana

Dasam bebilis tada belintung
Hujan gerimis tampak pelangi
Mindaw bejiyu putri kayangan
Turun mandi putri kayangan
De adow bais taka intimung
Di hari baik kita berkumpul
Iluk tengkayu rati sedungan
Tarian pesisir artinya senang

Indulung baya mukot pesayan
Indulung tempat memukat udang pesayan
De mamburungan baya besamu
Di mamburungan tempat mengambil bahan bangunan
Intimung taka bekeremayan
Kita berkumpul untuk beramai-ramai
Nyawo sedungan taka intamu
Hati senang kita bertemu

Ka buan lampun mupok ku tending
Kalau buah durian jatuh
Tantu ni bua nu mansak dupun
Itulah buah yang sudah matang
Bepantun damo bedindang
Berpantun kami bernyayi
Dagu besuja andang semusun
Kata bersajak memang bersusun

TARIAN KEBUDAYAAN
Khasanah kebudayaan juga terlihat dari tarian-tarian yang dimiliki oleh kaum Tenggara (sebutan suku tidung) yang sering ditampilkan pada acara adat, aca penyambutan dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan waktu tarian ini mendapatkan sambutan yang hangat pada seluruh masyarakat Tarakan dan pemerintah kota Tarakan. Menjamburnya sangar-sangar tari tradisional yang ada di kota Tarakan sebagai bukti bahwa tradisi ini tetap dipelihara atau dipertahankan sebagai warisan yang memiliki identitas seni yang tinggi.

UPACARA ADAT
UPACARA ADAT BESITAN
Upacara adat besitan merupakan upacara adat suku tidung yang bertujuan untuk mengobati orang yang sedang sakit. Dalam upacara besitan digunakan alat kesenian yang disebut dengan kulintangan atau sejenis gamelan, gendang, rebana, biola, dan tumpung atau suling. Kemudian di dalam acara tersebut terdapat pula orang yang disebut penyidit yaitu seseroang yang bertugas untuk melantunkan nyayian kemudian seorang yang dijadikan mediator untuk menyembuhkan dengan cara dirasuki oleh roh-roh.
Setelah roh memasuki tubuh mediator terlebih dahulu roh tersebut akan menjelaskan penyakit yang diderita oleh pasien kemudian sang roh akan memberikan arahan untuk mengambil obat-obatan yang berasal dari alam seperti daun-daunan, akar-akaran dan buah-buahan yang nantinya akan dijadikan ramuan kesembuhan pasien.
UPACARA IRAW TENGKAYU
Iraw tengkayu yang berarti pesta rakyat adalah tradisi upacara adat suku tidung yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa sukur atas hasil panen yang diperoleUpacara ini dilakukan semenjak suku tidung belum mengenal islam hingga sekarang. Dalam proses perjalanannya upacara adat iraw tengkayu mengalami penyesuaian terhadap agama islam hal ini dikarenakan islam merupakan agama kepercayaan dari suku tidung. Dalam acara tersebut terdapat sebuah perahu yang disebut padaw tujuh dulung yang berarti perahu tujuh haluan. Perahu ini berbeda dengan bentuk perahu lainya dikarenakan bentuk dari ujung perahu terbagi tiga, kiri dan kanannya bertingkat dua dan tengahnya bertingkat tiga sehingga jumlah keseluruhanya tujuh yang memiliki makna jumlah hari dalam seminggu sebagai aktifitas keseharian manusia.
Kemudian warna yang terdapat pada perahu berjumlah tiga warna yaitu kuning, hijau dan merah. Warnah kuning mendominasi warna perahu dan ditempatkan paling teratas yang bermakna ditinggikan, dimuliakan dan dihormati. Sedangkan warna hijau yang bermakna agama islam dan warna merah merupakan sikap keberanian. Kemudian di tengah perahu terdapat lima tiang yang berdiri melambangkan jumlah sholat lima waktu yang diikat dengan kain yang disebut dengan pari-pari, diambil dari nama ikan pari dikarenakan sifat ikan pari yang berada didasar laut tidak mudah digerakan sehingga makna filosofisnya melambangkan keteguhan dari suku tidung.
UPACARA PERKAWINAN
Suku tidung memiliki tradisi adat perkawinan. Tradisi ini telah berjalan pada setiap generasi dari suku tidung. Prosesi dari adat perkawinan suku tidung memiliki beberapa tahap diantaranya :
GINISINIS
Merupakan tahapan pertama ketika seseorang yang ingin menikah. Tahapan ini merupakan perjodohan dimana seorang pria yang dicarikan wanita yang nanti akan dijadikan istri. Pria tersebut tidak pernah melihat wanita yang dimaksud sampai nanti akan dipernalkan kepada dirinya. Peran ginisinis sangat menentukan terhadap kecocokan seorang pria dan wanita dan ketika didapatkan kecocokan maka akan berlanjut pada tahap selanjutnya
BESERUAN
Setelah mendapatkan kecocokan antara pria dan wanita maka tahapan selanjut adalah beseruan yaitu prosesi lamaran yang dilakukan oleh pihak pria kepada wanita dengan cara pihak dari keluarga pria mendatangi keluarga pihak wanita dan sebelum membicarakan inti dari lamaran maka terlebih dahulu pihak pria memberikan cindra mata yang biasanya bentuk perhiasaan cincin. Pemberian cintra mata ini dinamakan buka sungut.  Ketika pemberian tersebut telah diterimah barulah pembicaraan dimulai. Selama pembicaraan tuan rumah tidak akan memberikan hidangan kepada keluarga pria kemudian ketika mendapatkan kata sepakat  barulah hidangan akan diberikan kepada keluarga pria yang menandakan lamaran diterimah.
NGANTON DE PULUT
Acara selanjut adalah ganton de pulut yang berarti mengantar mas kawin. Mas kawin merupakan hasil kesepatan pada saat beseruan yang menjadi kewajiban untuk di penuhi oleh calon mempelai pria untuk diantar kerumah calon mempelai wanita.
KAWIN SURU
Kawin suru merupakan rangkaian acara lanjutan dari nganton de pulut dimana dalam acara ini merupakan akad nikah atau peresmian pernikahan. Di dalam acara kawin suru atau akad nikah sebelum mempelai pria masuk kedalam rumah  ia akan melakukan tradisi dimana mempelai pria diberikan dua wadah atau tempat yang satunya berisi beras berwarna kuning yang bermakna rezeki dan yang wadah satunya berisi air yang bermakna kesejukan dalam berumah tangga. Wadah yang berisi beras berwarnah kuning akan diambil segengam oleh mempelai pria untuk dicium dan memasukannya ke dalam wadah yang berisi air. Setelah prosesi itu selesai barulah mempelai pria masuk kedalam rumah untuk melakukan akad nikah.
Dalam acara akad nikah dari rangkaian kawin suru, mempelai wanita tidak di perlihatkan kepada tamu undangan. Mempelai wanita berada di dalam kamar. Setelah prosesi kawin suru selesai mempelai pria akan dipertemukan kepada mempelai wanita yang diantar oleh beberapa orang tua menuju kamar mempelai yang kemudian melakukan tradisi sumbung gabol dimana kedua mempelai masuk kedalam satu sarung yang kemudian secara cepat untuk keluar dari sarung tersebut.
BEPUPUR
Acara selanjut adalah bepupur yang dilakukan di malam hari. Acara ini dilaksanakan di rumah masing-masing akan tetapi jika salah satu dari pihak mempelai berbeda kampung maka akan dilaksanakan secara bersama-sama. Acara bepupur yaitu diamana mempelai wanita dan mempelai pria di berikan pupur dingin yang dibuat oleh masing-masing keluarga yang nantinya akan saling bertukar antar kedua keluarga mempelai. Dalam prosesi acara bepupur akan diiringi dengan kesenian hadra  yang kemudian dilanjutkan dengan acara selanggo yaitu acara ini masing mempelai di pakaikan pewarnah kuku yang berwarnah merah yang berasal dari daun-daunan.
BEBANTA ATAU BESANDING
Setelah rangkaian acara bepupur yang dilakukan pada malam hari maka keesokan harinya dilanjutkan dengan acara bebanta atau besanding. Sebelum acara besanding di mulai terlebih dahulu dilakukan acara arak- arakan dari keluarga pria menuju rumah keluarga wanita. Dalam acara arak-arakan akan diringi dengan kesenian hadra yang kemudian diacara tersebut juga akan dibawah beberapa perlengkapan yang diantaranya busak dia yang berarti bunga lilin, sedulang berupa cindra mata yang berbentuk piring, gelas, dan sendok, dan nasi pengantin.
Setelah rombongan arak-arakan tiba di halaman rumah maka kesenian hadra yang menjadi pengiring berhenti, yang kemudian keluarga wanita mengutus salah satu dari pihak keluarga untuk menjemput rombongan pihak mempelai pria dengan membacakan selawat nabi dan melemparkan beras kuning yang kemudian barulah keluarga pria memasuki rumah wanita.
Ketika rombongan memasuki rumah akan diringi musik kulintangan dan menyayikan lagu taliwuda yang berarti raja berangkat setelah itu mempelai pria berdiri di depan pelaminan yang disebut pagau yang kemudian akan melakukan prosesi pugau-pagau yaitu semua undangan yang hadir akan memberika hadiah berupa uang yang dimasukan kedalam tempat yang telah disediakan. Setelah itu dilanjutkan tradisi membuka tabir berupa kain yang menutupi pelaminan yang berlapis dua, setelah itu mempelai pria akan melewati satu tahap dimana wajah dari mempelai wanita tutupi dengan kipas yang dipegang oleh seseorang yang sebut ina pengantin yang nantinya akan di buka oleh mempelai pria. Setelah semua terbuka maka mempelai pria akan memegang pergelangan tangan wanita bertanda di ijinkan nya pria duduk di samping kanannya. Setelah duduk mempelai akan melakukan prosesi saling menyuap nasi pengantin yang bermakna saling berbagi kemudian meniup lilin yang bermakna masa remaja telah berkhir.
Dalam acara bebanta atau besanding sesorang akan membacakan tulisan yang disebut dengan kerangan yang berisi tentang maksud dan tujuan acara serta ucapan termah kasih kepada tamu undangan yang hadir dan pihak-pihak yang membantu.
Setelah pembacaan kerangan maka akan dilanjutkan dengan tarian iluk beguna sejenis tarian penghormatan yang dipersembahkan pada tamu undangan yang telah hadir.
KIWON TELULANDO
Kiwon talulando yang berarti malam ketiga merupakan acara lanjutan dari prosesi perkawinan. Acara ini dilakukan pada malam hari dimana akan dihadiri undangan yang kemudian di isi oleh ajara hiburan jepin sejenis tarian. Setalah undangan pulang maka akan dilanjutkan dengan acara menyayikan lagi bebalon yang dilakukan hingga pagi hari. Sementara acara menyayikan lagu bebalon barulah kedua mempelai masuk kedalam kamar dan dapat melakukan hubungan suami istri.
Dalam acara kiwon telulando diadakan pula acara sedulang sebagai rangkaian di dalamnya yaitu peralatan makan akan di bersihkan dan dibagikan pada kerabat keluarga.
BENIUK
Pada subuh hari mempelai wanita akan dimandikan oleh beberapa orang tua yang diringi dengan music hadra acara ini dinamakan beniuk.
BETAMOT
Setelah acara beniuk selesai maka dilanjutkan dengan aca betemot pada pagi hari yaitu acara ini mempelai pria akan menamatkan bacaan Al-Quran. Acara betemot tidak menjadi wajib ketika mempelai pria telah melaksanakan acara betemot Al-Quran sebelum ia menikah
BEBALOI
Pada siang hari setelah acara betamot di lakukan maka dilanjutkan dengan acara bebaloi yaitu keluarga dari mempelai wanita akan berkunjung kerumah keluarga mempelai pria. Sesampainya dirumah keluarga pria maka kedua mempelai akan melakukan upacara yang dinamak kidau betuap upun lading yaitu mempelai pria akan mengijak batu, gigit pisau dan minum air putih yang bermakna keteguhan dalam menjalani keluarga.  Dan ketika acara kunjungan tersebut dilakukan, dirumah keluarga mempelai wanita diadakan acara acara pembokaran tenda-tenda dan peralatan perkawinan yang menandakan acara perkawinan telah selesai.
UKIRAN SUKU TIDUNG
Seni ukir juga telah dikenal oleh suku tidung yang menjadi bagian dari seni kebudayaan  foklor setengah lisan. Hasil ukiran biasanya dijadikan sebagai hiasan rumah atau menjadi motif gambar pada media lain seperti baju dan lain sebagainya. Ciri khasi dari motif ukiranya adalah dua naga yang saling berhadapan atau saling membelakangi.

SEBUTAN KEKERABATAN

No    Nama kekerabatan    Sebutan Kekeraban
1.    Kakek    Yaki
2.    Nenek    Yadu
3.    Ibu    Ina
4.    Ayah    Yama
5.    Kakak    Yakak
6.    Paman    Ujang
7.    Bibi    Acil
8.    Sepupu    Telengado
9.    Cucu    Ingkupu
10    Adik     Yadik
11.    Ipar     Iras
12.    Keponakan    Kemenakon
13.    Panggilan Kepada seseorang yang telah memeliki anak     Man i
14.    Suadara orang tua yang lebih tua    Aya
15.

GELAR KEBANGSAWAAN

No    Nama    Gelar Kebangsawaan Tidung
1.    Raja Utama/Bangsawaan Tertinggi     Sultan
2.    Gelar bangsawaan yang diberikan kepada seseorang karena jasanya atau dari keturunan dari sultan    Pengiran
3.    Kerabat Raja/keturunan dari keluarga sultan    Datu
4.    Gelar Bangsawaan yang diberikan sebagai tanda penghormatan dan jasa seseorang    Aji
5.    Seseorang yang bergelar haji    Puaji
6.    Raja Sembakung    Andin
7.    Perempuan dari keturunan Sultan    Pengiyan
8.    Perempuan dari keluarga Sultan    Dayang
9.    Gelar yang diberikan kepada seseorang yang bertugas sebagai orang yang bekerja mengurusi kapal    Kimas
10.    Pemuka Agama dari keturunan Arab    Habib

TARAKAN WAJAH BARU
Jika merujuk pada penetapan Tarakan sebagai kota madya pada tahun 1997 maka usia kota ini masih tergolong muda. Namun dalam proses perkembangannya kota yang dijuluki dengan kota penghasil minyak ini memiliki kemajuan yang sangat pesat. Hal itu tidak terlepas dari semua elemen masyarakat Tarakan yang bersatu pada dalam memajukan kota Tarakan sebagai kota yang moderen. Secara goerafis letak kota Tarakan sangat strategis hal ini menjadi keberuntungan untuk pengembangan di bidang jasa di tambah dengan kekayaan laut yang berlimbah sehingga hasilnyapun mampu menopang ekonomi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan yang bermuara pada pendapatan daerah.
Kepimpinan oleh kepala daerah sebagai ujung tombak dalam melakukan perubahan juga menajadi bagian yang tidak terlepas dalam membenah kota ini hingga mendapatkan penghargaan adipura secara berturut-turut. Secara bertahap kota ini mulai menampakkan wujudnya baik di bidang sosial, pendidikan, dan lain sebagainya.
Dialah  dr. Yusuf Sk. Sebagai walikota Tarakan sosok pria yang memiliki jiwa kepemimpinan dan berpikir visioner. Hampir sudut kota ini tidak luput dari pandangannya. Secara bertahap semenjak ditetapkan sebagai walikota Tarakan dirinya mulai melaksanakan tugasnya. Pembendahan dari mulai sistem drainase yang diperlancar agar tidak menimbulkan banjir, kemudian pasar yang dahulu sangat kumuh berupa menjadi pasar yang sangat bersih dan moderen demikian juga di bidang pembangunan pendidikan hampir seluruh sekolah semua jenjang pendidikan berlantai tiga dengan harapan dapat melahirkan generasi yang unggul. Semangat perubahan untuk memajukan kota Tarakan di manifestasikan dalam bentuk sebuah slogan yang sangat populer yaitu Tarakan The Litte Singapore atau singapore kedua, merujuk pada keindahan dan kenyaman negara singapore dan letak goerafis yang sama maka Tarakan sangat percaya diri dalam mewujudkan seperti halnya negara negera yang dijuluki dengan negara “singa” yang selalu didampingi oleh wakilnya yaitu H. Thamrin. Kedua pria ini sangat memiliki peran yang besar dan keduanya pun tidak pernah berpisah dalam kepemimpinan pada dua priode jabatan.

PTK IPA OLEH JEPRIDIN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru SD dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.
Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model- model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi.
Kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran IPA. Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses
pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar IPA siswa

Tabel 1 Nilai rapor untuk mata pelajaran IPA Tahun Ajaran 2009/2010

Tahun Ajaran Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-Rata
2008/2009 6,34 3,78 5,06
2009/2010 7,26 4,26 5,76
2010/2011 6,82 3,96 5,39

Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA munjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera.
Berdasarkan hal tersebut diatas, penerapan model pembelajaran interaktif menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA.
Penelitian ini dilakukan peneliti yang bertugas sebagai mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan pada jurusan pendidikan guru sekolah dasar yang berkolaborasi dengan guru-guru Dengan berlolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif. Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa.
Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50)
Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebgai berikut.
1. Bagaimana desain model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
2. Bagaimana menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dalam pembelajaran IPA di SD?
3. Bagaimana kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
4. Apakah dengan kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
5. Bagaimana kreaktivitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
6. Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok?
C. CARA PEMECAHAN MASALAH
Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di SDN 002 Tanjung Palas perlu segera ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi, apabila kreaktifitas siswa dalam pembelajaran juga tinggi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat kreatifitas siswa saat penelitian dilaksanakan masih rendah, kinerja siswa menunjukkan fenomena sebagai berikut guru jarang membimbing siswa dalam diskusi tentang topik-topik IPA, guru jarang memberikan pertanyaan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena guru kurang memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada masalah/materi yang tidak/kurang dimengerti.
Pembelajaran yang ada lebih terpusat pada guru, bukan kepada siswa. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi yang mengisyaratkan pembelajaran harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa. Hal ini dapat tercapai apbila kinerja belajar siswa ditingkatkan, sehingga guru hanya berperan sebagai fasiltator, motivator dan organisator.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD SDN 002 Tanjung Palas, menerapkan model pembelajaran interaktif sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belajar IPA, dapat lebih optimal lagi apabila dilakukan melalui kerja kelompok. Rencana penerapan model tersebut dapat dilihat pada skema berikut.

PERSIAPAN
Guru dan Kelas memilih topik dan menemukan informasi

SEBELUM PANDANGAN
Kelas atau perorangan siswa mengemukakan

Yang diketahui tentang topik yang dibahas

KEGIATAN EKSPLORASI
Melibatkan siswa dalam topik

PEMBANDINGAN
PERTANYAAN ANAK
Kesempatan kelas mengundang siswa

Mengajukan Pertanyaan tentang topik

PERTANYAAN TAMBAHAN

PENYELIDIKAN
Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk

Untuk dieksplorasi selama 2-3 hari

SETELAH PANDANGAN
Pernyataan perorangan atau kelompok dikompilasi

Dan dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya

REFLEKSI

Saat memantapkan hal-hal yang telah diverifikasi

Dan hal-hal yang masih perlu dipilah

Gambar 1 Bagan Alur Pembelajaran Interaktif
(Faire and Cosgrove, dalam Harlen 1992)

D. TUJUAN PENELITIAN

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.

Secara khusus tujuan penelitian adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui kemampuan guru mendesain model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA dengan kerja kelompok
2. Menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok
3. Meningkatkan kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
4. Mengetahui apakah kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran interaktif
5. Meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok.
6. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
7. Solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

E. MANFAAT PENELITIAN

Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu, melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran.
Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternativ pembelajaran IPA untuk meningkatkan
prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaran IPA. Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK.
Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan IPA secara umum membantu agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar maupun menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan kebenarannya di laboratorium, dengan demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Untuk itu ada tiga hal yang berkaitan dengan sasaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut. (1) IPA tidak semata berorientasi kepada hasil tetapi juga proses. (2) Sasaran pembelajaran IPA harus utuh menyeluruh dan (3) pembelajaran IPA akan lebih berarti apabila dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan siswa secara aktif.
A. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Seringkali kita mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : research, yang berarti kegiatan pencaharian atau ekspolrasi untuk
menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Dari segi semantik (arti kata) action researh diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2) mendefisikan action research sebagai berikut :
Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :

1. Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3. Penelitian Tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan

4. Tujuan Penelitian Tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktek-praktek, pemahamn terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat tersebut dilaksanakan
Dari keempat ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
B. Model Pembelajaran Interaktif

Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang
digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di kelas dalam setting pengajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan- pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).
Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan (1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing. (2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan. (3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya. (4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya. (5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya.
Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.
C. Kerja Kelompok

Suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Kerja kelompok memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar karena ia mempunyai tanggung jawab belajar yang lebih besar dan memungkinkan berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.

D. Pengertian Belajar

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).

E. Kreativitas

Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya.
Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kraetivitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong pleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara dosen LPTK (FKIP-UT) dengan guru SD N Jakarta Timur.
B. Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas tiga siklus kegiatan sebagai berikut.

SIKLUS 1

Tahap Perencanaan (Planning)

1. Mengidentifikasi masalah

2. Menganalisis dan merumuskan masalah

3. Merancang model Pembelajaran interaktif

4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif

5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)

6. Menyusun kelompok belajar siswa

7. Merencanakan tugas kelompok

Tahap Melakukan Tindakan (Action)

1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan

2. Menerapkan model pembelajaran interaktif

3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan
Tahap Mengamati (observasi)
1. Melakukan diskusi dengan guru SD dan kepala Sekolah untuk rencana observasi
2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru kelas lima
3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif
4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan- kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya

Tahap refleksi (Reflection)

1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi

2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
4. Melakukan refleksi terhada kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA

5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa

SIKLUS II

Tahap Refleksi/Siklus II meliputi

Tahap Perencanaan (Planning)

1. Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya
2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran

3. Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I
Tahap Melakukan Tindakan (Action)

1. Melakukan analisis pemecahan masalah

2. Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

Tahap Mengamati (observation)

1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
2. Mencatat perubahan yang terjadi

3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan

Tahap Refleksi (Reflection)

1. Merefleksi proses pebelajaran interakti dengan kerja kelompok

2. Merfleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok
3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian

4. Rekomendasi

Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah

1) Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA
2) Guru memiliki kemampuan guru merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran IPA
3) Terjadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran IPA

C. Analisis Data

Untuk lebih menjamin keakuratan data penelitian dilakukan perekaman data dalam video. Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh teman sejawat dan kepala sekolah. Untuk kreativitas siswa dalam pembelajaran digunakan observasi dan angket serta perolehan hasil belajar siswa digunakan deskripsi kuantitatif.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
SIKLUS 1
Tahap Perencanaan (Planning)

– Guru mulai mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul saat pelaksanaan pembelajaran.
– Guru mencoba menganilisis dan merumuskan masalah yang mungkin muncul saat pembelajaran
– Guru merancang model pembelajaran interaktif, dibantu peneliti

– Guru dan peneliti melakukan diskusi mengenai penerapan model pembelajaran interaktif, terutama langkah-langkah kegiatan diskusi kelompok siswa
– Peneliti dan guru bersama-sama membuat angket untuk siswa dan pedoman observasi

– Guru menyusun kelompok berdasarkan siswa yang pandai dibagi merata kesetiap kelompok
– Guru merencanakan tugas kelompok tentang topik/materi IPA/Sains

Tahap Melakukan Tindakan (Action)

– Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran

– Guru menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran Sains/IPA

– Peneliti dan pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
– Peneliti dan pengamat memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
– Guru belum dapat mengantisipasi kendala dengan melakukan solusi mengalami kendala saat melakukan tahap tindakan
Tahap Mengamati (observasi)

– Peneliti, pengamat (teman sejawat dan kepala sekolah) dan guru melakukan diskusi untuk rencana observasi pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya
– Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru
– Peneliti dan para pengamat mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prncanaan, namun setelah beberapa saat guru kembali kepada pola lama yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yaitu menjelaskan materi dan siswa menyimak penjelasan guru dan mencatat hal yang
dianggap penting. Guru nampak tidak percaya diri ketika siswa bertanya tentang materi yang tidak dimengerti ketika mengerjakan tugas di rumah.
– Peneliti, para pengamat dan guru melakukan diskusi untuk membahas tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran IPA/Sains berikutnya. Saran yang diberikan peneliti dan juga para pengamat salah satunya adalah guru harus membaca materi IPA/Sains paket, meskipun guru sudah sering mengajarkan materi tersebut. Guru juga harus membaca beberapa buku referensi lain selain buku paket dan buku wajib, agar guru lebih percaya diri dan dapat menjawab semua pertanyaan siswa dengan tepat. Guru harus dapat mengalokasi waktu dengan baik, sehingga dapat merangkum materi yang dibahas.

Tahap refleksi (Reflection)

– Guru menlakukan analisis temuan peneliti dan para pengamatan saat melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh guru
– Peneliti dan para pengamat menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran interaktif dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Terutama dalam mengelola kelas, saat siswa melakukan kerja kelompok.
– Guru melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA/Sains. Selama diskusi kelas guru berusaha berkeliling pada setiap kelompok. Guru menanyakan kesulitan atau masalah yang dihadapi saat melakukan percobaan.
– Guru dibantu peneliti melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA/Sains, di samping itu guru mengadakan evaluasi tentang topik yang sudah dibahas dan nilai rata-rata siswa 5,859. Kreativitas meningkat setelah mengalami pembelajaran yang dilaksanakan guru. Siswa terlibat aktif dalam diksusi kelompok dan percobaan.
– Guru melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa, mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran, berupaya untuk memperbaikinya.

SIKLUS II

Tahap Refleksi/Siklus II meliputi

Tahap Perencanaan (Planning)

– Hasil refleksi guru dievaluasi dan didiskusikan bersama dengan peneliti dan para pengamat dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran IPA/Sains berikutnya.
– Guru mendata masalah-masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran

– Guru merancang perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi siklus I

Tahap Melakukan Tindakan (Action)

– Guru melakukan analisis dan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pelaksanaan pembelajaran
– Guru melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran dengan memaksimalkan penerapan model pembelajaran interaktif dan berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan saat pembelajaran.
Tahap Mengamati (observation)

– Peneliti dan para pengamat melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif
– Peneliti dan para pengamat mencatat perubahan yang terjadi, guru lebih percaya diri dan menjelaskan materi/konsep dengan baik. Guru sudah dapat berperan sebagai nara sumber, fasilitator dan mediator dengan baik. Guru sudah dapat mengelola kelas dengan baik.
– Guru, peneliti dan para pengamat melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan.
Tahap Refleksi (Reflection)

– Guru merefleksi proses pembelajaran interaktif yang dilaksanakannya

– Guru merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran interaktif

– Guru menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian

– Peneliti dan guru memberikan rekomendasi terhadap hasil akhir penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru.
Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah

– Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA. Setiap pembelajaran IPA siswa selalu sudah siap dengan
pertanyaan tentang materi/topik yang akan dibahas. Siswa sudah terbiasa bekerja kelompok dan berdiskusi
– Guru telah memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif khususnya pada mata pelajaran IPA/Sains. Ada kemauan guru untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran lainnya
– Prestasi siswa dalam pelajaran IPA/Sains meningkat. Nilai rata siswa mencapai 6,512

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

– Guru dalam mendesain model pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPA, pada awalnya masih ragu dan belum terbiasa.
– Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPA di SD dengan kerja kelompok. Pada awalnya siswa mengalami kesulitan bekerja dalam kelompok, terutama siswa yang pintar/pandai tidak mau bergabung dengan siswa yang tidak/kurang pandai. Siswa yang merasa dirinya pandai lebih suka belajar dan bekerja sendiri. Siswa terkesan egois, untuk dapat menyatukan siswa dalam kelompok dan bekerja sama guru berusaha memberi penjelasan tentang pentingnya berbagi, bekerja sama, bersahabat tanpa memperhatikan kepintaran atau kemampuan orang lain. Justru siswa yang memiliki kelebihan daripada teman-temannya dapat membantunya dengan memberikan penjelasan tentang teori/materi pelajaran yang belum dipahami dan dimengerti
– Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing- masing.
– Guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok, mengalami kesulitan dalam pengelolaan waktu. Guru belum dapat membagi waktu dalam masing-masing kegiatan pembelajaran. Siswa terlalu melakukan diskusi, sehingga guru tidak sempat merangkum/menyimpulkan materi yang dibahas karena waktunya sudah habis.
– Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata- rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada penelitian tindakan kelas.

– Penelitian tindakan kelas yang dilakukan bertujuan adalah memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakan guru. Menggunakan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat dijadikan alternatif untuk penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan berikutnya.
B. Saran
Penerapan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok memerlukan kemauan dan pengorbanan yang besar, baik waktu, tenaga dan pikiran untuk itu bagi guru sekolah dasar mampu melaksanakan penelitian tindakan kelas menggunakan model pembelajaran ini sebagai suatu tantangan.
Penelitian tindakan kelas sebaiknya dilakukan oleh guru dengan penuh kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, peneliti hanya berusaha menjembatani dan memfasilitasi agar para guru sekolah dasar mau melakukan penelitian tindakan kelas sebagai langkah introspeksi diri sebagai tenaga profesional.
Sebaiknya penelitian tindakan kelas dilakukan oleh semua guru, baik guru SD, SMP, maupun SMA, sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja sebagai guru. Guru harus dapat menilai dirinya sendiri sebelum melakukan penilaian kepada siswanya. Guru harus mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam pembelajarannya,berusaha untuk mengatasinya dan menemukan solusi yang terbaik serta mengantisipasi apabila dalam pembelajaran mengalami kendala dan masalah.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja

Rosdakarya. Bandung.

Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning Theory of instruction (4th

Edition). New York : Holt, Rinehart and Winston.

Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya.

Bandung.
Hendro Darmodjo, Kaligis, J R E. (1991/1992). Pendidikan IPA II, Hal 7-11

Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

Hernawaty Damanik. (2004). Penerapan Model Pembelajaran Social Science Inquiry Dalam Mata Pelajaran Sosiologi Dengan Kerja Kelompok. FKIP- Universitas Terbuka.

Irwanto, dkk (1991). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Gramedia

Pustaka Utama. Jakarta.

Kemmis, S. dan MC. Toggart.R. (Ed.1988). The Action Resesarch Planner.

Deakin. Deakin University: Australia

Lemlit-UT, (2003). Jurnal Pendidikan Volume 4, nomor 2. Pusat Studi Lembaga

Penelitian Universitas Terbuka.

Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran

Kreatif dan Menyenangkan. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Poedjiadi, A. (1990). Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan datang.

Disampaikan pada Seminar Puskur Balitbang Dikbud, Jakarta.

Poedjiadi, A. (1993). Mewujudkan literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan, hal 4-6. Disampaikan pada seminar FPMIPA IKIP- Bandung.

Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory and Practice. Masschusetts: Allyn and Bacon Publisher.
Sobry Sutikno, (2004). Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran

Efektif dan Retorika. NTP Press. Mataram
Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory Research and Practice.

Second Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Sutarno, N. (2004). Materi Dan Pembelajaran IPA SD. Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka.

MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI KARYA SASTRA ANAK

MENINGKATKAN MINAT BACA
MELALUI KARYA SASTRA ANAK
(Makalah disajikan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Problematika Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia)
OLEH : JEPRIDIN NIM 1202211538602

A.    Pendahuluan
Saat ini minat baca masih menjadi perkerjaan rumah yang belum terselesaikan bagi bangsa Indonesia. Berbagai program telah dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Pemerintah, praktisi pendidikan, LSM dan masyarakat yang perduli pada kondisi minat baca saat ini telah melakukan berbagai kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat untuk membaca, akan tetapi berbagai program tersebut belum memperoleh hasil maksimal.
Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, maka bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan terbawah hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua.
Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca maka kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa. Pada usia sekolah dasar, anak mulai dikenalkan dengan huruf, belajar mengeja kata dan kemudian belajar memaknai kata-kata tersebut dalam satu kesatuan kalimat yang memiliki arti. Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Setelah anak-anak mampu membaca, anak-anak perlu diberikan bahan bacaan yang menarik sehingga mampu menggugah minat anak untuk membaca buku.
Salah satu bagian yang terpanting dalam pengajaran bahasa indonesia di sekolah adalah memberikan pengenalan dan pengetahuan terhadap karya sastra sehingga karya sastra dianggap menjadi sesuatu hal yang paling penting untuk dipahami oleh peserta didik. Dalam hirarki jenjang pendidikan maka siswa sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan formal yang pertama dilalui oleh setiap siswa maka pada jenjang inilah karya sastra diperkenalkan yang dapat berimplikasi terhadap perkembangan diri seorang anak. Namun, muncul sebuah pandangan bahwa apakah karya sastra anak dapat menimbulkan pengaruh terhadap minat baca? Bagaimanakah metode pengajaran sastra anak yang dapat menumbuh minat baca? Jenis bahan bacaan seperti apa yang dapat diberikan kepada anak? Bagaimana menciptakan lingkungan yang kondisif sehingga mendukung pembelajaran sastra Anak?  Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini.
B.    Pembahasan
1.    Hakekat Sastra Anak dan Hubungan Terhadap Minat Baca
Kata sastra berarti karya seni imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa (Rene Wellek, 1989). Karya seni imajinatif tersebut dapat dalam bentuk lisan ataupun tertulis. Selanjutnya, kata anak dapat diartikan sebagai manusia kecil (KBBI, 2007:41). Kata anak yanng dimaksud disini bukanlah anak balita ataupun anak remaja, tetapi anak usia SD yang berumur antara 6 sampai 13 tahun. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Nurgiantoro (2005:12) yang mengatakan yang dimaksud dengan anak dalam sastra anak adalah orang yang berusia 0 tahun sampai dengan sekitar 12 atau 13 tahun.
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan. Sejalan dengan pendapat tersebut Kurniawan (2009:4-5) mengatakan bahwa sastra anak adalah sastra yang menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh anak dan pesan yang disampaikan berupa nilai-nilai, moral, dan pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan dan pemahaman anak. Hunt juga berpandangan bahwa sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka. Sementara itu, menurut Sarumpaet ( 2010: 2) sastra anak adalah karya sastra yang dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Artinya, sastra anak ditulis oleh orang tua yang ditujukan kepada anak dan proses produksinya pun dikerjakan oleh orang tua. Namun tidak semestinya bahwa sastra anak ditulis oleh orang dewasa atau orang tua atau anak-anak saja. Menurut Nurgiantoro (2005:12) bahwa penulis sastra anak dapat siapa saja baik orang dewasa maupun anak-anak, dan hal yang paling penting adalah mengetahui dunia anak-anak.
Menurut Huck dkk (1987:5) isi kandungan yang terbatas sesuai dengan jangkauan emosional dan psikologi anak itulah yang, antara lain, merupakan karekteristik sastra anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa saja, bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya berkisah tentang binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan berperasaan layaknya manusia. Imajinasi dan emosi anak dapat menerima cerita itu secara wajar dan memang begitulah seharusnya menurut jangkauan pemahaman anak. Selayaknya sebuah karya sastra maka sastra anak juga selain memberikan pemahaman atau memiliki nilai-nilai pendidikan juga akan memberikan hiburan kepada anak sebagai penikmat. Maka hal ini sejalan dengan pendapatnya Rebecca Thomas (2007) membimbing dan membekali anak untuk mengenali diri berawal dari lingkungan terdekat hingga kebudayaan di luar lingkungan kita. Anak-anak akan dibawa untuk tur menikmati makanan, kesenian dan cerita-cerita tradisional di berbagai dunia.
Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis lagi. Genre drama sengaja tidak dimasukkan karena menurutnya, drama baru lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan bahasa-sastra (Nurgiyantoro,2005:15).
Sastra anak juga memberikan manfaat dari unsur intrinsik dan unsur ektrinsik . Pada unsur intrinsik  yaitu (1) memberikan rasa kesenangan atau kegembiraan,dan kenikmatan bagi anak-anak, (2) mengembangkan daya imajinasi anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, kehidupan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara, (3) memberikan pengalaman baru yang seolah mereka mengalaminya (4) mengembangkan wawasan kehidupan anak menjadi prilaku kemanusian (5) menyajikan dan memperkenalkan anak pengalaman yang universal (6) melanjukan warisan sastra. Selain unsur intrinsik manfaat sastra anak juga terdapat pada unsur ekstrinsiknya yaitu (1) perkembangan bahasa, (2) perkembangan kognitif (3) perkembangan kepribadian dan (4) perkembangan sosial. Sejalan dengan pendapat tersebut Rahmanto (1988: 16-24) yang dalam penjelasnya mengatakan bahwa karya sastra dapat dijadikan sebagai pengajaran untuk membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta rasa, dan menunjang pembentukan watak. berdasarkan penjelasan tersebut secara umum sastra anak memberikan rasa hiburan dan wawasan. Rasa hiburan yang dialami oleh anak ketika membaca sastra atau kisah-kisah menarik yang terdapat dalam buku sastra membuat rasa keingin tahuan terhadap buku yang ia baca hal ini berdampak pada minat baca terhadap dirinya.
2.    Pemilihan Bahan Pengajaran
Sebelum melakukan pendekatan atau cara melakukan pembelajaran sastra kepada anak maka hal yang paling penting adalah memilih bahan pengajaran yang tepat. Pemilihan bahan pengajaran yang patut dipertimbangkan yaitu berdasarkan aspek perkembangan bahasa, psikologi dan latar belakang budaya yang tepat (Rahmanto 1988: 26). Hal ini dimaksudkan agar pada pelaksanaan pembelajaran sasaran atau tujuan dapat tercapai.
a.    Bahasa
Dalam bentuk pengajaran sastra kepada anak hendaknya guru mempertimbangan pada aspek penggunaan bahasa yang terdapat dalam karya sastra. Hal ini sangat penting karena karya sastra yang menggunakan bahasa yang sulit dimengerti akan berakibat ketidak pahaman yang berarti juga kegagalan dalam pengajaran sastra.
Aspek kebahasan yang patut dipertimbangkan oleh guru yaitu memperhitungkan kosa kata yang baru, dan memperhatikan segi tata bahasa sehingga wacana yang muncul dalam karya sastra tersebut dapat dipahami oleh anak-anak.
b.    Psikologi
Tahap perkembangan psikologi berkaitan dengan usia anak dalam belajar karya sastra. Pembahasan psikologi berikut ini membatasi pada usia anak pada tingkat sekolah dasar. Tahapan-tahapan psikologi atau perkembangan intelektual tersebut menurut terbagi beberapa tingkatan yaitu  :
1)    Usia 7-11 tahun
Pada tahap usia ini seorang anak memiliki daya imajinasi yang diisi dengan hal-hal yang belum banyak bersifat nyata tetapi masih penuh dengan berbagai macam fantasi kekanakkan. Buku yang cocok dalam usia ini menurut Nurgiantoro (2005:52) adalah buku-buku bacaan yang mengandung narasi yang mengandung urutan logis dari yang sederhana ke yang lebih komplek, jumlah tokoh dalam cerita, dan buku bacaan yang menampilkan berbagai macam objek gambat secara bervariasi, bahkan mungkin yang dalam bentuk diagram dan model sederhana, buku bacaan yang menampilkan narator yang mengkisahkan cerita, atau cerita yang dapat membawa anak untuk memproyeksikan dirinya ke waktu atau tempat yang lain.
2)     Usia 11-12 tahun
Pada tahap ini anak mulai meninggalkan fantasi-fantasi dan mengarah kerealitas. Meski pandangan dunia ini masih sangat sederhana tetapi pada tahap ini anak telah menyenangi cerita-cerita kepahlawanan, petuangalangan, dan bahkan kejahatan. Pada tahapan usia ini buku yang dapat berikan adalah buku cerita yang menampilkan masalah yang membawa anak untuk mencari dan menemukan hubungan sebab akibat serta implikasi terhadap tokoh-tokoh, dan buku – buku yang mengandung alur cerita ganda. Karakter tokoh dan persoalan yang lebih konfleks (Nurgiantoro, 2005: 53).
3)    Latar Belakang Sosial
Latar belakang sosial berkaitan dengan budaya yang diketahui oleh anak tersebut. Pertimbangan latar belakang budaya dalam proses pengajaranya dimaksudnya untuk  memberikan pengenalan dan kecintaan terhadap budaya yang dimiliki. Adanya kesadaran bahwa karya sastra hendaknya menghadirkan sesuatu yang erat hubungannya kehidupan siswa dan siswa hendaknya terlebih dahulu memahami budayanya sebelum mengetahui budaya lain (Rahmanto, 1988: 31).
3.    Menciptakan Lingkungan Yang Kondusif
Lingkungan sangat mempengaruhi kondisi belajar siswa, hal ini dikarenakan jika lingkungan yang menjadi tempat belajar dipenuhi dengan fasilitas yang memadahi akan menimbulkan rasa ingin tahu terhadap keberadaan fasilitas tersebut. Untuk mencapai sasaran tersebut maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya yaitu:

a.    Ruang Kelas
Guru pertama kali melakukan pembenahan terhadap tempat yang dijadikan belajar. Ruang kelas diisi dengan buku-buku yang pajang pada tiap pojok hal ini dapat mengundang siswa ingin memilih buku, dan membaca buku tersebut.
b.    Majalah Dinding Kelas
Agar aktifitas siswa tersebut terwadahi maka hal juga perlu disediakan oleh sekolah adalah adanya majalah dinding yang diletakan di dalam kelas. Majalah dinding merupakan media yang memuat segala bentuk hasil cipta siswa  dalam bentuk kreatifitas baik dalam bentuk, cerita atau puisi yang dapat dilihat secara bersama-sama.
c.    Perpustakaan
koleksi perpustakaan terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket, koleksi perpustakaan juga dapat berupa buku-buku bacaanyang mampu menarik minat siswa untuk membacanya. Selain itu perpustakaan dapat jugamelengkapi koleksinya dengan koleksi audiovisual sehingga tidak memberikan kesanlayanan yang monoton.
sarana atua perabot perpustakaan perlu dilengkapi, perpustakaan dapat dilengkapi dengan pendingin udara, televisi dan komputer multimedia. Perabotan perpustakaan perlu didesain dan disusun sesuai dengan kondisi fisik anak-anak sehinggadapat memberikan kesan nyaman bagi anak. Ruang perpustakaan juga dapat dicat warna-warni dan dilukis gambar lucu sehingga menghilangkan kesan formil perpustakaan. Dengan perubahan kondisi fisik perpustakaan ini akan memberikan kesan nyaman anak berada diperpustakaan sehingga anak-anak akan rajin datang ke perpustakaan.
Masalah SDM perpustakaan juga perlu mendapatkan perhatian.Perpustakaan harus dikelola oleh tenaga yang memiliki keahlian serta berlatar belakangilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi. SDM memiliki latar belakang ilmu perpustakaan tentu mengerti bagaimana mengelola serta mengembangkan perpustakaan berdasarkan kaidah ilmu perpustakaan. Memberikan tanggung jawab pegelolaan perpustakaan kepada guru perlu dikaji ulang, guru yang memiliki tugas utama sebagaitenaga pengajar tidak akan mampu maksimal dalam pengembangan perpustakaan karenaharus membagi waktunya untuk mengajar. Perpustakaan akan tutup apabila guru tersebutmendapat tugas mengajar. Keadaan semacam ini tentu dapat menghambat proses pembinaan minat baca anak.
Sebenarnya masalah terbatasan koleksi, sarana perpustakaan sertaminimnya SDM perpustakaan disebabkan karena keterbatasan dana. Keterbatasan dana menyebabkan perpusakaan tidak mampu membeli buku, melengkapi sarana perpustakaanserta membayar tenaga profesional untuk mengelola perpustakaan. Sebagai solusinya di perlukan perhatian pemerintah, pengelola sekolah serta peran aktif wali murid.Pemerintah perlu memberikan perhatian bagi pengembangan perpustakaan sekolah.
Ketersedian fasilitas tersebut akan menimbulkan aktifitasi membaca serta komunitasi sosial yang nantinya pada tiap anak akan membicarakan cerita yang ia baca atau dapatkan dari buku-buku yang diperolehnya dengan teman-temannya. Aktifitas ini sangat berdampak positif terhadap perkembangan anak dikarenakan anak akan terbiasa dalam membaca serta kondisi sosial dan perkembangan bahasa yang ia miliki.
4.    Metode Pengajaran Sastra
Ketersedian fasilitas atau sarana dalam pembelajaran tidak dapat menentukan dalam kesukses untuk membangun kecintaan anak terhadap dunia sastra jika tidak dilakukan dengan cara atau metode pengajaran sastra yang tepat di kelas. Ada beberapa metode dalam pengajaran sastra agar tujuan dapat tercapai. Metode yang dapat dilakukan diantaranya:
a.    Strory-telling
Metode pengajaran sastra dengan menggunakan strory-telling dapat dilakukan oleh siswa atau guru. Kegiatan ini adalah guru atau siswa membecakan suatu cerita yang dipilih berdasarkan keinginan. Seseorang yang menggunakan strory-telling sambil duduk dengan lingkari anak-anak. Dalam bentuk lain kegiatan strory-tellling dapat menggunakan make up dan konstum tertentu yang menggambarkan karakter tokoh utama dalam cerita tersebut  sehingga menimbulkan ketertarikan siswa terhadap isi cerita yang disampaikan oleh guru. Dalam penyampain ceritapun harus diikuti dengan gerakan dan mimik wajah tertantu.
Meskipun dalam penyampainya beragam akan tetapi ada beberapa hal yang menajdi prosedur untuk harus di lakukan yaitu:
1)    Memilih cerita yang akan dibacakan dengan memperhatikan kekuatan karakter pelaku dengan tegangan ceritanya sehingga nantinya benar-benar menarik perhatian anak
2)    Membaca terlebih dahulu secara lisan sambil memperhatikan dan melatih bentuk visualiaai ataupun gerak mimik yang tepat. Untuk itu mesti dipahami gambaran ciri fisik dan perwatakan pelaku, gambaran suasana, dan bagian-bagian cerita, baik bagian awal tengah, maupun akhir.
3)    Menentukan satuan bentuk cerita sehingga memudahkan pembuatan jeda penentuan saat dialog dengan anak-anak guna mempelajari, dan memudahkan antisipasi tempo dan ritme penceritaan.
4)    Mempelajari cara mengawali cerita maupun bentuk-bentuk tanggapan yang mau diinteraksikan dengan anak, misalnya ketika menggambarkan pelaku yang lagi berkenalan dengan teman barunya, atau bentuk-bentuk interaksi lainya.
5)    Berlatih melakukan strory-telling sampai diri sendiri merasa yakin dan nyaman menyajikannya di depan kelas. Dalam hal ini perlu diperhatikan keselarasan antara bunyi ujaran yang dihasilkan dengan gerak, mimik, dan posisi dalam bacaan.
6)    Melakukan kegiatan penceritaan dengan suara, sikap, intonasi yang bisa diharapkan menarik anak-anak. Selama membacakan perlu adanya kontak pandangan mata dan kimunikasi dengan anak-anak, misalnya dalam bentuk tanya jawab
b.    Readers theatre
Readers theatre merupakan salah satu bantuk penyajian cerita melalui pameran dan pelisan dalam bentuk kelompok melalaui kegiatan “pementasan”. Meskipun disebut sebagai kegiatan pementasan bukan berarti bahwa siswa harus menyiapkan kostum, propertis maupun pentaan panggung. Dalam kegiatan ini anak-anak cukup mengubah cerita menjadi scripts yang disusun oleh mereka dan tidak harus menghapalkannya hanya mempraktekan gambaran tokoh yang diperankannya dengan menggunakan intonasi suara yang sesuai dengan tokoh dalam cerita.
Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan dialog, lakuan dan interaksi dengan palakulainya secara tepat dan bermakna. Selain itu kegiatan ini juga bermanfaat agar siswa dapat mengetahui karakter penokohan dan alur cerita dari karya sastra yang mereka pilih dan baca.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan  readers thatre yaitu:
1)    Guru memperkenalkan konsep readers theatre dan mempertega perbedaannya dengan dramatisasi cerita. Setelah itu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membentuk kelompok yang disesuaikan dengan kebutuhan.
2)    Membantu memperbanyak atau mengkopi  cerita yang dipilih oleh siswa untuk dibagikan pada setiap individu agar dapat dipelajari seraca bersama-sama.
3)    Anak-anak melakukan kegiatan membaca secara lisan dalam kelompok. Mereka juga sekaligus diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam  memilih karakter tokoh yang dinginkan.
4)    Anak diberikan kesempatan latihan yang dibimbing oleh gurunya.
c.    Menggambar dan Bercerita
Pada umumnya anak-anak sangat suka dalam kegiatan menggambar hal ini sangat berpotensi jika dikaitkan dengan kegiatan pengajaran sastra anak. Anak-anak dapat diarahkan oleh gurunya untuk menggambar dari cerita yang mereka baca yang nantinya akan dipertunjukan dihadapan teman-temannya sambil menceritakan isi cerita dengan menggunakan gambarnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah anak-anak dilatih untuk memahami isi cerita, meningkatkan daya kreatifitas mereka, dan berani tampil dalam menceritakan isi cerita di dapan teman-temannya.
C.    Kesimpulan
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan. Salah satu dari manfaat sastra anak adalah dapat menumbuhkan rasa minat baca yang sangat tinggi. Dalam proses penerapannya ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya menciptakan lingkungan yang kondusif, ketersediaan fasilitas, pemilihan bahan bacaan, dan cara pengajaran sastra yang dapat menimbulkan rasa keinginan terhadap dunia sasra yang berimplikasi pada minat baca.
Daftar Rujukan

Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Gamble, Nikki dan Sally Yates. 2002. Exploring Children’s Literature: Teaching The Language And Reading of Fiction. London. SAGE Publications
Huck, Charlotte S, Susan Hepler, dan Janet Hickman. 1887. Children’ s Literature in the Elementary School. New York: Holt, Rinehart and Winson.
Hunt Peter, 2005. Understanding Children’s Literature. New York. Rautledge
Kurniawan, Heru. 2009. Sastra Anak: Dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, Hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta. Graha Ilmu
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Oittinen, Riitta. 2000. Translating For Children. New York: Garland Publishing
Wellek, Rene and Austin Werren. 1956. Theory of Leterature. New York: Harcout, Brace and World Inc
Rahmanto. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta. Kanisius
Resmini, Novi. Sastra Anak dan Pengajarannya di Sekolah Dasar. Universitas Pendidikan Indonesia. http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032NOVI_RESMINI/SASTRA_ANAK_DAN_PENGAJARANNYA.pdf  diakses pada tanggal 26 Januari 2013 Artikel Sastra anak dalam pembelajaran di kelas

BAHASA DAN POLITIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bahasa Indonesia memiliki dua keistimewaan, pertama sejak 1928 bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa nasional. konsekuensi dari kenyataan ini berarti bahwa bahasa Indonesia menjadi alat persatuan bangsa Indonesia yang beraneka ragam ras, agama, dan suku bangsa. Kedua, bahasa Indonesia dalam bahasa lain telah menjadi bahasa “administarsi Negara”. Dilihat dari dua sis ini bahasa Indonesia memiliki nilai strategis.
Bahasa dalam setiap rezim kekuasaan memiliki warna yang berbeda. Bahasa Indonesia dalam ragam politik dan birokrasi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan ragam bahasa sosiolek lainnya. Sejarah ejaan bahasa Indonesia menunjukan bahwa setiap rezim kekuasaan memiliki kepentingan terhadap keberperanan bahasa selaras dengan kecendrungan kekuasaan saat ini. Bahkan bahasa dalam beberapa hal dipolitisasi baik makna (semantic) maupun bentuk (sintaksis) agar secara sinergis mendukung berlangsungnya kekuasaan
Makalah ini mencoba membahas perkembangan kosakata politik dalam dinamika politik dalam dinamika politik bangsa. Untuk membatasi permasalahan, pembahasan ditiitkberatkan pada kosakata politik masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945-1949, masa demokrasi parlementer tahun 1950-1959, masa orde lama tahun 1960-1965, masa orede baru tahun 1966-1998, dan masa pascaorde baru atau era reformasi dan demokrasi tahun 1998-1999.
Sajian pengatar di atas merupakan yang melatar belakangi terhadap kajian bahasa dan politik yang bersinggungan langsung dengan kekuasaan sehingga menjadi menarik untuk dikaji dalam pandangan sosiolinguistik sebagai fenomena-fenomena kebahasaan di masyarakat Indonesia.
B.    Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas antara lain:
1.    Bagaimanakah hubungan bahasa dan politik?
2.    Bagaimanakah penggunaan bahasa pada setiap rezim atau elit politik dalam mencapai kekuasaaan?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang bahasa dan politik dalam mencapai dan mempertahankan kekuasaan. Sekaligus sebagai laporan tugas individu dari matakuliah sosiolinguistik yang dibimbing oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. dan Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd. pada program pendidikan bahasa Indonesia fakultas pascasarjana Universitas Negeri Malang.
D.    Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai penambah wawasan pengetahuan bagi pembaca khususnya mahasiswa program pendidikan bahasa Indonesia yang mengkaji terhadap bahasa dan politik dalam pandangan sosiolinguistik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakekat Bahasa dan Politik
Bahasa dan politik (langgue of power), topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, terutama pada kajian sosiolinguistik. Jika kita melihat hakikat bahasa sendiri secara umum didefinisikan sebagai alat komunikasi. Tetapi penjelasan tersebut kurang tepat, karena pertanyaan mengenai definisi juga harus dijawab dengan definisi bukan fungsi. Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas. sebenarnya hakekat bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sebuah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.  Definisi hakikat bahasa di atas dapat dicirikan bahwa hakikat bahasa mempunyai ciri antara lain, bahwa bahasa itu adalah sebuah lambang, berupa bunyi, bersifat arbiter, produktif, dinamis, beragam dan tentunya bahasa itu juga manusiawi. Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami perkembangan. Dan perkembangan berarti perubahan. Perubahan itu terjadi, oleh karena bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Kecenderungan studi bahasa yang memisahkan bahasa dengan dimensi pemakai dan pemakaiannya (konteks sosialnya) inilah yang kemudian mengilhami lahirnya pendekatan baru dalam studi bahasa yaitu sosiolinguistik.
Dalam hal ini, objek studi bahasa dalam pandangan sosiolingustik bukan hanya semata dilihat dari sistem atau kaidah-kaidah bahasa itu, melainkan juga pada konteks dan komunikatifnya. Ciri-ciri bahasa yang disebutkan di atas, yang menjadi indikator akan hakikat bahasa adalah menurut pandangan linguistic umum (general linguistics). Menurut pandangan sosiolinguistik bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interkasi sosial dan sebagai alat mengidentifikasikan diri.
Selain fungsi penggunaanya sebagai situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut Gravin dan Matiot (1956:785-787)  juga mempunyai fungsi sosial politik yaitu fungsi pemersatu, fungsi pemisah, fungsi harga diri, fungsi kerangka acuan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, nampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain. Fungsi bahasa bagi manusia sangat penting Halliday  mengungkapkan ada fungsi bahasa bagi manuisa sebagai instrumental yaitu melayani pengelolaan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa itu terjadi. Fungsi regulasi yaitu bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan peristiwa-peristiwa. Fungsi representasional yaitu berfungsi menggambarkan realitas sebanarnya. Fungsi interaksional yaitu untuk menjamin dan memantapkan ketahan dan kelangsungan komunikasi sosial. Fungsi personal yaitu memberikan kesempatan kepada pribadi-pribadi untuk mengekspresikan diri. Fungsi heuristik yaitu melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahua. Fungsi imajinatif melayani pencptaan sistem-sistem atau gagasan yang bersifat imajinatif. Fungsi bahasa halliday ini biasa disebut sapta guna bahasa.
1.    Politik
Terlepas dari pendefinisian apa hakikat bahasa sebenarnya, maka pembahasan selanjutanya kita akan menyinggung masalah topik utama yaitu “bahasa dan politik”. Bahasa dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Politikus harus menemukan cara-cara agar bisa memengaruhi masyarakat dan mereka sering kali menggunakan aspek retorika (seni berbicara) dari bahasa untuk mencapai tujuan itu.
Politik sangat erat kaitannya dengan masalah kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan publik dan alokasi atau distribusi. Pemikiran mengenai politik di dunia barat banyak dipengaruhi oleh Filsuf Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles yang beranggapan bahwa politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik. Usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang diantaranya terdiri dari proses penentuan tujuan dari sistem serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Politik adalah masalah kekuasaan, yaitu kekuasaan utntuk  membuat keputusan, mengendalikan sumber daya, mengendalikan perilaku orang lain dan seringkali mengendalikan nilai-nilai yang dianut orang lain.
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik bisa mencakup banyak jenis kegiatan, mulai dari proses pembuatan kebijakan nasional, kesetaraan gender, persaingan kelompok yang erat jalinanya, seperti persaingan antarrekan sekantor memperebutkan jabatan yang biasanya dilakukan dengan membocorkan atau meyimpan rahasia kantor, cara orang menegoisasikan peran yang harus mereka jalankan dalam kehidupan pribadi mereka, sejarah dari sistem politik, kegiatan yang berkaitan dengan transportasi, pemukiman dan konsumsi yang bisa memengaruhi lingkungan (lingkungan politik).  Fungsi politik sebenarnya sangat luas, jika melihat dari fugsi di atas maka dalam berbagai hal kegiatan kita tidak akan terlepas  dari politik. Salah satu untuk mencapai tujuan politik dengan menggunakan implikatur. Implikatur adalah cara dimana pendengar bisa memahami sendiri asumsi-asumsi dibalik sebuah nformasi tanpa harus mengungkapkan asumsi-asumsi itu secara eksplisit.
2.    Bahasa Sebagai Pengendali Pikiran
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu memahami bahasa akan memungkinkan kami untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia. Penggunaan bahasa tidak sekedar mempengaruhi seseorang tetapi bisa digunakan sebagai pengendali pikiran seseorang. Sunggu kekuatan bahasa yang sangat luar biasa, seperti pepatah mengatakan “dengan bahasa akan ku kuasai dunia”. Uraian di  atas menunjukan bahwa bahasa bisa digunakan untuk memengaruhi atau mengubah idiologi (= kewajaran) sehingga mampu memengaruhi cara pikir seseorang  . Ada satu cara bagi mereka yang cepat bagi mereka mempunyai kekuasaan untuk memasukan akal–sehat ideologis kepada orang-orang, sebagaimana yang harus kita lihat. Tetapi selalu ada beberapa tingkatan perbedaan ideoogi, yaitu konflik dan pertentangan yang sesungguhnya, sehingga keserasian ideologi tidak tercapai.
Terkait dengan hal di atas, styawan menjelaskan  dapat dikatakan sebenarnya manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecakan persoalan dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa individu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran. Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran. Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi  pikiran. Ujaran merupakan sintesis dari proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman pesan tersebut hasil analisis kode. Orwell menjelaskan dalam novelnya (1984:331)  Tujuan newspeak (pengendali pikiran) bukan sekedar sebagai media ekspresi dari wawasan dunia dan kebiasaan berpikir dari penganut ingsoc, tetapi juga membuat pola-pola pikir lainya menjadi lumpuh.
3.    Bahasa Muslihat, Retorika dan Gaya Bahasa
Ada sebuah lelucon lama  sebagai berikut:
Pertanyaan: bagaimana caranya agar kita tahu kapan politisi berbohong?
Jawab: setiap kali mereka berbohong, mereka selalu menggerakan bibirnya (artinya politisi tidak pernah berhenti berbohong dan selalu berbohong).
Lulucon tersebut memberikan pemahaman kepada kita semua bahwa setiap politisi menyampaikan pendapat atau gagasan maka pasti memiliki unsur kepentingan kekuasaan didalamnya.
Para politisi sering menggunakan bahasa dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari rakyat untuk kepentingan meraih kekusaan. Sehingga para politisi tidak akan menggunakan bahasa biasa yang sering digunakan oleh orang lain terutama yang banyak terdapat di media masa. Hal ini dikarenakan penggunaan bahasa yang sering digunakan oleh orang lain atau politisi lain di media masa membuat unsur kepentingan politik akan semakin terlihat sehingga diperlukan bahasa yang belum pernah digunakan oleh politisi yang lain. Salah satuh contohnya dapat dilihat dari kandidat presiden Indonesia antara Megawati, Jusuf Kalla dan Amien Rais yang ketiga kandidat tersebut dalam iklan kampanye menggunakan bahasa argumentasi dari orang lain untuk menilai kebaikan dari kandidat tersebut. Berbeda halnya dengan kandidat SBY yang tidak menggunakan bahasa yang sama akan tetapi mencoba untuk mengubah salah satu jingle produk mie instan kedalam bahasa politik.
Kemudian politisi juga tidak akan menggunakan kata – kata yang terlalu panjang. Hal ini disebabkan penggunaan kata – kata yang terlalu panjang membuat kebosanan dan akan terjadi ketidak pemahaman terhadap maksud dari politisi tersebut. Sebaliknya politisi akan menggunakan bahasa yang singkat namun mencapai sasaran yang diinginkan. Misalnya para politisi ketika menggabungkan kedua nama pasangan kandidat mereka atau ketika menamakan program yang akan mereka lakukan.
Penggunaan bahasa dikalangan politisi juga selalu menggunakan bahasa yang aktif yang didalam bahasa tersebut akan ditunjukan kontribusi yang telah ia lakukan terhadap rakyatnya sehingga rakyatpun tertarik dari bahasa yang ia lontarkan.
Politisi menyadari bahwa bahasa yang ia gunakan dalam mencapai kekuasaan akan didengar dari semua golongan masyarakat, baik yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi hingga yang tidak mengenal pendidikan. Sehingga politisi akan menghindari bahasa – bahasa asing atau ilmiah yang sangat sulit dimengerti. Politisi akan menggunakan bahasa yang sangat akrab dipakai dikalangan masyarakat. Misalnya para kandidat calon bupati yang menggunakan bahasa daerah setempat yang mengandung makna politik.
Para politisi sangat akrab dengan kegiatan pidato dan orasi, dimana gagasan atau ide di tuangkan dalam bentuk lisan. Pidato atau orasi menggunakan teknik retorika, retorika merupakan suatu teknik penggunaan bahasa sebagai seni tulis maupun lisan yang didasarkan pada pengetahuan yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain ( Keraf, 2010: 3). Dalam kajian retorika pemilihan kata dan gaya bahasa diatur dan disesuaikan agar audiens tertarik dan simpati terhadap gagasan yang tuangkan dalam bentuk pidato.
Salah satu bentuk penggunaan gaya bahasa yang sering digunakan oleh politisi adalah gaya bahasa metofor yang merupakan analogi yang membangdingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat ( Keraf, 2010: 139). Misalnya penggunaan kalimat “kita memiliki prekomonian yang kuat” antara kata ekonomi dan kuat memiliki makna yang berbeda. Sedangkan kata ekonomi merupakan gagasan yang abstrak yang kemudian diikuti dengan kata kuat yang maknanya dilekatkan pada keadaan fisik. Hal ini menjadi pemahaman baru bagi audiens sehingga tertarik pada ucapan politisi. Contoh lain dalam penggunaan retorika misalnya pada pidato
Salah satu cara yang banyak digunakan dalam retorika politik adalah “pernyataan dalam tiga bagian”. Ini adalah sebuah strategi linguistic di mana hal – hal yang diutarakan dikelompokan menjadi tiga bagian. Pengelompok seperti ini bertujuan agar terasa lebih estetik. Seperti halnya salah satu partai di Indonesia yang mengatakan “ hanya dengan hati nurani kita dapat meresakan kesengsaraan, penderitaan, dan penderitaan”.
Pemilihan kata dalam penggunaan reorika politik sangat penting. Agar menimbulkan persepsi positif terhadap diri seorang politikus. Misalnya pada pidato Bush sebagai presiden Amerika.
Seperti yang sudah kami umumkan kemarin malam, kami tidak akan menyerang prajurit yang tidak bersenjata dan sedang bergerak mundur.
Kami tidak punya pilihan lain kecuali menggangap unit tempur yang sedang mundur sebagai ancaman sehingga kami bertindak sesuai dengan situasi… (bush menegaskan bahwa unit yang diserang tentara AS itu bersenjata)
Sejak awal dari operasi udara, hamper 6 minggu yang lalu, saya sudah mengatkan bahwa upaya saya berjalan sesuai dengan jadwal. Pagi ini dengan senang hati saya umumkan bahwa operasi yang dijalankan koalisi telah lebih awal dari jadwal. Kuwait akan bebas tidak lama lagi
Perhatikan dalam pidato tersebut dalam penggunaan kata kami dan saya. Penggunaan kata kami lebih mengarah pada keputusan yang diambil tidak berdasarkan seorang diri yang kemudian makna dari kalimat tersebut mengarah pada pembunuhan yang dapat memberikan stigma buruk jika menggunakan kata saya. Kemudian penggunaan kata saya diperuntukan pada sebuah keputusan seorang diri yang lebih cendrung untuk membangun kepribadian pahlawan dimana pada kalimat tersebut akan diberikan penekanan pembebasan suatu Negara.
B.    Kosakata Bahasa Politik
Pada setiap rezim penguasa timbul berbagai macam ragam bahasa yang digunakan untuk kepentingan kekuasaan. Ragam bahasa yang dikhususkan pada kosa kata yang digunakan untuk dilekatkan kepada orang-orang yang menentang kekuasaan pada saat itu atau yang digunakan untuk memudarkan fakta sosial baik dibidang politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.
Ragam bahasa politik yang dikemukakan oleh pemerintah disosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. Dengan menggunakan media massa (surat kabar) diharapkan informasi akan meluas, baik dalam jumlah orang maupun luas wilayah yang dapat dijangkaunya. Dalam mensosialisasikan bahasa politik dengan gaya bahasa yang khas melalui media massa, peran wartawan sangat diperlukan dalarn menjembatani informasi yang dituturkan pemerintah untuk disampaikan kepada masyarakat luas. Dalam hal ini wartawan tidak harus menyalin bulat-bulat apa yang disampaikan oleh pemerintah, tetapi sebaiknya disaring terlebih dahulu dengan menggunakan kata-kata yang lebih sederhana tanpa mengubah arti yang dimaksudkan. Media komunikasi dapat membantu melipatganda-kan pesan-pesan komunikasi yang disampaikan kepada masyarakat, baik secara regional, nasional, maupun internasional.

Ragam bahasa politik tersebut diantaranya:
1.    Rezim Orde Lama
Rezim orde lama merupakan rezim yang pertama kali memimpin bangsa Indonesia dimulai pada tahun 1945 sampai dengan 1965. Pada masa orde lama kosa kata yang muncul terbagi dalam beberapa tahap. Penjelasan ini dapat dilihat pada table dibawah ini.
No    Tahun    Kosa Kata
1.    Tahun 1945 sampai 1949    republik, Yogya, Nica, diplomasi, perjuangan, lasykar, bung, rakyat, federal, kooperator, nonkooperator
2.    Tahun 1950 sampai 1959    kabinet, mosi tidak percaya, lisensi istimewa, pemilihan umum, konstituante, pusat, daerah, berontak
3.     Tahun 1960 sampai 1965    Manipol Usdek, kontra revolusi, pemimpin besar revolusi, ganyang, setan kota, nasakom, indoktrinasi, nekolim

2.     Rezim Orde Baru
Razim orde baru merupakan rezim yang menggantikan rezim orde lama. Rezim ini berkuasa paling lama dibandingkan rezim-rezim kekuasaan sebelum dan sesudahnya rezim ini berakhir. Lebih tepatnya rezim ini berkuasa selama 32 (tiga puluh dua tahun) di bangsa Indonesia.
Interverensi yang paling nyata dari rezim kekuasaan orde baru terhadap bahasa adalah “pemiskinan makna”  dalam bahasa-bahasa yang sentralistik. Istilah terakhir ini tidak hanya dipakai pemerintah orde baru dalam bidang ekonomi, politik dan kekuasaan. Makna diikat dalam suatu kepentingan politik penguasa dan diberikan secara mentah-mentah kepada masyarakat untuk dipakainya. Otoritas makna dan dominasi public membuat bahasa-bahasa politik menjadi bermakna tunggal.
Ketika banyak kerusuhan dan penentangan terhadap kesewenang-wenangan, penguasa membuat kosakata, seperti “provokator dan “actor Intelektual”. Yang memiliki makna secara teknis sama dengan pelaku makar. Orang-orang yang dituduh sebaga provokator diposisikan sebaga musuh Negara dan harus dimusuhi oleh masyarakat banyak. Paling tidak, rezim orde baru telah membentuk warna berpikir yang seragam dalam bantuk dan polanya karena senantiasa dikontrol oleh kekuasaan.
Manusia yang hidup selama 32 tahun  dibawah kekuasaan orde baru, menurut Rahmat  memiliki karakteristik yang khas dan biasa untuk berpikir “berkelok-kelok” karena di satu sisi ingin disebut oleh public, namun di sisi lain tidak hendak “berhadapan” atau melakukan politik akomodasi dengan penguasa orde baru supaya tetap survive atau istilah psikologinya ego defense mechanism yang berarti mekanisme pertahanan ego. Sosok manusia orde ini oleh Rahmat disebut dengan nama “Homo Orbaicus” terjadinya model manusia “Orbaicus” ini dikarenakan terlalu lamanya berpikir yang melewati penataran P4 sejak SD, SMP, SMU, hingga PT.
Otoritas bahasa sebagai consensus sosial yang berstruktur dan berlogika sehingga menghasilkan makna yang “baik dan benar” telah hilang. Otosentris bahasa oleh penguasa terjadi pada struktur birokrasi dalam melaporkan peristiwa di daerahnya. Di saat banyak warga masyarakay mengalami krisis pangan, seorang Bupati memberikan laporn dan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Terjadilah manipulai bahasa berupa data yang dimaklumi dan dianggap benar sehingga di saat Indonesia dilanda kelaparan Menpen mengatakan kita tidak mengalami rawan pangan dikarenakan persediaan pangan cukup memadai.
Akibatnya masyarakat cukup hebat, dalam memaklumi dan menyukai bahasa-bahasa imbolis dan populis. Di jaman orde baru kita menganal sebuah program yang dinamakan “gerakan pembangunan” disanalah julukan kepada pemimpin penguasa dilekatkan yaitu “bapak pembangunan” hal ini menjadi alat untuk mempopulerkan diri dalam meraih simpati rakyat. Demikian juga julukan yang diberikan kepada pejabat yaitu “bermanis bibir” sehingga makna ini ditafsirkan sebaga pejabat yang tunduk dan patuh terhadap penguasa bukan lagi “pwtuh terhadap rakyat”.
Kesadaran akan besarnya pengaruh bahasa dalam kepentingan kekuasaan ole horde baru sehingga timbullah kebijakan terhadap pengontrolan bahasa pada media massa sehingga krtikan yang tergandung dalam bahasa yang berpotensi untuk menjatuhkan keuasaan orde baru sangat dilarang keras.
Kemunculan kosa kata pada zaman orde baru yang bertujuan dalam “pengamanan” kekuasaan diantaranya:
No    Tahun    Kosa Kata
1.    Tahun 1965 sampai dengan Tahun 1998    Anti pembangunan, ekstrim kanan, ekstrim kiri, GPK, SARA, OTB, kiri baru, bersih diri, bersih lingkungan, subversi, kecemburuan sosial.

3.    Era Reformasi dan Demokrasi
Era reformasi dimulai semenjak runtuhnya penguasa orde baru pada tahun 1998. Peristiwa ini sekaligus membuka lembaran baru bagi bangsa Indonesia. simbol penguasa orde baru menyerahkan kekuasaannya pada wakilnya dan dalam proses kepemimpinannya hanya bertahan pada 522 hari.
Keruntuhan masa kepemiminan ini sekaligus diikuti oleh perkembangan bahasa-bahasa kritikan seperti tuduhan korupsi, kolusi dan nepotisme, kemudian lukidasi, krisis moneter, legitemasi, konstitusional, inkontisonal,sembilan bahan pokok.
kaki tangan penguasa dan lain-lain. Fenomena kebahasan yang muncul pada ruang public ini dikarenakan pada masa orde baru bahasa-bahasa keras tidak diperbolehkan sehingga pelampiasan pengekangan bahasa terjado di era reformasi.

C.    Melurukan Posisi Bahasa
Bahasa memiliki peranan yang sangat besar dalam mencapai keinginan. Seolah bahasa merupakan sebuah alat yang digunakan oleh manusia untuk mendapatkan atau memenuhi keinginannya. Namun, juga harus disadari penggunaan bahasa dengan maksud mencapai kekuasaan dengan cara memanipulasi bahasa dari yang fakta menuju kebohongan atau dari yang bersifat bebasa menjadi terikat dalam posisi yang mengekang maka hal ini menjadi sala dalam penggunaan bahasa. hal ini dikarenakan sifat bahasa tidak terlapas dari moralitas antara penutur dan lawan tutur atau pengguna bahasa.
Dalam kaitanya dengan bahasa dan politik maka beberapa hal yang perlu penulis sampaikan dalam makalah ini yaitu:
1.    Bahasa harus digunakan sebaik mungkin dalam pencapain keinginan si pemakai bahasa.
2.    Penggunaan bahasa pada area public harus mengacu pada penggunaan bahasa yang benar dan sesuai dengan kaidah kebahasan agar tidak terjadi salah persepsi bahasa.
3.    Penggunaan bahasa tidak relepas dari moralitas pemakai bahasa.
4.    Bahasa harus lepas dari kepentingan kekuasaan yang mengekang terhadap pemakai bahasa.
5.    Bahasa harus relevan dengan fakta sosial.

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pembahasan makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Bahasa memiliki peranan penting dalam mencapai kekuasaan
2.    Bahasa dapat mempertahankan kekuasaan dan meruntuhkan kekuasaan
3.    Bahasa sebagai alat pengendali politik
4.    Bahasa sebagai alat pengendali pikiran
5.    Bahasa menunjukan ideologi pemakai bahasa
6.    Ragam bahasa politik bermunculan seiring pergantian rezim kekuasaan pada suatu bangsa
7.    Dalam penggunaan bahasa untuk kepentingan politik harus mengacu pada kaidah kebasaan dan yang paling penting adalah tidak menggunakan bahasah sebagai mengekang dan membohongi.
B.    Saran
1.    Kajian terhadap bahasa dan politik sangat menarik untuk dilihat dari sudut pandang sosiolinguistik. Sehingga dapat dijadikan bahan penelitian pada masa mendatang.
2.    Kajian terhadap bahasa politik sekaligus memberikan arahan pada pemakai bahasa dalam dunia politik agar menggunakan bahasa berdasarkan kaidah bahasa dan norma sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, abdul. dan Leoni  Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rieneka Cipta
Fairlough, Norman.2003. langguage and power relasi bahasa, kekuasaan dan ideologi. Malang: Boya Publishing
Keraf, Goris. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Ikrar Mandiriaabadi
Tarigan. H. G. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung:Angkasa
Thomas, Linda. Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat dan kekuasaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Rahmat, Jalaludin. 1999. Rekayasa Sosial, Reformasi atau Revolusi. Bandung: Remaja Rosdakarya. h. 142
Styawan, Susilo Adi. 2009. Pikiran Bahasa dalam Kajian Psikolinguistik. http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/2009/10/21/pikiran-dan-bahasa-dalam-kajian-psikolinguistik/ diakses 13 juli 2012.

Study Kasus Penelitian Kualitatif

Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif
Studi Kasus
Oleh: Jepridin dan Bonefassius Rampung
A.    Pengantar

Studi kasus yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif yang dipergunakan dalam secara luas dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, baik dalam bidang psikologi, sosiologi, politik, antropologi, sejarah dan ekonomi maupun pada bidang ilmu-ilmu praktis seperti dibidang pendidikan, dan lain sebagainya. Bahkan untuk sebagaian orang dihubungkan dengan penelitian kuantitaif.  Sehingga hal ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam. dalam penulisan ini akan membahas bagaimana pandangan, posisi, pengertian, dan jenis penelitian kualitatif? Bagaimanakah studi kasus dalam konteks penelitian kualitatif? Dan bagaimanakah studi kasus sebagai bagian dari suatu metode kualitatif.

B.    Pandangan, Posisi, Pengertian, dan Jenis Penelitian Kualitatif
Munculnya aneka  Jenis dan Metode dalam penelitian tidak bisa dipisahkan dari pemikiran dialektis atau adanya perbedaan cara pandang dari orang terhadap realitas. Dalam kaitannya dengan penelitian dikenal berbagai jenis penelitian . Kline (1980) membedakan penelitian berdasarkan tujuan, metode, dan tingkat penjelasannya. Berdasarkan tujuannya penelitian dibedakan menjadi penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluasi. Berdasarkan metodenya penelitian dibedakan menjadi penelitian, Historis,  Deskriptif,  Perkembangan, Kasus atau Studi Lapangan, Korelasional, Tindakan, Komparatif, Eksperimental, Kualitatif. Berdasarkan tingkat penjelasan ada penelitian Penjelasan deskriptif, Asosiatif, dan  Kausalitas. Klasifikasi lain dilakukan  Danim (2002) yang membedakan dua metode penelitian yaitu penelitian kuantitatif  dan penelitian kualitatif.   Penelitian kuantitatif bertipe Deskriptif,  Perkembangan, Tindakan, Perbandingan-Kausal, Korelasional, Eksperimental Semu, Eksperimental.  Penelitaian Kualitatif bertipe Fenomenologi, Grounded, Etnografi, Historis, Fisolofis, Kritik Sosial
Dalam cara yang lain Newman (1997)  menyebutkan enam ciri utama penelitian kualitatif yaitu (a) The context is critical, mengutamakan konteks sosial, (b) The value of the case study, menggunakan pendekatan studi kasus, (c) Researcher integrity, (d) Grounded theory, membangun teori dari data, induktif, (e) Process and sequence, mencermati proses dan urutan perintiwanya (f) Interpretation, interpretasinya mendalam. Klasifikasi Newman ini diperluas lagi dalam klasifikasi  Lincoln dan Guba (1985) yang menyebutkan 14 karakteristik penelitian kualitatif (a) Natural setting (b) Human instruments (c) Utilization of tacit knowledge (d) Qualitative methods (e) Purposive sampling (f) Inductive data analysis (g) Grounded theory (h) Emergent design (i) Negotiated outcomes (j) Case study reporting mode (k) Idiographic interpretation (l) Tentative application (m)Focus determined boundaries (n) Special criteria for trustworthiness.
berbagai pandangan di atas merupakan saripati dari beberapa pengertian tentang hakikat penelitian kualitatif. Strauss dan Corbin (1997): qualitative research adalah penelitian yang menghasilkan temuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara kuantifikasi lainnya. Bogdan dan Taylor (1975): prosedur penelitian yang bertujuan mengumpulkan dan menganalisis data deskriptif berupa tulisan,  ungkapan lisan dari orang dan perilakunya yang dapat diamati. Kirk dan Miller (1986): penelitian kualitatif merupakan tradisi dalam ilmu sosial yang secara mendasar bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam lingkungannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut menurut bahasa dan peristilahannya. Penelitian kualitatif bertujuan mengumpulkan data dalam setting alamiah, yang akan digunakan untuk menyusun teori melalui analisis data secara induktif.
Jenis penelitian Kualitatif juga dirumuskan secara berbeda. Bogdan dan Biklen (1982) misalnya menyebutkan begitu banyak jenis penelitian kualitatif dalam varian penamaannya antara lain dikenal dengan sebutan: Interpretative research,  Verstehen, Hermeneutics, Ethnomethodology, Ethnography, Cognitive research, Field research, Idealist research, Subjectivist, Phenomenological research, Symbolic interactionism,  Naturalistic, Constructivism, Grounded research, Studi Kasus,  Perspektif ke dalam, Ekologis, Deskriptif. Pengelompokan yang lebih sederhana dilakukan Danim (2000) yang merumuskan  tujuh jenis penelitian kualitatif: Penelitian Fenomenologi, Grounded, Etnografi, Historis, Studi Kasus, Inquiry Filosofis, dan Teori kritik sosial
C.    Studi Kasus dalam Konteks Penelitian Kualitatif
Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif sebenarnya lahir hampir bersamaan tetapi dalam perkembangan keduanya jauh berbeda. Metode Penelitian Kuantitatif  berakar pada paradigma filsafat positivisme berkembang sangat pesat, terutama pada ilmu-ilmu alam. Sementara itu, Metode Penelitian Kualitatif berangkat dari paradigma interpretivisme dinilai sangat lambat, hingga seolah-olah metode ini lahir belakangan. Bahkan, tidak sedikit yang mengaitkan kelahiran Metode Penelitian Kualitatif bersamaan dengan kelahiran sosiologi. Jadi masih relatif baru, sehingga bisa dimaklumi jika perkembangannya tidak secepat Metode Penelitian Kuantitatif.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
Dalam tradisi keilmuan, penelitian kualitatif dikenal juga terminologi studi kasus (case study) sebagai sebuah jenis penelitian. Studi kasus diartikan sebagai  metode atau strategi dalam penelitian untuk mengungkap kasus tertentu. Ada juga pengertian lain, yakni hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu. Jika pengertian pertama lebih mengacu pada strategi penelitian, maka pengertian kedua lebih pada hasil penelitian. Dalam sajian pendek  ini diuraikan pengertian yang pertama.
Selain studi kasus, ada fenomenologi, grounded theory, etnografi, dan etnometodologi yang masuk dalam varian penelitian kualitatif. Penelitian studi kasus memusatkan perhatian pada satu objek tertentu yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas di balik fenomena. Sebab,  yang kasat mata hakikatnya bukan sesuatu yang riel (realitas). Itu hanya pantulan dari yang ada di dalam.
Sebagaimana lazimnya perolehan data dalam penelitian kualitatif,  data studi kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, baik melalui wawancara, observasi, partisipasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari berbagai cara itu hakikatnya untuk saling melengkapi. Ada kalanya data yang diperoleh dari wawancara belum lengkap, sehingga harus dicari lewat cara lain, seperti observasi, dan partisipasi.
Dalam perbandingannya dengan dengan metode penelitian kuantitatif yang menekankan jumlah atau kuantitas sampel dari populasi yang diteliti, penelitian model studi kasus lebih menekankan kedalaman pemahaman atas masalah yang diteliti. Karena itu, metode studi kasus dilakukan secara  intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu gejala  atau fenomena  tertentu dengan lingkup yang sempit. Kendati lingkupnya sempit, dimensi yang digali harus luas, mencakup berbagai aspek hingga tidak ada satu pun aspek yang tertinggal. Oleh karena itu, di dalam studi kasus sangat tidak relevan pertanyaan-pertanyaan seperti berapa banyak subjek yang diteliti, berapa sekolah, dan berapa banyak sampel dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa sebagai varian penelitian kualitatif, penelitian studi kasus lebih menekankan kedalaman subjek ketimbang banyaknya jumlah subjek yang diteliti.
Merujuk pada sifat metode penelitian kualitatif pada umumnya, metode studi kasus juga dilakukan terhadap peristiwa atau gejala yang sedang berlangsung. Bukan gejala atau peristiwa yang sudah selesai (ex post facto). Segmen dan Unit analisis dalam studi kasus ini bisa berupa individu, kelompok, institusi, atau masyarakat.  Penelitian studi kasus harus dilakukan secara dialektik antara bagian dan keseluruhan. Maksudnya, untuk memahami aspek tertentu perlu diperoleh gambaran umum tentang aspek itu. Sebaliknya, untuk memperoleh gambaran umum diperlukan pemahaman bagian-bagian khusus secara mendalam.
Untuk memperoleh pengetahuan secara mendalam, data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari kasus yang diteliti, tetapi juga dari semua pihak yang mengetahui dan mengenal kasus tersebut dengan baik. Data atau informasi bisa dari banyak sumber, tetapi perlu dibatasi hanya pada kasus yang diteliti. Untuk memperoleh informasi yang mendalam terhadap sebuah kasus, maka diperlukan informan yang andal yang memenuhi syarat sebagai informan, yakni maximum variety, yakni orang yang tahu banyak tentang masalah yang diteliti, kendati tidak harus bergelar akademik tinggi.
Ada beberapa persoalan yang sering muncul berkaitan dengan metode penelitian studi kasus. Persoalan itu berkaitan dengan perbedaannya yang mencolok  dibandingkan dengan metode yang lain. Penelitian studi kasus menekankan kedalaman analisis pada kasus tertentu yang lebih spesifik. Metode ini sangat tepat dipakai untuk memahami fenomena tertentu di suatu tempat tertentu dan waktu yang tertentu pula. Misalnya, tentang metode pengajaran matakuliah tertentu, di lembaga pendidikan tertentu dalam waktu tertentu ( yang masih dalam proses).
Pertanyaan lain yang tidak kalah seringnya adalah apa hasil penelitian studi kasus bisa digeneralisasi atau berlaku secara umum. Istilah generalisasi tidak dikenal dalam metode penelitian kualitatif, hasil studi kasus memang tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi, karena lingkupnya sempit. Sebagai padanannya dikenal istilah transferabilitas, yakni hasil penelitian itu bisa (berpotensi, berpeluang, berkemungkinan)  berlaku di tempat lain dengan pengandaian  tempat lain itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan tempat atau seting tempat penelitian itu dilakukan. Transferabilitas semacam itu bisa dilakukan jika penelitian bisa sampai tahap temuan formal, bukan sekadar substantif. Umumnya penelitian hanya berakhir pada temuan substantif, yakni ketika masalah yang diajukan terjawabkan  berdasarkan data. Padahal, masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui jika diharapkan penelitian menjadi karya ilmiah yang baik, yaitu tahap temuan formal, berupa thesis statement dari hasil abstraksi temuan substantif.
Sajian berikut mencoba mengurai bagaimana posisi Metode Penelitian Kualitatif saat ini dan ke depan dengan melihat kecenderungan yang terjadi pada masyarakat modern ini. Sebagian besar  isinya disari dari karya Hubert Knoblauch (dalam Flick et al; 2004: 354-362). Sajian ini juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam dan bertukar pengetahuan, khususnya dengan para peminat dan pengkaji Metode Penelitian Kualitatif di berbagai disiplin ilmu, sekaligus  untuk menambah rasa percaya diri para peminatnya. Berikut uraian singkatnya.
Tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk memahami (to understand) fenomena atau gejala sosial dengan lebih menitik beratkan pada gambaran yang lengkap tentang fenomena yang dikaji dari pada memerincinya menjadi variabel-variabel yang saling terkait. Harapannya ialah diperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena untuk selanjutnya dihasilkan sebuah teori. Karena tujuannya berbeda dengan penelitian kuantitatif, maka prosedur perolehan data dan jenis penelitian kualitatif juga berbeda.
Dari berbagai pandangan paling kurang ada delapan jenis penelitian kualitatif dan salah satunya adalah penelitian Studi Kasus. Kedelapan jenis penelitian kualitatif itu adalah etnografi (ethnography), studi kasus (case studies), studi dokumen/teks (document studies), observasi alami (natural observation), wawancara terpusat (focused interviews), fenomenologi (phenomenology), grounded theory, studi sejarah (historical research).
Etnografi(Ethnography) merupakan studi yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau sebuah kelompok sosial tertentu untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sisi pandang pelakunya. Para ahli menyebutnya sebagai penelitian lapangan, karena memang  dilaksanakan di lapangan dalam latar alami. Peneliti mengamati perilaku seseorang atau kelompok sebagaimana apa adanya. Data diperoleh dari observasi sangat mendalam sehingga memerlukan waktu berlama-lama di lapangan, wawancara dengan anggota kelompok budaya secara mendalam, mempelajari dokumen atau artifak secara jeli.
Studi Dokumen/Teks (Document Study) merupakan kajian yang menitik beratkan pada analisis atau interpretasi bahan  tertulis berdasarkan  konteksnya. Bahan bisa berupa catatan yang terpublikasikan, buku teks, surat kabar, majalah, surat-surat, film, catatan harian, naskah, artikel, dan sejenisnya. Untuk memperoleh kredibilitas yang tinggi peneliti dokumen harus yakin bahwa naskah-naskah itu otentik. Penelitian jenis ini bisa juga untuk menggali pikiran seseorang yang tertuang di dalam buku atau naskah-naskah yang terpublikasikan.
Pengamatan Alami (Natural Observation) penelitian kualitatif dengan melakukan observasi menyeluruh pada sebuah latar tertentu tanpa sedikitpun mengubahnya. Tujuan utamanya ialah untuk mengamati dan memahami perilaku seseorang atau kelompok orang dalam situasi tertentu.
Wawancara Terpusat (Focused Interviews) dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan yang sudah didesain untuk mengetahui respons subjek atas isu tertentu. Dengan pertanyaan yang tidak tersrtuktur dan terbuka, penelitian ini sangat fleksibel untuk memperoleh respons yang muncul dengan cepat  atas sebuah isu. Pertanyaan pun bisa berkembang sesuai situasi yang terjadi. Para pendidik bisa menggunakan penelitian jenis ini untuk mengetahui pendapat mereka tentang hubungan siswa yang memiliki ras atau asal usul yang berbeda yang ada di sebuah sekolah.
Fenomenologi (Phenomenology) merujuk pada tiga konsep (1) salah satu nama teori sosial (2) sebagai salah satu jenis paradigma penelitian yang dipertentangkan dengan positivistik yang mendasari penelitian kuantitatif, maka fenomenologi merupakan akar-akar metode penelitian kualitatif (3) merujuk pada penelitian kualitatif dengan konsep dasar bahwa kompleksitas realitas disebabkan oleh pandangan, perspektif subjek.
Grounded Theory dimaksudkan untuk mengembangkan teori bertolak  dari fenomena sosial yang ditemukan di lapangan. Pengalaman bergulat dengan data melahirkan pemahaman, pertanyaan, dan hipotesis yang memandu peneliti memusatkan perhatian pada isu tertentu. Semakin  banyak data, peneliti semakin memperoleh insight yang tajam dan mendalam tentang isu yang diteliti. Pertanyaan penelitian dipertajam setelah peneliti melakukan pengumpulan data di lapangan. Disebut grounded , sebab teori dilahirkan dari data, bukan dari teori sebelumnya.
Penelitian Historis (Historical Research) mengkaji dokumen atau artifak untuk memperoleh pengetahuan tentang apa yang terjadi di masa lampau. Pemahaman yang lengkap dan utuh tergantung pada ketepatan dan kelengkapan data dan catatan peneliti tentang dokumen tersebut. Misalnya, seorang peneliti pendidikan ingin mengetahui kecenderungan yang terjadi di sebuah sekolah di wilayah tertentu sejak awal berdirinya hingga sekarang dengan fokus perhatian pada isu tunggal. Misalnya, metode pengajarannya, kecenderungan asal siswa, setelah siswa lulus, matapelajaran yang disukai, kecenderungan model belajarnya, dan sebagainya
D.    Studi Kasus (Case Studies) sebagai Suatu Metode
Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh diskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah entitas. Studi kasus menghasilkan data untuk selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori. Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsip.
Creswell (1998) menjelaskan bahwa suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian studi kasus apabila proses penelitiannya dilakukan secara mendalam dan menyeluruh terhadap kasus yang diteliti, serta mengikuti struktur studi kasus seperti yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba (dalam Heigham dan Croker, 2009), yaitu permasalahan, konteks, isu, dan pelajaran yang dapat diambil. Banyak penelitian yang telah mengikuti struktur tersebut tetapi tidak layak disebut sebagai penelitian studi kasus karena tidak dilakukan secara menyeluruh dan mendalam. Penelitian-penelitian tersebut pada umumnya hanya menggunakan jenis sumber data yang terbatas, tidak menggunakan berbagai sumber data seperti yang disyaratkan dalam penelitian studi kasus sehingga hasilnya tidak mampu mengangkat dan menjelaskan substansi dari kasus yang diteliti secara fundamental dan menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian dan kecermatan untuk mencantumkan kata ‘studi kasus’ pada judul suatu penelitian, khususnya penelitian kualitatif.
Kasus sebagai objek penelitian dalam penelitian studi kasus digunakan untuk memberikan contoh pelajaran dari adanya suatu perlakuan dalam konteks tertentu. Kasus yang dipilih dalam penelitian studi kasus harus dapat menunjukkan terjadinya perubahan atau perbedaan yang diakibatkan oleh adanya perilaku terhadap konteks yang diteliti (Yin,2003). Menurut Yin, penelitian studi kasus pada awalnya bertujuan mengambil lesson learned yang terdapat di balik perubahan yang ada, tetapi banyak penelitian studi kasus yang ternyata mampu menunjukkan adanya perbedaan yang dapat mematahkan teori-teori yang telah mapan, atau menghasilkan teori dan kebenaran yang baru.
Dari sifat kasusnya yang kontemporer, dapat disimpulkan bahwa penelitian studi kasus cenderung bercorak korektif, bersifat memperbaiki atau memperbaharui teori. Dengan kata lain, penelitian studi kasus berupaya mengangkat teori-teori kotemporer (contemporary theories). Penelitian studi kasus berbeda dengan penelitian grounded theory, phenomenology, dan ethnography yang bertujuan meneliti dan mengangkat teori-teori mapan atau definitif yang terkandung pada objek yang diteliti. Ketiga jenis penelitian tersebut berupaya mengangkat teori secara langsung dari data temuan di lapangan (firsthand data) dan berusaha menghindari pengaruh teori yang telah ada sebelumnya. Sementara itu, penelitian studi kasus menggunakan teori yang sudah ada sebagai acuan untuk menentukan posisi hasil penelitian terhadap teori yang ada tersebut. Posisi teori yang dibangun dalam penelitian studi kasus dapat sekadar bersifat memperbaiki, melengkapi, atau menyempurnakan teori yang ada berdasarkan perkembangan dan perubahan fakta terkini.
Penelitian studi kasus menggunakan berbagai sumber data dalam usaha mengungkapkan fakta di balik kasus yang diteliti. Keragaman sumber data dimaksudkan untuk memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas data, sehingga kebenaran hasil penelitian meyakinkan. Fakta dicapai melalui pengkajian keterkaitan bukti-bukti dari beberapa sumber data sekaligus,seperti dokumen, rekaman, observasi, wawancara terbuka, wawancara terfokus, wawancara terstruktur, dan survey lapangan (Stake,1995; Creswell, 1998; Yin,2003). Untuk menghasilkan keseimbangan analisis dan untuk menjaga objektivitas hasil penelitian, peneliti juga harus memperhatikan fakta yang bertentangan dengan proposisi.
Meskipun tampaknya berbeda, pengertian tersebut pada dasarnya terarah  pada pemahaman yang sama. Penjelasannya tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi. Kelompok pengertian yang pertama memulai penjelasan dari adanya objek penelitian, yang disebut sebagai kasus, yang membutuhkan jenis penelitian kualitatif tertentu, dengan metode penelitian yang khusus, yaitu metode penelitian studi kasus. Sementara itu, kelompok yang kedua memandang penelitian studi kasus sebagai salah satu jenis metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk meneliti suatu objek yang layak disebut sebagai kasus.
Kedua kelompok pendapat ini memiliki kesamaan pemahaman, yaitu menempatkan penelitian studi kasus sebagai jenis penelitian tersendiri, sebagai salah satu jenis penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachmad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Sementara Yin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Dalam studi kasus peneliti hendaknya berusaha menguji unit atau individu secara mendalam dan utuh. Para peneliti berusaha menemukan semua variabel yang penting.
Studi kasus dalam pendidikan bahasa, misalnya, adalah bentuk penelitian pendidikan bahasa yang mendalam tentang suatu aspek pendidikan bahasa, termasuk lingkungan pendidikan bahasa dan manusia yang terlihat dalam pendidikan bahasa di dalamnya (Nunan, 1992). Oleh karena beberapa klasifikasi “kasus” sebagai objek studi (Stake, 1955) dan “kasus” lainnya dianggap sebagai suatu metodologi (Yin, 1994) maka penjelasan studi kasus merupakan studi yang mendetail yang dapat menggunakan banyak sumber data untuk menjelaskan sebuah variabel atau hal yang diteliti. Kasus bisa dipilih karena keunikannya atau kasus bisa digunakan untuk mengilustrasikan suatu isu.
Fokus penelitian dapat berupa satu entitas (penelitian di suatu tempat) atau beberapa entitas (studi multi tempat/multi-site). Penelitian ini mendeskripsikan kasus, analisis tema atau isu, dan interpretasi atau pembuktian penelitian terhadap kasus.  Studi kasus dalam pendidikan bahasa dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu, lingkungan hidup manusia, serta lembaga sosial yang terkait dengan pendidikan bahasa. Studi kasus dalam pendidikan bahasa dapat difokuskan pada perkembangan sesuatu di bidang pendidikan bahasa. Salah satu contoh yang bisa diangkat adalah penelitian yang dilakukan Soenjono Dardjowidjojo terhadap cucunya, Echa berkaitan dengan kasus pemerolehan bahasa anak Indonesia yang dilakukan secara  longitudinal sehingga pada akhirnya dapat dirumuskan kesimpulan berkaitan dengan Teori Pemerolehan Bahasa pada Anak Indonesia. Berdasarkan contoh ini dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk memahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.
E.    Etika
Penelitian studi kasus sering kali berkaitan dengan kepentingan umum, namun yang tidak diketahui adalah adanya ‘hak untuk tahu’ secara publik ataupun akedemis. Narasumber atau pusat informasi untuk mendapatkan data juga memiliki hak untuk tidak dipublikasikan identitasnya hal ini dikarenakan menyangkut privasi yang menjadi subjek dalam penelitian. Bagaimanapun juga, seorang peneliti merupakan tamu bagi tiap-tiap ruang subjek peneliti. Jadi, peneliti harus bisa bersikap baik kepada mereka dan kode etik harus benar-benar dipatuhi.
Norman dkk (2009: 312) memberikan penjelasan tentang kode etik penelitian studi kasus bahwa peneliti harus benar-benar mengkomunikasikan maksud dan tujuannya secara intens dengan sudut pandang dan situasi sang subjek, kerena bisa jadi penelitian tersebut dapat membahayakan kelangsungan hidup sang subjek, misalnya, jika hasil penelitian diekspos, sang subjek akan kehilangan harga diri, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan rasa percaya diri. Isu-isu seputar obsevasi dan repotasi harus benar-benar dikomunikasikan dengan sang subjek secara serius. Perlu juga peneliti untuk menjelaskan desain awal kepada partisipan yang memuat tentang bagaimanakah sebaiknya mereka ditampilkan, dikutip  dan ditafsirkan. Sedangkan bagi peneliti sendiri harus mendengar keluhan atau problem dari pertisipan. Jaminan kemanan juga harus menjadi bagian yang diperhitungan oleh peneliti dalam melaukan penelitian.

PEMBELAJARAN SINTAKSIS ANTARA TEORI AKADEMIS DAN PRAKTIS LINGUIS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa Nasional yang dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa Indonesia di seluruh wilayah NKRI ini. Oleh karena itu, bahasa Indonesia seharusnya mendapat perhatian yang paling utama dari seluruh bangsa, terutama dari para guru bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia adalah pilar sekaligus sebagai penyuluh bagi masyarakat penutur bahasa Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ilmu bahasa yang diajarkan oleh guru bahasa Indonesia disekolah merupakan kaidah atau patokan bagi masyarakat untuk selalu menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan bangsa dan selalu memelihara dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang sudah diketahuinya.
Seorang warga masyarakat Indonesia yang sudah mengetahui kaidah bahasa Indonesia pasti selalu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya. Dia selalu taat azas dalam memilih kata yang baik, tepat dan santun untuk membangun kalimat yang baik, logis, dan efektif. Unsur-unsur kebahasaan yang tidak perlu atau tidak pada tempatnya akan selalu dihindarinya, seperti istilah-istilah asing yang hanya bersifat pemborosan atau yang tidak relevan dengan konteks pembicaraan. Hal ini bisa terwujud bersumber pada kontribusi pengajaran bahasa Indonesia disekolah. Apabila guru bahasa Indonesia mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia dengan benar, pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar di masyarakat akan dapat terwujud sesuai dengan himbauan pemerintah.
Bahasa Indonesia sebagai suatu disiplin ilmu yang di pelajari sejak dari SD sampai pada perguruan tinggi memiliki struktur paten yang harus dikaji. Pengkajian struktur bahasa Indonesia yang sering dikenal sebagai linguistik bahasa Indonesia itu bertujuan tidak lain adalah untuk mendapatkan ilmu atau kaidah atau aturan bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Orang yang tidak tahu ilmu bahasa Indonesia akan terlihat jelas bagaimana kerusakan bahasanya baik dalam hal pemilihan katanya maupun dalam hal struktur kalimatnya. Bahasa Indonesia yang dipakainya sebagai alat komunikasi baik lokal, regional, maupun nasional hanyalah bahasa naluri yang diperolehnya dalam lingkungan kehidupanya.
Sebagai suatu ilmu yang berstruktur paten, linguistik bahasa Indonesia memiliki beberapa cabang kajian yaitu Fonologi, Morfologi, Sintasis, Semantik, Dan Etimologi. Kelima cabang kajian ini harus benar-benar dikuasai siswa sehingga mereka mampu baik dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di masyarakat maupun melanjutkan pendidikanya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi melalui cabang Fonologi orang bisa mengetahui bagaimana mengucapkan huruf dengan benar, menggunakan tanda baca dengan tepat dalam berkomunikasi tertulis. Dengan cabang Morfologi orang dapat memilih kosa kata dengan tepat sesuai dengan konteks pembicaraan. Dengan cabang Sintaksis orang dapat menulis atau mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, efektif dan santun. Dengan cabang semantik orang dapat memilih kata atau istilah dengan tepat dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dengan Cabang Etimologi orang dapat menggunakan istilah secara terarah, tidak asal pakai tanpa mengetahui asal usul kata atau istilah itu.
Dari kelima cabang kajian itu, cabang kajian yang paling utama adalah cabang kajian Sintaksis. Kalau berbicara mengenai Sintaksis, keempat cabang kajian yang lainnya tercakup di dalamnya. Sasaran kajian Sintaksis adalah kalimat. Sebuah kalimat pasti terdiri atas kata atau kata-kata, kata-kata terdiri atas fonem-fonem. Sebuah bangun kalimat selalu diikuti intonasi tertentu sesuai dengan maksud tertentu. Maksud yang terkandung di dalam kalimat itu didukung oleh pilihan kata yang tepat. Pendek kata, Sintaksis adalah cabang kajian inti dari linguistik bahasa Indonesia. Kita dapat menilai bahasa orang melalui kalimat yang diucapkannya itu.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak semua orang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini tentu dapat kita lihat dari bangun kalimatnya, pilihan kata, tekanan dan nadanya, pengucapanya, dan sebagainya. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk mengadakan penelitian khususnya tentang bagaimana pengajaran sintaksis dan hambatan-hambatan apa sajakah yang ada di dalam proses pembelajaran sintaksis itu.
Berangkat dari alasan ketertarikan ilmu sintaksis. tim peneliti mengadakan penelitian di salah satu sekolah di tarakan yang notabene bertaraf internasional, maka dalam proses penelitian terdapat berbagai masalah yang bersifat kontemporer. Maka dari pada itu tim peneliti menghimpunkan masalah tersebut kedalam suatu bentuk makalah dan mencoba menjawab dari kesulitan tersebut baik dari sudut pandang tim peneliti maupun dari pandangan para pakar.

B. Alasan Pemilihan Judul
Alasan utama dalam penelitian ini adalah:
1.    Sintaksis adalah struktur utama dari linguistik Bahasa Indonesia yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru-guru Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran
2.    Belum adanya penelitian sintaksis yang di lakukan di SMA NEGERI 1 Tarakan.

C. Batasan Masalah
Karena masalah program pembelajaran bahasa indonesia sangat luas, penilitian ini di fokuskan pada masalah sintaksis dan kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

D. Rumusan Masalah
1.    Sejauh manakah penguasaan sintaksis terhadap siswa-siswi SMA NEGERI 1 Tarakan?
2.    Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia.?

E. Tujuan Penilitian
Sesuai dengan terdapatnya masalah-masalah di atas maka, tujuan dari penulisan ini adalah:
1.    Memberikan Pengetahuan kepada pembaca cara pengajaran Sintaksis Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.    Mengetahui kendala-kendala yang di hadapi oleh siswa dalam memahami Sintaksis.

F. Manfaat Penilitian
Penulis berharap dari penulisan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan kita dan dapat berguna bagi pembaca dan khususnya bagi penulis yang kelak akan menjadi pengajar di sekolah-sekolah.

G. Penegasan Judul
Untuk menghindari salah persepsi dari pembaca, peniliti merasa perlu untuk mempertegas pengertian judul ”Pembelajaran Sintaksis Antara Teori Akademis dan Praktis Linguis”
1.    Pembelajaran adalah Suatu usaha sadar yang di lakukan,untuk mengkondisikan peserta didik untuk mendapatkan wawasan ilmu pengetahuan. Pendapat peneiliti ini sejalan dengan pendapat, Drs.H. Zainal Aqip, M.pd. yang mengatakan bahwa Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, meterial, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia.
2.    Sintaksis yaitu Cabang ilmu Linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech).
3.    Teori Akademis adalah suatu metode yang bersifat Ilmiah atau berlandaskan ilmu pengetahuan.
4.    Praktis Linguis adalah cara pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar secara praktis dan sesuai kaidah kebahasaan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pendidikan dan Pembelajaran
Menurut Bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan kegiatan pembinaan dan pengembangan bakat kodrati manusia yang di miliki sejak lahir yaitu cipta, rasa, dan karsa. Ketiga aspek kodrati ini oleh beliau di sebutnya Trisakti.
Trisakti ternyata sejalan dengan pandangan Benyamin S. Bloom yang mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran itu adalah kegiatan yang bertujuan membina dan mengembangkan tiga ranah kemampuan manusia yaitu kognitif, afektif, psikomotor. Afektif berkaitan dengan daya cipta untuk bidang ilmu pengetahuan. Afektif berkaitan dengan rasa/sikap mental yang berhubungan dengan sikap menghargai suatu ilmu pengetahuan. Psikomotor berkaitan dengan karsa keterampilan atau kemahiran untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran bahasa Indonesia menitikberatkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian siswa, hal ini berkaitan erat  dengan cipta, rasa, karsa atau kognitif, afektif, dan psikomotor. Cipta atau kognitif adalah penguasahan terhadap kaidah bahasa dengan akurat, rasa atau afektif bertujuan menciptakan sikap mental yang baik, rasa memiliki bahasa Indonesia. Sedangkan karsa atau psikomotor bertujuan menciptakan kemahiran menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar berdasar ilmu pengetahuan dan sikap mental yang positif
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, meterial, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan teori belajar, ada 5 pengertian Pembelajaran yaitu:
1.    Pembelajaran ialah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/siswa di sekolah.
2.    Pembelajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
3.    Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
4.    Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik, dan
5.    Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Jadi, Secara umum dari pendapat di atas, pembelajaran adalah suatu upaya menyampaikan pengetahuan, mewariskan kebudayaan, dan mengorganisasikan lingkungan sekolah dalam menyiapkan peserta didik  dalam menghadapi kehidupan di masyarakat.

B. Pengertian dan Batasan Sintaksis
Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis, ada yang mengatakan bahwa, ”Sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat” (Stryker, 1969:21).
Ada pula yang mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah analisis mengenai kontruksi-kontruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas. (Bloch and trager,1942:71)
Dan ada lagi yang mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yamg membicarakan struktur Frase dan kalimat” (Ramlan, 1976:57).
Dari keterangan-keterangan serta batasan-batasan diatas, peneliti membuat batasan sebagai berikut:
Sintaksis adalah salah satu cabang tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur. Frase,Klausa, dan Kalimat . Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat non predikatif, misalnya rumah mewah. Frase membicarakan hubungan antara sebuah kata dan kata yang lain. Pada contoh itu, baik rumah maupun mewah, tidak satupun yang berfungsi sebagai predikat. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dan berpotensi menjadi kalimat. Dengan kata lain, klausa membicarakan hubungan sebuah gabungan kata dan gabungan kata yang lain. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensi terdiri atas klausa. Dapat dikatakan bahwa kalimat membicarakan hubungan antara sebuah klausa dengan klausa yang lain.
C. Teori Akademis
Menurut KBBU ( 2003:18). Teori akademisi adalah suatu metode yang bersifat Ilmiah atau berlandaskan ilmu pengetahuan.
Dalam penerapan pembelajaran, guru bahasa Indonesia juga di tuntut untuk melakukan penerapan teori-teori pembelajaran dengan tujuan mengetahui kondisi kelas dan hambatan pembelajaran di kelas.Banyak hal yang menjadi penghambat bagi siswa dalam proses belajar bahasa Indonesia yaitu antara lain:
1.    Faktor Indogin, ialah faktor yang datang dari diri pelajar atau siswa sendiri. Faktor ini meliputi:
a.    Faktor Biologis (faktor yang bersifat jasmaniah) ialah faktor yang berhubungan dengan jasmaniah anak/pelajar atau siswa. Faktor ini misalnya:
1)    Kesehatan adalah faktor penting di dalam belajar. Pelajar atau siswa yang tidak sehat badanya, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Konsentrasinya akan terganggu dan pelajaran sukar masuk. Begitu juga dengan anak yang badanya lemah, sering pusing, dan sebagainya tidak akan tahan dalam belajar,dan mudah lelah.
2)    Cacat badan, dapat juga menghambat belajar,dan yang termasuk cacat badan, misalnya setengah buta, setengah tuli, ganguan bicara, tangan hanya satu dan lainnya. Anak-anak cacat seperti ini hendaknya di masukan dalam pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.
b.    Faktor Psikologis (faktor yang bersifat rohaniah) adalah faktor yang berhubungan dengan rohaniah. Termasuk dalam faktor ini adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, dan emosi.
1)    Faktor Itelegensi adalah faktor indogin yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Bilamana pembawaan inteligensi anak memang rendah maka anak tersebut akan sukar mencapai hasil belajar yang baik. Selain faktor inteligensi atau kecerdasan, ada pula faktor lain yaitu cacat-cacat mental dan cacat yang dibawah sejak lahir. Termasuk cacat ini adalah idiosi, embisilitas, dan dibilitas. Anak-anak yang tergolong embisil ialah anak-anak yang kecerdasannya sama dengan anak normal yang berumur kira-kira 3-7 tahun.
2)    Perhatian. perhatian juga merupakan faktor penting dalam usaha belajar anak. Untuk dapat menjamin belajar dengan baik, anak harus ada perhatian terhadap bahan yang di pelajarinya. Apabila bahan pelajaran itu tidak menarik baginya, maka timbullah rasa bosan, malas, dan belajarnya harus di kejar-kejar. Sehingga prestasi belajarnya menurun. Untuk itu, maka pendidikan harus mengusahakan agar bahan pelajaran yang di berikan dapat menarik perhatiannya.
3)    Minat. Bahan pelajaran yang menarik minat/keinginan anak akan di pelajari oleh anak dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya bahan yang tidak sesuai dengan minat/keinginan anak pasti tidak dapat di pelajari dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan untuk belajar. Minat sering kali timbul bila ada perhatian.
4)    Bakat. Bagi anak yang memiliki bakat dokter, ia selalu baik dengan belajarnya, sehingga ia selalu merasa senang dan selalu berusaha lebih giat lagi yang lebih baik. Bagi anak yang selalu gagal, maka kesenangan belajarnya akan makin berkurang dan mengalami kesukaran-kesukaran. Oleh karena itu, pengertian tentang bakat adalah hal yang juga menentukan dalam suksesnya belajar.
5)    Emosi. Dalam keadaan emosi yang mendalam ini tentu belajarnya mengalami hambatan-hambatan. Anak-anak semacam ini membutuhkan situasi yang cukup tenang dan penuh pengertian agar belajar dapat lancar.
C. faktor linguis ( faktor bahasa ). Bahasa Indonesia sebagai di siplin ilmu yang di pelajari di sekolah-sekolah memiliki struktur paten yang harus di kaji benar-benar. Sehingga ada siswa tertentu yang merasa kesulitan dalam belajar  mata pelajaran bahasa Indonesia.
2.    Faktor Eksogin, ialah Faktor yang datang dari luar pelajar atau siswa. Faktor ini meliputi:
a. Lingkungan Keluarga.  faktor ini meliputi:
1)    Faktor Orang Tua. faktor orang tua merupakan faktor yang besar    pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Orang tua yang dapat mendidik anak-anaknya dengan cara memberikan pendidikan yang baik tentu akan sukses dalam belajarnya. Faktor lain yang masih ada hubungannya dengan faktor orang tua adalah hubungan orang dengan anak. apakah hubungan itu bersifat acuh tak acuh atau diliputi suasana kebencian, atau sebaliknya di liputi oleh hubungan yang terlalu penuh kasih sayang, dan sebagainya. Adapun dengan hubungan orang tua dengan anak yang baik ialah hubungan yang penuh pengertian di sertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman, dengan tujuan untuk memajukan belajar anak. Bagitu juga contoh sikap yang baik dari orang tua sangat mempengaruhi belajar anak.
2)    Faktor Suasana Rumah. Lingkungan keluarga yang lain yang dapat mempengaruhi usaha belajar anak adalah faktor suasana rumah. Suasana rumah yang terlalu gaduh atau terlalu ramai tidak akan memberikan anak belajar dengan baik. Misalnya, rumah dengan keluarga besar atau banyak sekali penghuninya.
3)    Faktor Ekonomi Keluarga. Faktor ekonomi keluarga banyak menetukan juga dalam belajar anak. Misalnya, anak dari keluarga mampu dapat membeli alat-alat sekolah dengan lengkap, sebaliknya anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat membeli alat-alat itu. Dengan alat yang tidak serba lengkap inilah, maka hati anak-anak menjadi kecewa, mundur dan putus asa sehingga dorongan belajar mereka kurang sekali.
b. Lingkungan Sekolah. Lingkungan sekolah kadang-kadang juga menjadikan faktor hambatan bagi anak termasuk dalam faktor ini misalnya:
1)    Cara penyajian belajar yang kurang baik.
2)    Hubungan guru dan murid kurang baik
3)    Hubungan antara anak dengan anak kurang menyenangkan
4)    Bahan pelajaran yang terlalu tinggi di atas ukuran normal kemampuan anak.
5)    Alat-alat belajar di sekolah yang serba tidak lengkap.
6)    Jam-jam pelajaran yang kurang baik. Misalnya, sekolah yang masuk siang di mana udara yang sangat panas mempunyai pengaruh yang melelahkan
c. Lingkungan Masyarakat. Termasuk lingkungan masyarakat yang dapat menghambat kemajuan belajar anak ialah:
1)    Media massa, seperti bioskop, radio, televisi, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Semua ini dapat memberi pengaruh yang kurang baik terhadap anak.
2)    Teman bergaul yang memberikan pengaruh yang tidak baik.
3)    Adanya kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, misalnya adanya tugas-tugas oraganisasi, olahraga, seni dan sebagainya
4)    Corak kehidupan tetangga.
d.  Pendekatan CBSA Dalam Pembelajaran
Pemanfaatan CBSA dalam pembelajaran dalam bentuk pemanfaatan waktu Luang, pembelajaran individual, belajar kelompok, tanya jawab, umpan balik, pendayagunaan lingkungan masyarakat, pengajaran unit, pameran/display, dan mempelajari buku sumber (teks).
Penggunaan pendekatan cara belajar siswa aktif adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitikberatkan pada kreatif siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Rasional penerapan CBSA dalam sistem pembelajaran adalah pandangan mengenai siswa sebagai objek pembelajaran dan subjek yang belajar, titik berat proses pembelajaran pada keaktifan siswa dan keaktifan guru, peran dan fungsi guru secara aktif dan kreatif, dan kadar CBSA terletak pada banyak keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar dilihat dari segi masukan, proses, dan produksi.
Kebaikkan CBSA dinilai dari prakarsa siswa mengemukakan pendapat, keterlibatan mental dalam kegiatan belajar, fungsi guru sebagai fasilitator, belajar dengan pengalaman langsung, variasi bentuk dan alat kegiatan belajar-mengajar, dan kesulitan interaksi antar siswa. Kelemahan CBSA terletak pada menurunnya kadar CBSA itu sendiri pada siswa, penggunaan metode kurang bervariasi, kemampuan guru melaksanakan CBSA masih kurang, dan kurangnya literatur/bacaan. Penyelenggaraan CBSA berdasarkan rambu-rambu, antara lain:
1)    Derajat partisipasi dan responsif siswa yang tinggi.
2)    Keterlibatan siswa dalam pelaksanaan/pembuatan tugas.
3)    Kesadaran guru mengenai tujuan yang hendak dicapai.
4)    Penggunaan metode pengajaran secara bervariasi.
5)    Penyediaan media dan peralatan dan fasilitas belajar.
6)    Perlunya bimbingan dan pengajaran remedial pada waktu tertentu  sesuai dengan
Kebutuhan. keterampilan proses berdasarkan pertimbangan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dan guru, proses mengalami secara langsung melalui interaksi dengan lingkungan, proses untuk mengembangkan kemampuan dasar, dan relajar bagaimana belajar untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Pendekatan keterampilan proses ahli pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan dasar yang lebih tinggi pada diri siswa dalam rangka menemukan dan mengembangkan fakta dan konsep serta menumbuh kembangkan sikap dan nilai.
Dengan pendekatan keterampilan proses hendak dikembangkan kemampuan-kemampuan mengamati, mengelompokan, menafsirkan, meramalkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan. Penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran antara lain dalam bentuk pemecahan masalah atau metode inquiry-discovery.

e. Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas
Peran guru Sangat besar dalam pengelolaan kelas karena guru sebagai penanggung jawab kegiatan belajar-mengajar di kelas. Guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar-mengajar. Guru harus penuh inisiatif dan kreatif dalam mengelola kelas karena gurulah yang mengetahui secara pasti situasi dan kondisi kelas terutama keadaan siswa dengan segala latar belakangnya. Dalam kaitanya dengan tugas pengelolaan kelas, ada beberapa peran guru yang harus dilakukan antara lain sebagai berikut:

1) Peran Sebagai Pengajar/Intruksional
Peran ini mewajibkan guru menyampaikan sejumlah materi pelajaran menyampaikan sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran yang berupa informasi, fakta serta tugas dan kerampilan yang harus dikuasai oleh siswa. Untuk itu, guru harus menguasai materi pelajaran, metode mengajar, dan teknik-teknik evaluasi.  itu, guru harus selalu menambah dan memperluas wawasannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang saat ini.
Dalam melaksanakan perannya sebagai pengajar, hal-hal yang perla dilakukan guru adalah :
a) Menyusun program pengajaran selama kurun waktu tertentu secara berkelanjutan.
b)  Membuat persiapan mengajar dan rencana kegiatan belajar mengajar untuk tiap bahan kajian yang akan diajarkan berkaitan dengan penggunaan metode tertentu.
c) Menyiapkan alat peraga yang dapat membantu terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
d)  Merencanakan dan menyiapkan alat evaluasi belajar .
e) Menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran yang merupakan program sekolah. Misalnya, program pengajaran pengayaan serta ekstra kurikuler.
f)  Mengatur tempat duduk siswa sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik serta daya tangkap siswa terhadap pelajaran.
2)  Peran Sebagai Pendidik / Educational
Tugas guru bukan saja mengajar, tetapi lebih dari itu mengantar siswa menjadi manusia dewasa yang cerdas dan berbudi luhur. Dalam hal ini, peran guru dalam pembentukan sikap, mental, dan watak sangat dominan. Dengan demikian, sistem ”guru kelas” sangatlah sesuai karena secara psikologis, siswa memerlukan ”guru” di sekolah sebagai pengganti orang tuanya. Oleh sebab itu, guru harus memperhatikan siswa terutama sikap, tingkah laku, ketertiban, dan kedisiplinannya. Disamping itu, guru juga harus memperhatikan kebiasaan-kebiasaan dan kelainan-kelainan, kesusaan, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing siswa.
3) Peran Sebagai Pemimpin/Manajerial
Peran ini bukan saja pada saat pelajaran berlangsung, tetapi juga sebelum dan sesudah pelajaran berlangsung. Guru adalah pemimpin dan penanggung jawab utama dikelasnya.oleh karena itu, yang terjadi di kelas dan yang berkaitan dengan siswa secara langsung atau tidak langsung menjadi tanggung jawab guru kelas. Sehubungan dengan itu, guru harus banyak tahu tentang latar belakang siswa-siswanya, baik segi sosial, ekonomi maupun budaya. Sebagai pemimpin kelas, guru harus mengadakan hubungan dengan sekolah lain, masyarakat sekitar sekolah, termasuk dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dilingkungannya. Oleh karena itu, hal-hal yang menyangkut tata usaha dan administrasi kelas termasuk juga dalam lingkup peran guru sebagai manajerial kelas.
Dalam menjalankan tugasnya, seorang guru setidaknya harus memiliki kemampuan dan sikap sebagai berikut:
a) Menguasai Kurikulum.
Kurikulum sebagai program pendidikan secara utuh, mempunyai kedudukan yang cukup penting dalam keseluruhan program pendidikan dan pengajaran. Oleh sebab itu, guru harus menguasai benar kurikulum dan garis-garis besar program pengajaran (GBPP) yang merupakan pedoman yang dapat mengarahkan dalam merencanakan program dan kegiatan belajar-mengajar dikelas. Tanpa penguasaan yang baik terhadap kurikulum yang berlaku, guru akan mengalami kesulitan dan kurang terarah dalam penyampaian materi kepada siswa.
Guru harus tahu batas-batas materi yang harus disajikan dalam kegiatan belajar, mengajar, baik peruasan  materi, konsep, maupun tingkat kesulitanya sesuai dengan yang digariskan dalam kurikulum.
Guru yang baik adalah guru yang berhasil dalam pengajaran dan mampu mempersiapkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu, maka setiap guru harus memiliki berbagai kemampuan atau kualifikasi profesional. Tugas profesional ini meliputi tugas-tugas mendidik (untuk mengembangkan kepribadian siswa), mengajar (untuk mengembangkan kemampuan berpikir), dan melatih (untuk mengembangkan keterampilan siswa).
b) Menguasai Materi setiap Mata Pelajaran
Guru sekolah dasar adalah guru kelas, artinya guru harus dapat mengajarkan berbagai materi pelajaran. Guru tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan bahan pelajaran yang telah ditetapkan, tetapi guru harus menguasai dan menghayati secara mendalam semua materi yang akan diajarkan. Oleh karena itu, dalam memberikan materi pelajaran guru mempunyai peranan dan tugas sebagai pengelola proses belajar-mengajar di kelas yang dituntut banyak inisiatif dan penuh kreatifitas. Jadi, penguasaan terhadap semua materi pelajaran mutlak dimiliki oleh seorang guru sekolah dasar.
c) Menguasai Metode dan Evaluasi Belajar
Salah satu kelemahan mendasar yang biasanya terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar justru terletak pada inti aktivitas pendidikan itu sendiri, yaitu pelaksanaan kegiatan mengajar yang melibatkan guru dan siswa serta interaksinya satu sama lain.
Dalam rangka kegiatan belajar-mengajar, guru harus menguasai berbagai metode, guru juga harus mampu memilih metode yang tepat sesuai materi pelajaran, tingkat kecerdasan siswa, serta lingkungan dan kondisi setempat, kemudian merancang menjadi satu program pengajaran yang baik dan terus diperbaiki serta disempurnakan.
Selanjutnya, guru harus mampu mengukur dan menilai hasil pekerjaan siswa, terutama sekali yang menyangkut kegiatan belajar-mengajar, baik proses maupun hasil belajarnya. Dengan demikian, guru harus menguasai teknik-teknik evaluasi yang diperlukan. Namun, bukanlah sampai disitu saja, guru seharusnya meneliti dan menelaah hasil evaluasi para siswa, kemudian menentukan langkah selanjutnya untuk memperbaiki dan menyempurnakan program belajar-mengajar.
d) Setia Terhadap Tugas
Profesi guru sangatlah berlainan dengan profesi lainnya karena pekerjaan guru menyangkut pertumbuhan, perkembangan fisik, dan intelektual seorang anak manusia. Segala kegiatan belajar-mengajar harus disiapkan secara matang. Untuk itu, guru harus benar-benar menyatu, menjiwai, dan menghayati tugas-tugas keguruannya. Guru-guru yang berhasil pada dasarnya adalah guru-guru yang mencintai tugasnya dan guru-guru yang setia terhadap tugasnya.
e) Disiplin dalam Arti Luas
Pendidikan adalah suatu proses, bersama proses itu anak tumbuh dan berkembang dalam belajar. Pendidik dengan sengaja mempengaruhi arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan terima serta berlaku dalam masyarakat. Kuat lemahnya pengaruh itu sangat bergantung pada tata disiplin yang ditetapkan dan dicontohkan oleh guru.
Di kelas, guru adalah pemimpin yang menjadi teladan dan panutan siswa-siswanya. Oleh sebab itu, disiplin bagi seorang guru merupakan bagian penting dari tugas-tugas kependidikan. Dalam hal ini, tugas guru bukan saja melatih sikap disiplin pada anak didiknya, tetapi juga lebih penting adalah mendisiplinkan diri sendiri sebagai ciri khas figur seorang guru.

D. Praktis Linguis
Linguistik adalah seperangkat ilmu pengetahuan yang di peroleh dengan jalan penerapan metode-metode ilmiah terhadap fenomena-fenomena bahasa (Tarigan 1984:2). Batasan ini membentangkan suatu garis pengikat yang jelas antara Linguistik ilmiah dengan studi bahasa yang non ilmiah (Hughes, 1968:11). Atau lebih singkat dan lebih padat lagi: Linguistik adalah telaah ilmiah mengenai bahasa (Cook, 1971:1).  Sedangkan praktis linguis adalah tata cara berbahasa yang baik dan benar serta sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
Pendapat-pendapat para pakar di atas telah memberikan batasan pengertian Linguistik sebagai ilmu yang mempelajari kebahasaan sedangkan, orang yang pakar bahasa disebut Linguis. Seorang linguis adalah seseorang yang spesialis dalam Linguistik, suatu studi sistematis atau telaah bersistem mengenai struktur dan fungsi bahasa.
Guru bahasa indonesia sebagai guru yang mengajarkan bahasa kepada peserta didik juga dituntut untuk mengetahui linguistik. Hal ini sangat penting karena guru berada pada posissi yang sentral bagi murid karena murid akan mengikuti tata cara atau gaya bicara guru dalam mentransfer ilmu kebahasaannya kepada peserta didik. Ciri-ciri secara umum  dari seorang pengajar sebagai praktek linguis yaitu:
1. Bahasa Taat Azas
2. Diksi Yang Tepat Sesuai Konteks.
3. Pola Pikir Yang Intuitif.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk menentukan daerah penelitan dengan menggunakan metode purposive yaitu suatu teknik pemilihan daerah penelitian yang di pandang mempunyai hubungan erat dengan masalah yang akan di teliti (kartono,1983) penelitian di lakukan di SMA NEGERI 1 TARAKAN  pada kelas 3 (tiga)  jurusan bahasa.

B. Responden
Responden yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini terdiri atas:
1.    Guru Bahasa Indonesia pada kelas Bahasa
2.    Siswa-siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN  pada kelas 3 (tiga) Bahasa.

C. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif yaitu metode penelitian suatu kelompok manusia, suatu kondisi, suatu pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat Deskriptif, gambaran atau lukisan secara Sistematis, manual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nasir, 1985)

D. Jenis dan Metode Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. data primer diperoleh langsung melalui kuisioner kepada Siswa-siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN, sedangkan data sekunder diperoleh dari guru bahasa di sekolah SMA NEGERI 1 TARAKAN.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Wawancara
Yaitu Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara wawancara langsung atau tanya jawab kepada Guru Bahasa Indonesia pada kelas bahasa.
b. Tes Daya Serap
Tes Daya Serap bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman dari materi yang diteliti.
c. Kuisioner
Penggunaan metode kuisioner bertujuan untuk mengumpulkan data pandangan Siswa-siswi terhadap cara mengajar guru bahasa Indonesia.
3. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, dilanjutkan langkah-langkah sebagai berikut, (Sutrisno, 2003) :
a.    Editing Data :  merupakan kegiatan meneliti kembali data yang diperoleh untuk mengetahui apakah data tersebut sudah baik dan benar untuk diproses lebih lanjut.
b.    Selanjutnya dilakukan Koding : yaitu mengklasifikasikan sumber Responden dan menglasifikasikan jawaban responden sesuai kategorinya.
c.    Menghitung Frekwensi : sumber responden maupun jawaban responden kemudian kita distribusikan ke dalam kategori-kategori dan frekwensinya dapat dihitung.
d.    Tabulasi : yaitu proses penyusunan data dalam bentuk tabel sehingga data dapat dibaca dengan mudah dan maknanya sudah dipahami.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di sekolah SMA NEGERI 1 TARAKAN, dikarenakan pada sekolah ini terdapat jurusan bahasa.

B.  Wawancara
Kolompok peneliti melakukan tahapan wawancara sebagai tahap awal dalam melakukan penilitian di SMA NEGERI 1 TARAKAN, hasil  wawancara dengan guru bahasa Indonesia di SMA NEGERI 1 TARAKAN sebagai berikut:
1.    Guru tidak mewajibkan siswa-siswi untuk mengikuti pengarang buku yang dimiliki atau digunakan oleh guru akan tetapi guru tetap mengarahkan murid untuk tetap memiliki buku yang sesuai dengan pembahasan.
2.    Antusias siswa-siswa secara horizontal.
3.    Siswa sangat memerlukan pengulangan materi.
4.    Penerapan metode khusus untuk guru harus dilakukan.
5.    Tingkat pemahaman dan kesulitan siswa berbeda-beda.
6.    Guru pernah terlambat, akan tetapi jarang sekali terjadi dan jika meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran berakhir guru memberikan tugas kepada siswa.
7.    Pelajaran sintaksis  telah di ajarkan pada kelas dua.
8.    Teknik penilaian guru mengacu kepada kognitif ( pemberian tugas), afektif (kehadiran), psikomotorik (kerapian siswa dan keberanian siswa tampil di depan kelas).
Dari hasil wawancara tersebut maka dapat dibuktikan dengan metode tes daya serap yang dilakukan oleh tim peneliti kepada siswa-siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN kelas tiga jurusan bahasa dan kuisoner yang di berikan kepada siswa. Hal ini yang membuktikan pernyataan  pendidik bahasa Indonesia serta cara pengelolaan kelas yang di lakukan pada kelas tiga jurusan bahasa.

C.  Sejauh Mana Siswa-Siswi Dapat Mengerti Pelajaran Sintaksis Bahasa Indonesia.
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Jawaban Tes Daya Serap Siswa-Siswi Jurusan Bahasa Indonesia.
NO    NAMA INISIAL SISWA-SISWI    NILAI JAWABAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
S T
S A
J O
D N
K G R
M A R
A R
T M
L C
A P
A A
M E
K S
J W
A R R
T N
S S
S K
R A

55
35
40
60
75
75
40
65
30
50
45
70
60
60
40
40
55
75
40

Jumlah Responden    19
Jumlah Nilai    1010
Nilai Rata-rata    53,15

Dari Tabel 1. Diatas Dapat Diketahui Bahwa Nilai Rata-Rata Siswa-Siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN Pada Jurusan Bahasa Adalah 53,15 hal ini menandakan bahwa nilai yang di peroleh siswa-siswi belum mencapai standar kopetensi belajar minimal (SKBM)  nilai minimum yaitu 65,00.

Tabel 2.  Sejauh Mana Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas

NO    Pertanyaan    1    2    3
1.    Mengetahui disiplin guru    5    1    13
2    Evaluasi belajar    11    7    1
3    Disiplin siswa    6    7    6
4    Metode pengajaran    0    17    2
5    Tugas siswa    0    18    1
6    Keinginan untuk di ajarkan dengan guru yang sama    2    17    0
Jumlah Presentase    24%    67%    21%

Keterangan : Jumlah Responden 19 orang untuk setiap pertanyaan
1 = Tidak
2 =  Iya
3 =  Netral / kadang-kadang
Untuk mengetahui cara pengelolaan kelas bahasa di SMA NEGERI 1 TARAKAN dapat di lihat dari tabel 2 di atas. Dari tebel 2 di atas dapat di ketahui bahwa disiplin guru bahasa Indonesia  kurang baik dalam kehadiran mengajar maupun mengakhiri jam pelajaran di sekolah, juga evaluasi belajar yang dilakukan pengajar sangat kurang. Akan tetapi disiplin siswa baik, metode pengajaran yang dilakukan guru sangat baik.
dan jumlah siswa yang bermasalah di kelas ada 4 orang, siswa tersebut belum pernah ditangani oleh guru bimbingan konseling.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di SMA NEGERI 1 TARAKAN pada kelas tiga bahasa  dapat di simpulkan bahwa meskipun disiplin siswa baik, metode pengajaran yang dilakukan guru sangat baik. Akan tetapi faktor yang mengakibatkan tidak tercapainya standar kopetensi belajar minimal (SKBM) siswa di karenakan disiplin guru bahasa Indonesia  kurang baik dalam tepat waktu untuk mengajar maupun mengakhiri jam pelajaran di sekolah, juga evaluasi belajar yang di lakukan pengajar sangat kurang, dan murid yang bermasalah yang dapat mempengaruhi siswa lain nya tidak ditangani oleh guru bimbingan konseling sebagai guru yang ahli dalam mengnangani masalah siswa.

B. Saran
1. Guru Bahasa Indonesia harus meningkatkan kedisiplinan dalam mengajar.
2. Evaluasi belajar di lakukan oleh guru bahasa Indonesia.
3. Siswa-Siswi yang bermasalah harus ditangani oleh guru bimbingan konseling (BK)

Lampiran: 1

Lampiran: 2
Daftar Pertanyaan dan jawaban wawancara
Guru SMA Negeri 1 TARAKAN
1.    Buku apa yang ibu pakai disaat mengajar ?
Jawab: buku-buku LKS, buku tata bahasa, kompetensi bahasa dan kesusastraan.
2.    Bagaimana antusias siswa disaat ibu mengajar ?
Jawab: biasa-biasa saja.
3.    Apakah sintaksis, linguistik, semantik, dan fonologi sudah pernah diajarkan kepada siswa ?
Jawab: sudah
4.    Diantara ke empat bidang kajian ilmu di atas apakah sintakis sulit di pahami oleh siswa ?
Jawab: mereka memahami sintaksis, tetapi kalimat pasif-aktif harus di ajarkan kembali.
5.    Kira-kira faktor apa saja yang menjadi alasan siswa sangat sulit memahami ?
Jawab: tentunya berbagai macam, hanya saja saya Belum pernah mengevaluasi hambatan belajar siswa.

6.    Metode – metode pengajaran apa saja yang dipakai dalam mengatasi kesulitan siswa ?
Jawab: biasanya, ketika saya merasa siswa mengalami kesulitan saya memberikan kesempatan untuk siswa bertanya dan kalau siswa merasa bosan atau merasa jenuh saya melakukan teknik belajar sambil bermain dengan cara saya memberikan tugas kalimat perindividu lalu di tukarkan kepada temannya yang lain dan kalimat tersebut di analisis, biasanya dengan cara tersebut siswa akan tertawa.
7.    Apakah ibu pernah mengalami keterlambatan ketika mengajar ?
Jawab: pernah
8.    Seberapa sering keterlambatan itu terjadi ?
Jawab: tidak terlalu sering akan tetapi ketika saya terlambat di karenakan saya ada keperluan yang sangat penting.
9.    Apakah ibu sering meninggalkan pelajaran disaat jam pelajaran masih berlangsung ?
Jawab: pernah, tetapi saya tetap memberikan tugas kepada siswa
10.    Di sekolah ini ada berapa kelas yang ibu ajarkan ?
Jawab: semua kelas bahasa.

11.    Apakah sebagian besar siswa-siswi yang ibu ajarkan di kelas tiga bahasa ini bermasalah ?
Jawab: ada, hanya beberapa orang
12.    Apakah sebagian besar siswa memiliki buku pegangan seperti yang ibu miliki ?
Jawab: saya tidak pernah menyuruh siswa untuk mewajibkan memiliki buku pegangan seperti yang saya miliki akan tetapi dari mereka mencari sumber-sumber belajar yang berkaitan dengan materi yang saya ajarkan.
13.    Seberapa sering ibu memberikan tugas ?
Jawab: setiap kali ada pertemuan belajar di kelas.
14.    Bagaimana hasil nilai ulangan dan tugas harian mereka ?
Jawab: baik
15.    Bagaimana cara ibu memberikan penilaian terhadap siswa ?
Jawab: kognitif, afektif, dan psikomotorik.
16.    Berapa siswa yang tidak lulus khususnya bidang studi bahasa indonesia ketika Ujian Akhir Nasional tahun 2007-2008 ?
Jawab: alhamdullilah, semua lulus.

Lampiran: 3
TES DAYA SERAP SISWA
SMA NEGERI 1 TARAKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO
TARAKAN
2008

Lampiran: 4

Lampiran : 5
PROSES PENGAWASAN TES DAYA DAYA SERAP SMAN 1 TARAKAN

FOTO BERSAMA SISWA-SISWI SMA NEGERI 1 TARAKAN DAN TIM PENELITI UNIVERSITAS BORNEO FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2008

Daftar pustaka

Arikunto, suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian,  Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Guntur, henry. 1993. Pengajaran Sintaksis, bandung: Angkasa.
Usman, M. Uzer, dan setiawati lilis. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Roseda Karya
Nasution. 2005. berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Aqip, Zainal. 2002. profesionallisme guru dalam pembelajaran, Surabaya: Insan Cendikia.
Arifin, E. Zainal, dan junaiyah. 2008. Sintaksis, Yakarta: PT Grasindo.
Kamus Besar bahasa Indonesia. 2004. Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka.
Kartono, 1983. pengantar metodelogi Research sosial, Alumni, Bandung.
Nasir, M. 1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta