PEMBELAJARAN SINTAKSIS ANTARA TEORI AKADEMIS DAN PRAKTIS LINGUIS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa Nasional yang dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa Indonesia di seluruh wilayah NKRI ini. Oleh karena itu, bahasa Indonesia seharusnya mendapat perhatian yang paling utama dari seluruh bangsa, terutama dari para guru bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia adalah pilar sekaligus sebagai penyuluh bagi masyarakat penutur bahasa Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ilmu bahasa yang diajarkan oleh guru bahasa Indonesia disekolah merupakan kaidah atau patokan bagi masyarakat untuk selalu menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan bangsa dan selalu memelihara dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang sudah diketahuinya.
Seorang warga masyarakat Indonesia yang sudah mengetahui kaidah bahasa Indonesia pasti selalu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya. Dia selalu taat azas dalam memilih kata yang baik, tepat dan santun untuk membangun kalimat yang baik, logis, dan efektif. Unsur-unsur kebahasaan yang tidak perlu atau tidak pada tempatnya akan selalu dihindarinya, seperti istilah-istilah asing yang hanya bersifat pemborosan atau yang tidak relevan dengan konteks pembicaraan. Hal ini bisa terwujud bersumber pada kontribusi pengajaran bahasa Indonesia disekolah. Apabila guru bahasa Indonesia mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia dengan benar, pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar di masyarakat akan dapat terwujud sesuai dengan himbauan pemerintah.
Bahasa Indonesia sebagai suatu disiplin ilmu yang di pelajari sejak dari SD sampai pada perguruan tinggi memiliki struktur paten yang harus dikaji. Pengkajian struktur bahasa Indonesia yang sering dikenal sebagai linguistik bahasa Indonesia itu bertujuan tidak lain adalah untuk mendapatkan ilmu atau kaidah atau aturan bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Orang yang tidak tahu ilmu bahasa Indonesia akan terlihat jelas bagaimana kerusakan bahasanya baik dalam hal pemilihan katanya maupun dalam hal struktur kalimatnya. Bahasa Indonesia yang dipakainya sebagai alat komunikasi baik lokal, regional, maupun nasional hanyalah bahasa naluri yang diperolehnya dalam lingkungan kehidupanya.
Sebagai suatu ilmu yang berstruktur paten, linguistik bahasa Indonesia memiliki beberapa cabang kajian yaitu Fonologi, Morfologi, Sintasis, Semantik, Dan Etimologi. Kelima cabang kajian ini harus benar-benar dikuasai siswa sehingga mereka mampu baik dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di masyarakat maupun melanjutkan pendidikanya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi melalui cabang Fonologi orang bisa mengetahui bagaimana mengucapkan huruf dengan benar, menggunakan tanda baca dengan tepat dalam berkomunikasi tertulis. Dengan cabang Morfologi orang dapat memilih kosa kata dengan tepat sesuai dengan konteks pembicaraan. Dengan cabang Sintaksis orang dapat menulis atau mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, efektif dan santun. Dengan cabang semantik orang dapat memilih kata atau istilah dengan tepat dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dengan Cabang Etimologi orang dapat menggunakan istilah secara terarah, tidak asal pakai tanpa mengetahui asal usul kata atau istilah itu.
Dari kelima cabang kajian itu, cabang kajian yang paling utama adalah cabang kajian Sintaksis. Kalau berbicara mengenai Sintaksis, keempat cabang kajian yang lainnya tercakup di dalamnya. Sasaran kajian Sintaksis adalah kalimat. Sebuah kalimat pasti terdiri atas kata atau kata-kata, kata-kata terdiri atas fonem-fonem. Sebuah bangun kalimat selalu diikuti intonasi tertentu sesuai dengan maksud tertentu. Maksud yang terkandung di dalam kalimat itu didukung oleh pilihan kata yang tepat. Pendek kata, Sintaksis adalah cabang kajian inti dari linguistik bahasa Indonesia. Kita dapat menilai bahasa orang melalui kalimat yang diucapkannya itu.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak semua orang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini tentu dapat kita lihat dari bangun kalimatnya, pilihan kata, tekanan dan nadanya, pengucapanya, dan sebagainya. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk mengadakan penelitian khususnya tentang bagaimana pengajaran sintaksis dan hambatan-hambatan apa sajakah yang ada di dalam proses pembelajaran sintaksis itu.
Berangkat dari alasan ketertarikan ilmu sintaksis. tim peneliti mengadakan penelitian di salah satu sekolah di tarakan yang notabene bertaraf internasional, maka dalam proses penelitian terdapat berbagai masalah yang bersifat kontemporer. Maka dari pada itu tim peneliti menghimpunkan masalah tersebut kedalam suatu bentuk makalah dan mencoba menjawab dari kesulitan tersebut baik dari sudut pandang tim peneliti maupun dari pandangan para pakar.

B. Alasan Pemilihan Judul
Alasan utama dalam penelitian ini adalah:
1.    Sintaksis adalah struktur utama dari linguistik Bahasa Indonesia yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru-guru Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran
2.    Belum adanya penelitian sintaksis yang di lakukan di SMA NEGERI 1 Tarakan.

C. Batasan Masalah
Karena masalah program pembelajaran bahasa indonesia sangat luas, penilitian ini di fokuskan pada masalah sintaksis dan kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

D. Rumusan Masalah
1.    Sejauh manakah penguasaan sintaksis terhadap siswa-siswi SMA NEGERI 1 Tarakan?
2.    Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia.?

E. Tujuan Penilitian
Sesuai dengan terdapatnya masalah-masalah di atas maka, tujuan dari penulisan ini adalah:
1.    Memberikan Pengetahuan kepada pembaca cara pengajaran Sintaksis Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.    Mengetahui kendala-kendala yang di hadapi oleh siswa dalam memahami Sintaksis.

F. Manfaat Penilitian
Penulis berharap dari penulisan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan kita dan dapat berguna bagi pembaca dan khususnya bagi penulis yang kelak akan menjadi pengajar di sekolah-sekolah.

G. Penegasan Judul
Untuk menghindari salah persepsi dari pembaca, peniliti merasa perlu untuk mempertegas pengertian judul ”Pembelajaran Sintaksis Antara Teori Akademis dan Praktis Linguis”
1.    Pembelajaran adalah Suatu usaha sadar yang di lakukan,untuk mengkondisikan peserta didik untuk mendapatkan wawasan ilmu pengetahuan. Pendapat peneiliti ini sejalan dengan pendapat, Drs.H. Zainal Aqip, M.pd. yang mengatakan bahwa Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, meterial, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia.
2.    Sintaksis yaitu Cabang ilmu Linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech).
3.    Teori Akademis adalah suatu metode yang bersifat Ilmiah atau berlandaskan ilmu pengetahuan.
4.    Praktis Linguis adalah cara pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar secara praktis dan sesuai kaidah kebahasaan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pendidikan dan Pembelajaran
Menurut Bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan kegiatan pembinaan dan pengembangan bakat kodrati manusia yang di miliki sejak lahir yaitu cipta, rasa, dan karsa. Ketiga aspek kodrati ini oleh beliau di sebutnya Trisakti.
Trisakti ternyata sejalan dengan pandangan Benyamin S. Bloom yang mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran itu adalah kegiatan yang bertujuan membina dan mengembangkan tiga ranah kemampuan manusia yaitu kognitif, afektif, psikomotor. Afektif berkaitan dengan daya cipta untuk bidang ilmu pengetahuan. Afektif berkaitan dengan rasa/sikap mental yang berhubungan dengan sikap menghargai suatu ilmu pengetahuan. Psikomotor berkaitan dengan karsa keterampilan atau kemahiran untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran bahasa Indonesia menitikberatkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian siswa, hal ini berkaitan erat  dengan cipta, rasa, karsa atau kognitif, afektif, dan psikomotor. Cipta atau kognitif adalah penguasahan terhadap kaidah bahasa dengan akurat, rasa atau afektif bertujuan menciptakan sikap mental yang baik, rasa memiliki bahasa Indonesia. Sedangkan karsa atau psikomotor bertujuan menciptakan kemahiran menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar berdasar ilmu pengetahuan dan sikap mental yang positif
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, meterial, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan teori belajar, ada 5 pengertian Pembelajaran yaitu:
1.    Pembelajaran ialah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/siswa di sekolah.
2.    Pembelajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
3.    Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
4.    Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik, dan
5.    Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Jadi, Secara umum dari pendapat di atas, pembelajaran adalah suatu upaya menyampaikan pengetahuan, mewariskan kebudayaan, dan mengorganisasikan lingkungan sekolah dalam menyiapkan peserta didik  dalam menghadapi kehidupan di masyarakat.

B. Pengertian dan Batasan Sintaksis
Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis, ada yang mengatakan bahwa, ”Sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat” (Stryker, 1969:21).
Ada pula yang mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah analisis mengenai kontruksi-kontruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas. (Bloch and trager,1942:71)
Dan ada lagi yang mengatakan bahwa ”Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yamg membicarakan struktur Frase dan kalimat” (Ramlan, 1976:57).
Dari keterangan-keterangan serta batasan-batasan diatas, peneliti membuat batasan sebagai berikut:
Sintaksis adalah salah satu cabang tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur. Frase,Klausa, dan Kalimat . Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat non predikatif, misalnya rumah mewah. Frase membicarakan hubungan antara sebuah kata dan kata yang lain. Pada contoh itu, baik rumah maupun mewah, tidak satupun yang berfungsi sebagai predikat. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dan berpotensi menjadi kalimat. Dengan kata lain, klausa membicarakan hubungan sebuah gabungan kata dan gabungan kata yang lain. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensi terdiri atas klausa. Dapat dikatakan bahwa kalimat membicarakan hubungan antara sebuah klausa dengan klausa yang lain.
C. Teori Akademis
Menurut KBBU ( 2003:18). Teori akademisi adalah suatu metode yang bersifat Ilmiah atau berlandaskan ilmu pengetahuan.
Dalam penerapan pembelajaran, guru bahasa Indonesia juga di tuntut untuk melakukan penerapan teori-teori pembelajaran dengan tujuan mengetahui kondisi kelas dan hambatan pembelajaran di kelas.Banyak hal yang menjadi penghambat bagi siswa dalam proses belajar bahasa Indonesia yaitu antara lain:
1.    Faktor Indogin, ialah faktor yang datang dari diri pelajar atau siswa sendiri. Faktor ini meliputi:
a.    Faktor Biologis (faktor yang bersifat jasmaniah) ialah faktor yang berhubungan dengan jasmaniah anak/pelajar atau siswa. Faktor ini misalnya:
1)    Kesehatan adalah faktor penting di dalam belajar. Pelajar atau siswa yang tidak sehat badanya, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Konsentrasinya akan terganggu dan pelajaran sukar masuk. Begitu juga dengan anak yang badanya lemah, sering pusing, dan sebagainya tidak akan tahan dalam belajar,dan mudah lelah.
2)    Cacat badan, dapat juga menghambat belajar,dan yang termasuk cacat badan, misalnya setengah buta, setengah tuli, ganguan bicara, tangan hanya satu dan lainnya. Anak-anak cacat seperti ini hendaknya di masukan dalam pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.
b.    Faktor Psikologis (faktor yang bersifat rohaniah) adalah faktor yang berhubungan dengan rohaniah. Termasuk dalam faktor ini adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, dan emosi.
1)    Faktor Itelegensi adalah faktor indogin yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Bilamana pembawaan inteligensi anak memang rendah maka anak tersebut akan sukar mencapai hasil belajar yang baik. Selain faktor inteligensi atau kecerdasan, ada pula faktor lain yaitu cacat-cacat mental dan cacat yang dibawah sejak lahir. Termasuk cacat ini adalah idiosi, embisilitas, dan dibilitas. Anak-anak yang tergolong embisil ialah anak-anak yang kecerdasannya sama dengan anak normal yang berumur kira-kira 3-7 tahun.
2)    Perhatian. perhatian juga merupakan faktor penting dalam usaha belajar anak. Untuk dapat menjamin belajar dengan baik, anak harus ada perhatian terhadap bahan yang di pelajarinya. Apabila bahan pelajaran itu tidak menarik baginya, maka timbullah rasa bosan, malas, dan belajarnya harus di kejar-kejar. Sehingga prestasi belajarnya menurun. Untuk itu, maka pendidikan harus mengusahakan agar bahan pelajaran yang di berikan dapat menarik perhatiannya.
3)    Minat. Bahan pelajaran yang menarik minat/keinginan anak akan di pelajari oleh anak dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya bahan yang tidak sesuai dengan minat/keinginan anak pasti tidak dapat di pelajari dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan untuk belajar. Minat sering kali timbul bila ada perhatian.
4)    Bakat. Bagi anak yang memiliki bakat dokter, ia selalu baik dengan belajarnya, sehingga ia selalu merasa senang dan selalu berusaha lebih giat lagi yang lebih baik. Bagi anak yang selalu gagal, maka kesenangan belajarnya akan makin berkurang dan mengalami kesukaran-kesukaran. Oleh karena itu, pengertian tentang bakat adalah hal yang juga menentukan dalam suksesnya belajar.
5)    Emosi. Dalam keadaan emosi yang mendalam ini tentu belajarnya mengalami hambatan-hambatan. Anak-anak semacam ini membutuhkan situasi yang cukup tenang dan penuh pengertian agar belajar dapat lancar.
C. faktor linguis ( faktor bahasa ). Bahasa Indonesia sebagai di siplin ilmu yang di pelajari di sekolah-sekolah memiliki struktur paten yang harus di kaji benar-benar. Sehingga ada siswa tertentu yang merasa kesulitan dalam belajar  mata pelajaran bahasa Indonesia.
2.    Faktor Eksogin, ialah Faktor yang datang dari luar pelajar atau siswa. Faktor ini meliputi:
a. Lingkungan Keluarga.  faktor ini meliputi:
1)    Faktor Orang Tua. faktor orang tua merupakan faktor yang besar    pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Orang tua yang dapat mendidik anak-anaknya dengan cara memberikan pendidikan yang baik tentu akan sukses dalam belajarnya. Faktor lain yang masih ada hubungannya dengan faktor orang tua adalah hubungan orang dengan anak. apakah hubungan itu bersifat acuh tak acuh atau diliputi suasana kebencian, atau sebaliknya di liputi oleh hubungan yang terlalu penuh kasih sayang, dan sebagainya. Adapun dengan hubungan orang tua dengan anak yang baik ialah hubungan yang penuh pengertian di sertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman, dengan tujuan untuk memajukan belajar anak. Bagitu juga contoh sikap yang baik dari orang tua sangat mempengaruhi belajar anak.
2)    Faktor Suasana Rumah. Lingkungan keluarga yang lain yang dapat mempengaruhi usaha belajar anak adalah faktor suasana rumah. Suasana rumah yang terlalu gaduh atau terlalu ramai tidak akan memberikan anak belajar dengan baik. Misalnya, rumah dengan keluarga besar atau banyak sekali penghuninya.
3)    Faktor Ekonomi Keluarga. Faktor ekonomi keluarga banyak menetukan juga dalam belajar anak. Misalnya, anak dari keluarga mampu dapat membeli alat-alat sekolah dengan lengkap, sebaliknya anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat membeli alat-alat itu. Dengan alat yang tidak serba lengkap inilah, maka hati anak-anak menjadi kecewa, mundur dan putus asa sehingga dorongan belajar mereka kurang sekali.
b. Lingkungan Sekolah. Lingkungan sekolah kadang-kadang juga menjadikan faktor hambatan bagi anak termasuk dalam faktor ini misalnya:
1)    Cara penyajian belajar yang kurang baik.
2)    Hubungan guru dan murid kurang baik
3)    Hubungan antara anak dengan anak kurang menyenangkan
4)    Bahan pelajaran yang terlalu tinggi di atas ukuran normal kemampuan anak.
5)    Alat-alat belajar di sekolah yang serba tidak lengkap.
6)    Jam-jam pelajaran yang kurang baik. Misalnya, sekolah yang masuk siang di mana udara yang sangat panas mempunyai pengaruh yang melelahkan
c. Lingkungan Masyarakat. Termasuk lingkungan masyarakat yang dapat menghambat kemajuan belajar anak ialah:
1)    Media massa, seperti bioskop, radio, televisi, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Semua ini dapat memberi pengaruh yang kurang baik terhadap anak.
2)    Teman bergaul yang memberikan pengaruh yang tidak baik.
3)    Adanya kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, misalnya adanya tugas-tugas oraganisasi, olahraga, seni dan sebagainya
4)    Corak kehidupan tetangga.
d.  Pendekatan CBSA Dalam Pembelajaran
Pemanfaatan CBSA dalam pembelajaran dalam bentuk pemanfaatan waktu Luang, pembelajaran individual, belajar kelompok, tanya jawab, umpan balik, pendayagunaan lingkungan masyarakat, pengajaran unit, pameran/display, dan mempelajari buku sumber (teks).
Penggunaan pendekatan cara belajar siswa aktif adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitikberatkan pada kreatif siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Rasional penerapan CBSA dalam sistem pembelajaran adalah pandangan mengenai siswa sebagai objek pembelajaran dan subjek yang belajar, titik berat proses pembelajaran pada keaktifan siswa dan keaktifan guru, peran dan fungsi guru secara aktif dan kreatif, dan kadar CBSA terletak pada banyak keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar dilihat dari segi masukan, proses, dan produksi.
Kebaikkan CBSA dinilai dari prakarsa siswa mengemukakan pendapat, keterlibatan mental dalam kegiatan belajar, fungsi guru sebagai fasilitator, belajar dengan pengalaman langsung, variasi bentuk dan alat kegiatan belajar-mengajar, dan kesulitan interaksi antar siswa. Kelemahan CBSA terletak pada menurunnya kadar CBSA itu sendiri pada siswa, penggunaan metode kurang bervariasi, kemampuan guru melaksanakan CBSA masih kurang, dan kurangnya literatur/bacaan. Penyelenggaraan CBSA berdasarkan rambu-rambu, antara lain:
1)    Derajat partisipasi dan responsif siswa yang tinggi.
2)    Keterlibatan siswa dalam pelaksanaan/pembuatan tugas.
3)    Kesadaran guru mengenai tujuan yang hendak dicapai.
4)    Penggunaan metode pengajaran secara bervariasi.
5)    Penyediaan media dan peralatan dan fasilitas belajar.
6)    Perlunya bimbingan dan pengajaran remedial pada waktu tertentu  sesuai dengan
Kebutuhan. keterampilan proses berdasarkan pertimbangan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dan guru, proses mengalami secara langsung melalui interaksi dengan lingkungan, proses untuk mengembangkan kemampuan dasar, dan relajar bagaimana belajar untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Pendekatan keterampilan proses ahli pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan dasar yang lebih tinggi pada diri siswa dalam rangka menemukan dan mengembangkan fakta dan konsep serta menumbuh kembangkan sikap dan nilai.
Dengan pendekatan keterampilan proses hendak dikembangkan kemampuan-kemampuan mengamati, mengelompokan, menafsirkan, meramalkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan. Penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran antara lain dalam bentuk pemecahan masalah atau metode inquiry-discovery.

e. Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas
Peran guru Sangat besar dalam pengelolaan kelas karena guru sebagai penanggung jawab kegiatan belajar-mengajar di kelas. Guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar-mengajar. Guru harus penuh inisiatif dan kreatif dalam mengelola kelas karena gurulah yang mengetahui secara pasti situasi dan kondisi kelas terutama keadaan siswa dengan segala latar belakangnya. Dalam kaitanya dengan tugas pengelolaan kelas, ada beberapa peran guru yang harus dilakukan antara lain sebagai berikut:

1) Peran Sebagai Pengajar/Intruksional
Peran ini mewajibkan guru menyampaikan sejumlah materi pelajaran menyampaikan sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran yang berupa informasi, fakta serta tugas dan kerampilan yang harus dikuasai oleh siswa. Untuk itu, guru harus menguasai materi pelajaran, metode mengajar, dan teknik-teknik evaluasi.  itu, guru harus selalu menambah dan memperluas wawasannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang saat ini.
Dalam melaksanakan perannya sebagai pengajar, hal-hal yang perla dilakukan guru adalah :
a) Menyusun program pengajaran selama kurun waktu tertentu secara berkelanjutan.
b)  Membuat persiapan mengajar dan rencana kegiatan belajar mengajar untuk tiap bahan kajian yang akan diajarkan berkaitan dengan penggunaan metode tertentu.
c) Menyiapkan alat peraga yang dapat membantu terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
d)  Merencanakan dan menyiapkan alat evaluasi belajar .
e) Menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran yang merupakan program sekolah. Misalnya, program pengajaran pengayaan serta ekstra kurikuler.
f)  Mengatur tempat duduk siswa sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik serta daya tangkap siswa terhadap pelajaran.
2)  Peran Sebagai Pendidik / Educational
Tugas guru bukan saja mengajar, tetapi lebih dari itu mengantar siswa menjadi manusia dewasa yang cerdas dan berbudi luhur. Dalam hal ini, peran guru dalam pembentukan sikap, mental, dan watak sangat dominan. Dengan demikian, sistem ”guru kelas” sangatlah sesuai karena secara psikologis, siswa memerlukan ”guru” di sekolah sebagai pengganti orang tuanya. Oleh sebab itu, guru harus memperhatikan siswa terutama sikap, tingkah laku, ketertiban, dan kedisiplinannya. Disamping itu, guru juga harus memperhatikan kebiasaan-kebiasaan dan kelainan-kelainan, kesusaan, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing siswa.
3) Peran Sebagai Pemimpin/Manajerial
Peran ini bukan saja pada saat pelajaran berlangsung, tetapi juga sebelum dan sesudah pelajaran berlangsung. Guru adalah pemimpin dan penanggung jawab utama dikelasnya.oleh karena itu, yang terjadi di kelas dan yang berkaitan dengan siswa secara langsung atau tidak langsung menjadi tanggung jawab guru kelas. Sehubungan dengan itu, guru harus banyak tahu tentang latar belakang siswa-siswanya, baik segi sosial, ekonomi maupun budaya. Sebagai pemimpin kelas, guru harus mengadakan hubungan dengan sekolah lain, masyarakat sekitar sekolah, termasuk dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dilingkungannya. Oleh karena itu, hal-hal yang menyangkut tata usaha dan administrasi kelas termasuk juga dalam lingkup peran guru sebagai manajerial kelas.
Dalam menjalankan tugasnya, seorang guru setidaknya harus memiliki kemampuan dan sikap sebagai berikut:
a) Menguasai Kurikulum.
Kurikulum sebagai program pendidikan secara utuh, mempunyai kedudukan yang cukup penting dalam keseluruhan program pendidikan dan pengajaran. Oleh sebab itu, guru harus menguasai benar kurikulum dan garis-garis besar program pengajaran (GBPP) yang merupakan pedoman yang dapat mengarahkan dalam merencanakan program dan kegiatan belajar-mengajar dikelas. Tanpa penguasaan yang baik terhadap kurikulum yang berlaku, guru akan mengalami kesulitan dan kurang terarah dalam penyampaian materi kepada siswa.
Guru harus tahu batas-batas materi yang harus disajikan dalam kegiatan belajar, mengajar, baik peruasan  materi, konsep, maupun tingkat kesulitanya sesuai dengan yang digariskan dalam kurikulum.
Guru yang baik adalah guru yang berhasil dalam pengajaran dan mampu mempersiapkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu, maka setiap guru harus memiliki berbagai kemampuan atau kualifikasi profesional. Tugas profesional ini meliputi tugas-tugas mendidik (untuk mengembangkan kepribadian siswa), mengajar (untuk mengembangkan kemampuan berpikir), dan melatih (untuk mengembangkan keterampilan siswa).
b) Menguasai Materi setiap Mata Pelajaran
Guru sekolah dasar adalah guru kelas, artinya guru harus dapat mengajarkan berbagai materi pelajaran. Guru tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan bahan pelajaran yang telah ditetapkan, tetapi guru harus menguasai dan menghayati secara mendalam semua materi yang akan diajarkan. Oleh karena itu, dalam memberikan materi pelajaran guru mempunyai peranan dan tugas sebagai pengelola proses belajar-mengajar di kelas yang dituntut banyak inisiatif dan penuh kreatifitas. Jadi, penguasaan terhadap semua materi pelajaran mutlak dimiliki oleh seorang guru sekolah dasar.
c) Menguasai Metode dan Evaluasi Belajar
Salah satu kelemahan mendasar yang biasanya terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar justru terletak pada inti aktivitas pendidikan itu sendiri, yaitu pelaksanaan kegiatan mengajar yang melibatkan guru dan siswa serta interaksinya satu sama lain.
Dalam rangka kegiatan belajar-mengajar, guru harus menguasai berbagai metode, guru juga harus mampu memilih metode yang tepat sesuai materi pelajaran, tingkat kecerdasan siswa, serta lingkungan dan kondisi setempat, kemudian merancang menjadi satu program pengajaran yang baik dan terus diperbaiki serta disempurnakan.
Selanjutnya, guru harus mampu mengukur dan menilai hasil pekerjaan siswa, terutama sekali yang menyangkut kegiatan belajar-mengajar, baik proses maupun hasil belajarnya. Dengan demikian, guru harus menguasai teknik-teknik evaluasi yang diperlukan. Namun, bukanlah sampai disitu saja, guru seharusnya meneliti dan menelaah hasil evaluasi para siswa, kemudian menentukan langkah selanjutnya untuk memperbaiki dan menyempurnakan program belajar-mengajar.
d) Setia Terhadap Tugas
Profesi guru sangatlah berlainan dengan profesi lainnya karena pekerjaan guru menyangkut pertumbuhan, perkembangan fisik, dan intelektual seorang anak manusia. Segala kegiatan belajar-mengajar harus disiapkan secara matang. Untuk itu, guru harus benar-benar menyatu, menjiwai, dan menghayati tugas-tugas keguruannya. Guru-guru yang berhasil pada dasarnya adalah guru-guru yang mencintai tugasnya dan guru-guru yang setia terhadap tugasnya.
e) Disiplin dalam Arti Luas
Pendidikan adalah suatu proses, bersama proses itu anak tumbuh dan berkembang dalam belajar. Pendidik dengan sengaja mempengaruhi arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan terima serta berlaku dalam masyarakat. Kuat lemahnya pengaruh itu sangat bergantung pada tata disiplin yang ditetapkan dan dicontohkan oleh guru.
Di kelas, guru adalah pemimpin yang menjadi teladan dan panutan siswa-siswanya. Oleh sebab itu, disiplin bagi seorang guru merupakan bagian penting dari tugas-tugas kependidikan. Dalam hal ini, tugas guru bukan saja melatih sikap disiplin pada anak didiknya, tetapi juga lebih penting adalah mendisiplinkan diri sendiri sebagai ciri khas figur seorang guru.

D. Praktis Linguis
Linguistik adalah seperangkat ilmu pengetahuan yang di peroleh dengan jalan penerapan metode-metode ilmiah terhadap fenomena-fenomena bahasa (Tarigan 1984:2). Batasan ini membentangkan suatu garis pengikat yang jelas antara Linguistik ilmiah dengan studi bahasa yang non ilmiah (Hughes, 1968:11). Atau lebih singkat dan lebih padat lagi: Linguistik adalah telaah ilmiah mengenai bahasa (Cook, 1971:1).  Sedangkan praktis linguis adalah tata cara berbahasa yang baik dan benar serta sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
Pendapat-pendapat para pakar di atas telah memberikan batasan pengertian Linguistik sebagai ilmu yang mempelajari kebahasaan sedangkan, orang yang pakar bahasa disebut Linguis. Seorang linguis adalah seseorang yang spesialis dalam Linguistik, suatu studi sistematis atau telaah bersistem mengenai struktur dan fungsi bahasa.
Guru bahasa indonesia sebagai guru yang mengajarkan bahasa kepada peserta didik juga dituntut untuk mengetahui linguistik. Hal ini sangat penting karena guru berada pada posissi yang sentral bagi murid karena murid akan mengikuti tata cara atau gaya bicara guru dalam mentransfer ilmu kebahasaannya kepada peserta didik. Ciri-ciri secara umum  dari seorang pengajar sebagai praktek linguis yaitu:
1. Bahasa Taat Azas
2. Diksi Yang Tepat Sesuai Konteks.
3. Pola Pikir Yang Intuitif.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk menentukan daerah penelitan dengan menggunakan metode purposive yaitu suatu teknik pemilihan daerah penelitian yang di pandang mempunyai hubungan erat dengan masalah yang akan di teliti (kartono,1983) penelitian di lakukan di SMA NEGERI 1 TARAKAN  pada kelas 3 (tiga)  jurusan bahasa.

B. Responden
Responden yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini terdiri atas:
1.    Guru Bahasa Indonesia pada kelas Bahasa
2.    Siswa-siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN  pada kelas 3 (tiga) Bahasa.

C. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif yaitu metode penelitian suatu kelompok manusia, suatu kondisi, suatu pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat Deskriptif, gambaran atau lukisan secara Sistematis, manual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nasir, 1985)

D. Jenis dan Metode Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. data primer diperoleh langsung melalui kuisioner kepada Siswa-siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN, sedangkan data sekunder diperoleh dari guru bahasa di sekolah SMA NEGERI 1 TARAKAN.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Wawancara
Yaitu Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara wawancara langsung atau tanya jawab kepada Guru Bahasa Indonesia pada kelas bahasa.
b. Tes Daya Serap
Tes Daya Serap bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman dari materi yang diteliti.
c. Kuisioner
Penggunaan metode kuisioner bertujuan untuk mengumpulkan data pandangan Siswa-siswi terhadap cara mengajar guru bahasa Indonesia.
3. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, dilanjutkan langkah-langkah sebagai berikut, (Sutrisno, 2003) :
a.    Editing Data :  merupakan kegiatan meneliti kembali data yang diperoleh untuk mengetahui apakah data tersebut sudah baik dan benar untuk diproses lebih lanjut.
b.    Selanjutnya dilakukan Koding : yaitu mengklasifikasikan sumber Responden dan menglasifikasikan jawaban responden sesuai kategorinya.
c.    Menghitung Frekwensi : sumber responden maupun jawaban responden kemudian kita distribusikan ke dalam kategori-kategori dan frekwensinya dapat dihitung.
d.    Tabulasi : yaitu proses penyusunan data dalam bentuk tabel sehingga data dapat dibaca dengan mudah dan maknanya sudah dipahami.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di sekolah SMA NEGERI 1 TARAKAN, dikarenakan pada sekolah ini terdapat jurusan bahasa.

B.  Wawancara
Kolompok peneliti melakukan tahapan wawancara sebagai tahap awal dalam melakukan penilitian di SMA NEGERI 1 TARAKAN, hasil  wawancara dengan guru bahasa Indonesia di SMA NEGERI 1 TARAKAN sebagai berikut:
1.    Guru tidak mewajibkan siswa-siswi untuk mengikuti pengarang buku yang dimiliki atau digunakan oleh guru akan tetapi guru tetap mengarahkan murid untuk tetap memiliki buku yang sesuai dengan pembahasan.
2.    Antusias siswa-siswa secara horizontal.
3.    Siswa sangat memerlukan pengulangan materi.
4.    Penerapan metode khusus untuk guru harus dilakukan.
5.    Tingkat pemahaman dan kesulitan siswa berbeda-beda.
6.    Guru pernah terlambat, akan tetapi jarang sekali terjadi dan jika meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran berakhir guru memberikan tugas kepada siswa.
7.    Pelajaran sintaksis  telah di ajarkan pada kelas dua.
8.    Teknik penilaian guru mengacu kepada kognitif ( pemberian tugas), afektif (kehadiran), psikomotorik (kerapian siswa dan keberanian siswa tampil di depan kelas).
Dari hasil wawancara tersebut maka dapat dibuktikan dengan metode tes daya serap yang dilakukan oleh tim peneliti kepada siswa-siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN kelas tiga jurusan bahasa dan kuisoner yang di berikan kepada siswa. Hal ini yang membuktikan pernyataan  pendidik bahasa Indonesia serta cara pengelolaan kelas yang di lakukan pada kelas tiga jurusan bahasa.

C.  Sejauh Mana Siswa-Siswi Dapat Mengerti Pelajaran Sintaksis Bahasa Indonesia.
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Jawaban Tes Daya Serap Siswa-Siswi Jurusan Bahasa Indonesia.
NO    NAMA INISIAL SISWA-SISWI    NILAI JAWABAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
S T
S A
J O
D N
K G R
M A R
A R
T M
L C
A P
A A
M E
K S
J W
A R R
T N
S S
S K
R A

55
35
40
60
75
75
40
65
30
50
45
70
60
60
40
40
55
75
40

Jumlah Responden    19
Jumlah Nilai    1010
Nilai Rata-rata    53,15

Dari Tabel 1. Diatas Dapat Diketahui Bahwa Nilai Rata-Rata Siswa-Siswi SMA NEGERI 1 TARAKAN Pada Jurusan Bahasa Adalah 53,15 hal ini menandakan bahwa nilai yang di peroleh siswa-siswi belum mencapai standar kopetensi belajar minimal (SKBM)  nilai minimum yaitu 65,00.

Tabel 2.  Sejauh Mana Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas

NO    Pertanyaan    1    2    3
1.    Mengetahui disiplin guru    5    1    13
2    Evaluasi belajar    11    7    1
3    Disiplin siswa    6    7    6
4    Metode pengajaran    0    17    2
5    Tugas siswa    0    18    1
6    Keinginan untuk di ajarkan dengan guru yang sama    2    17    0
Jumlah Presentase    24%    67%    21%

Keterangan : Jumlah Responden 19 orang untuk setiap pertanyaan
1 = Tidak
2 =  Iya
3 =  Netral / kadang-kadang
Untuk mengetahui cara pengelolaan kelas bahasa di SMA NEGERI 1 TARAKAN dapat di lihat dari tabel 2 di atas. Dari tebel 2 di atas dapat di ketahui bahwa disiplin guru bahasa Indonesia  kurang baik dalam kehadiran mengajar maupun mengakhiri jam pelajaran di sekolah, juga evaluasi belajar yang dilakukan pengajar sangat kurang. Akan tetapi disiplin siswa baik, metode pengajaran yang dilakukan guru sangat baik.
dan jumlah siswa yang bermasalah di kelas ada 4 orang, siswa tersebut belum pernah ditangani oleh guru bimbingan konseling.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di SMA NEGERI 1 TARAKAN pada kelas tiga bahasa  dapat di simpulkan bahwa meskipun disiplin siswa baik, metode pengajaran yang dilakukan guru sangat baik. Akan tetapi faktor yang mengakibatkan tidak tercapainya standar kopetensi belajar minimal (SKBM) siswa di karenakan disiplin guru bahasa Indonesia  kurang baik dalam tepat waktu untuk mengajar maupun mengakhiri jam pelajaran di sekolah, juga evaluasi belajar yang di lakukan pengajar sangat kurang, dan murid yang bermasalah yang dapat mempengaruhi siswa lain nya tidak ditangani oleh guru bimbingan konseling sebagai guru yang ahli dalam mengnangani masalah siswa.

B. Saran
1. Guru Bahasa Indonesia harus meningkatkan kedisiplinan dalam mengajar.
2. Evaluasi belajar di lakukan oleh guru bahasa Indonesia.
3. Siswa-Siswi yang bermasalah harus ditangani oleh guru bimbingan konseling (BK)

Lampiran: 1

Lampiran: 2
Daftar Pertanyaan dan jawaban wawancara
Guru SMA Negeri 1 TARAKAN
1.    Buku apa yang ibu pakai disaat mengajar ?
Jawab: buku-buku LKS, buku tata bahasa, kompetensi bahasa dan kesusastraan.
2.    Bagaimana antusias siswa disaat ibu mengajar ?
Jawab: biasa-biasa saja.
3.    Apakah sintaksis, linguistik, semantik, dan fonologi sudah pernah diajarkan kepada siswa ?
Jawab: sudah
4.    Diantara ke empat bidang kajian ilmu di atas apakah sintakis sulit di pahami oleh siswa ?
Jawab: mereka memahami sintaksis, tetapi kalimat pasif-aktif harus di ajarkan kembali.
5.    Kira-kira faktor apa saja yang menjadi alasan siswa sangat sulit memahami ?
Jawab: tentunya berbagai macam, hanya saja saya Belum pernah mengevaluasi hambatan belajar siswa.

6.    Metode – metode pengajaran apa saja yang dipakai dalam mengatasi kesulitan siswa ?
Jawab: biasanya, ketika saya merasa siswa mengalami kesulitan saya memberikan kesempatan untuk siswa bertanya dan kalau siswa merasa bosan atau merasa jenuh saya melakukan teknik belajar sambil bermain dengan cara saya memberikan tugas kalimat perindividu lalu di tukarkan kepada temannya yang lain dan kalimat tersebut di analisis, biasanya dengan cara tersebut siswa akan tertawa.
7.    Apakah ibu pernah mengalami keterlambatan ketika mengajar ?
Jawab: pernah
8.    Seberapa sering keterlambatan itu terjadi ?
Jawab: tidak terlalu sering akan tetapi ketika saya terlambat di karenakan saya ada keperluan yang sangat penting.
9.    Apakah ibu sering meninggalkan pelajaran disaat jam pelajaran masih berlangsung ?
Jawab: pernah, tetapi saya tetap memberikan tugas kepada siswa
10.    Di sekolah ini ada berapa kelas yang ibu ajarkan ?
Jawab: semua kelas bahasa.

11.    Apakah sebagian besar siswa-siswi yang ibu ajarkan di kelas tiga bahasa ini bermasalah ?
Jawab: ada, hanya beberapa orang
12.    Apakah sebagian besar siswa memiliki buku pegangan seperti yang ibu miliki ?
Jawab: saya tidak pernah menyuruh siswa untuk mewajibkan memiliki buku pegangan seperti yang saya miliki akan tetapi dari mereka mencari sumber-sumber belajar yang berkaitan dengan materi yang saya ajarkan.
13.    Seberapa sering ibu memberikan tugas ?
Jawab: setiap kali ada pertemuan belajar di kelas.
14.    Bagaimana hasil nilai ulangan dan tugas harian mereka ?
Jawab: baik
15.    Bagaimana cara ibu memberikan penilaian terhadap siswa ?
Jawab: kognitif, afektif, dan psikomotorik.
16.    Berapa siswa yang tidak lulus khususnya bidang studi bahasa indonesia ketika Ujian Akhir Nasional tahun 2007-2008 ?
Jawab: alhamdullilah, semua lulus.

Lampiran: 3
TES DAYA SERAP SISWA
SMA NEGERI 1 TARAKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO
TARAKAN
2008

Lampiran: 4

Lampiran : 5
PROSES PENGAWASAN TES DAYA DAYA SERAP SMAN 1 TARAKAN

FOTO BERSAMA SISWA-SISWI SMA NEGERI 1 TARAKAN DAN TIM PENELITI UNIVERSITAS BORNEO FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2008

Daftar pustaka

Arikunto, suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian,  Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Guntur, henry. 1993. Pengajaran Sintaksis, bandung: Angkasa.
Usman, M. Uzer, dan setiawati lilis. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Roseda Karya
Nasution. 2005. berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Aqip, Zainal. 2002. profesionallisme guru dalam pembelajaran, Surabaya: Insan Cendikia.
Arifin, E. Zainal, dan junaiyah. 2008. Sintaksis, Yakarta: PT Grasindo.
Kamus Besar bahasa Indonesia. 2004. Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka.
Kartono, 1983. pengantar metodelogi Research sosial, Alumni, Bandung.
Nasir, M. 1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta

Posted on February 11, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: