MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI KARYA SASTRA ANAK

MENINGKATKAN MINAT BACA
MELALUI KARYA SASTRA ANAK
(Makalah disajikan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Problematika Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia)
OLEH : JEPRIDIN NIM 1202211538602

A.    Pendahuluan
Saat ini minat baca masih menjadi perkerjaan rumah yang belum terselesaikan bagi bangsa Indonesia. Berbagai program telah dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Pemerintah, praktisi pendidikan, LSM dan masyarakat yang perduli pada kondisi minat baca saat ini telah melakukan berbagai kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat untuk membaca, akan tetapi berbagai program tersebut belum memperoleh hasil maksimal.
Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, maka bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan terbawah hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua.
Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca maka kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa. Pada usia sekolah dasar, anak mulai dikenalkan dengan huruf, belajar mengeja kata dan kemudian belajar memaknai kata-kata tersebut dalam satu kesatuan kalimat yang memiliki arti. Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Setelah anak-anak mampu membaca, anak-anak perlu diberikan bahan bacaan yang menarik sehingga mampu menggugah minat anak untuk membaca buku.
Salah satu bagian yang terpanting dalam pengajaran bahasa indonesia di sekolah adalah memberikan pengenalan dan pengetahuan terhadap karya sastra sehingga karya sastra dianggap menjadi sesuatu hal yang paling penting untuk dipahami oleh peserta didik. Dalam hirarki jenjang pendidikan maka siswa sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan formal yang pertama dilalui oleh setiap siswa maka pada jenjang inilah karya sastra diperkenalkan yang dapat berimplikasi terhadap perkembangan diri seorang anak. Namun, muncul sebuah pandangan bahwa apakah karya sastra anak dapat menimbulkan pengaruh terhadap minat baca? Bagaimanakah metode pengajaran sastra anak yang dapat menumbuh minat baca? Jenis bahan bacaan seperti apa yang dapat diberikan kepada anak? Bagaimana menciptakan lingkungan yang kondisif sehingga mendukung pembelajaran sastra Anak?  Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini.
B.    Pembahasan
1.    Hakekat Sastra Anak dan Hubungan Terhadap Minat Baca
Kata sastra berarti karya seni imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa (Rene Wellek, 1989). Karya seni imajinatif tersebut dapat dalam bentuk lisan ataupun tertulis. Selanjutnya, kata anak dapat diartikan sebagai manusia kecil (KBBI, 2007:41). Kata anak yanng dimaksud disini bukanlah anak balita ataupun anak remaja, tetapi anak usia SD yang berumur antara 6 sampai 13 tahun. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Nurgiantoro (2005:12) yang mengatakan yang dimaksud dengan anak dalam sastra anak adalah orang yang berusia 0 tahun sampai dengan sekitar 12 atau 13 tahun.
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan. Sejalan dengan pendapat tersebut Kurniawan (2009:4-5) mengatakan bahwa sastra anak adalah sastra yang menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh anak dan pesan yang disampaikan berupa nilai-nilai, moral, dan pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan dan pemahaman anak. Hunt juga berpandangan bahwa sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka. Sementara itu, menurut Sarumpaet ( 2010: 2) sastra anak adalah karya sastra yang dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Artinya, sastra anak ditulis oleh orang tua yang ditujukan kepada anak dan proses produksinya pun dikerjakan oleh orang tua. Namun tidak semestinya bahwa sastra anak ditulis oleh orang dewasa atau orang tua atau anak-anak saja. Menurut Nurgiantoro (2005:12) bahwa penulis sastra anak dapat siapa saja baik orang dewasa maupun anak-anak, dan hal yang paling penting adalah mengetahui dunia anak-anak.
Menurut Huck dkk (1987:5) isi kandungan yang terbatas sesuai dengan jangkauan emosional dan psikologi anak itulah yang, antara lain, merupakan karekteristik sastra anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa saja, bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya berkisah tentang binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan berperasaan layaknya manusia. Imajinasi dan emosi anak dapat menerima cerita itu secara wajar dan memang begitulah seharusnya menurut jangkauan pemahaman anak. Selayaknya sebuah karya sastra maka sastra anak juga selain memberikan pemahaman atau memiliki nilai-nilai pendidikan juga akan memberikan hiburan kepada anak sebagai penikmat. Maka hal ini sejalan dengan pendapatnya Rebecca Thomas (2007) membimbing dan membekali anak untuk mengenali diri berawal dari lingkungan terdekat hingga kebudayaan di luar lingkungan kita. Anak-anak akan dibawa untuk tur menikmati makanan, kesenian dan cerita-cerita tradisional di berbagai dunia.
Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis lagi. Genre drama sengaja tidak dimasukkan karena menurutnya, drama baru lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan bahasa-sastra (Nurgiyantoro,2005:15).
Sastra anak juga memberikan manfaat dari unsur intrinsik dan unsur ektrinsik . Pada unsur intrinsik  yaitu (1) memberikan rasa kesenangan atau kegembiraan,dan kenikmatan bagi anak-anak, (2) mengembangkan daya imajinasi anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, kehidupan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara, (3) memberikan pengalaman baru yang seolah mereka mengalaminya (4) mengembangkan wawasan kehidupan anak menjadi prilaku kemanusian (5) menyajikan dan memperkenalkan anak pengalaman yang universal (6) melanjukan warisan sastra. Selain unsur intrinsik manfaat sastra anak juga terdapat pada unsur ekstrinsiknya yaitu (1) perkembangan bahasa, (2) perkembangan kognitif (3) perkembangan kepribadian dan (4) perkembangan sosial. Sejalan dengan pendapat tersebut Rahmanto (1988: 16-24) yang dalam penjelasnya mengatakan bahwa karya sastra dapat dijadikan sebagai pengajaran untuk membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta rasa, dan menunjang pembentukan watak. berdasarkan penjelasan tersebut secara umum sastra anak memberikan rasa hiburan dan wawasan. Rasa hiburan yang dialami oleh anak ketika membaca sastra atau kisah-kisah menarik yang terdapat dalam buku sastra membuat rasa keingin tahuan terhadap buku yang ia baca hal ini berdampak pada minat baca terhadap dirinya.
2.    Pemilihan Bahan Pengajaran
Sebelum melakukan pendekatan atau cara melakukan pembelajaran sastra kepada anak maka hal yang paling penting adalah memilih bahan pengajaran yang tepat. Pemilihan bahan pengajaran yang patut dipertimbangkan yaitu berdasarkan aspek perkembangan bahasa, psikologi dan latar belakang budaya yang tepat (Rahmanto 1988: 26). Hal ini dimaksudkan agar pada pelaksanaan pembelajaran sasaran atau tujuan dapat tercapai.
a.    Bahasa
Dalam bentuk pengajaran sastra kepada anak hendaknya guru mempertimbangan pada aspek penggunaan bahasa yang terdapat dalam karya sastra. Hal ini sangat penting karena karya sastra yang menggunakan bahasa yang sulit dimengerti akan berakibat ketidak pahaman yang berarti juga kegagalan dalam pengajaran sastra.
Aspek kebahasan yang patut dipertimbangkan oleh guru yaitu memperhitungkan kosa kata yang baru, dan memperhatikan segi tata bahasa sehingga wacana yang muncul dalam karya sastra tersebut dapat dipahami oleh anak-anak.
b.    Psikologi
Tahap perkembangan psikologi berkaitan dengan usia anak dalam belajar karya sastra. Pembahasan psikologi berikut ini membatasi pada usia anak pada tingkat sekolah dasar. Tahapan-tahapan psikologi atau perkembangan intelektual tersebut menurut terbagi beberapa tingkatan yaitu  :
1)    Usia 7-11 tahun
Pada tahap usia ini seorang anak memiliki daya imajinasi yang diisi dengan hal-hal yang belum banyak bersifat nyata tetapi masih penuh dengan berbagai macam fantasi kekanakkan. Buku yang cocok dalam usia ini menurut Nurgiantoro (2005:52) adalah buku-buku bacaan yang mengandung narasi yang mengandung urutan logis dari yang sederhana ke yang lebih komplek, jumlah tokoh dalam cerita, dan buku bacaan yang menampilkan berbagai macam objek gambat secara bervariasi, bahkan mungkin yang dalam bentuk diagram dan model sederhana, buku bacaan yang menampilkan narator yang mengkisahkan cerita, atau cerita yang dapat membawa anak untuk memproyeksikan dirinya ke waktu atau tempat yang lain.
2)     Usia 11-12 tahun
Pada tahap ini anak mulai meninggalkan fantasi-fantasi dan mengarah kerealitas. Meski pandangan dunia ini masih sangat sederhana tetapi pada tahap ini anak telah menyenangi cerita-cerita kepahlawanan, petuangalangan, dan bahkan kejahatan. Pada tahapan usia ini buku yang dapat berikan adalah buku cerita yang menampilkan masalah yang membawa anak untuk mencari dan menemukan hubungan sebab akibat serta implikasi terhadap tokoh-tokoh, dan buku – buku yang mengandung alur cerita ganda. Karakter tokoh dan persoalan yang lebih konfleks (Nurgiantoro, 2005: 53).
3)    Latar Belakang Sosial
Latar belakang sosial berkaitan dengan budaya yang diketahui oleh anak tersebut. Pertimbangan latar belakang budaya dalam proses pengajaranya dimaksudnya untuk  memberikan pengenalan dan kecintaan terhadap budaya yang dimiliki. Adanya kesadaran bahwa karya sastra hendaknya menghadirkan sesuatu yang erat hubungannya kehidupan siswa dan siswa hendaknya terlebih dahulu memahami budayanya sebelum mengetahui budaya lain (Rahmanto, 1988: 31).
3.    Menciptakan Lingkungan Yang Kondusif
Lingkungan sangat mempengaruhi kondisi belajar siswa, hal ini dikarenakan jika lingkungan yang menjadi tempat belajar dipenuhi dengan fasilitas yang memadahi akan menimbulkan rasa ingin tahu terhadap keberadaan fasilitas tersebut. Untuk mencapai sasaran tersebut maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya yaitu:

a.    Ruang Kelas
Guru pertama kali melakukan pembenahan terhadap tempat yang dijadikan belajar. Ruang kelas diisi dengan buku-buku yang pajang pada tiap pojok hal ini dapat mengundang siswa ingin memilih buku, dan membaca buku tersebut.
b.    Majalah Dinding Kelas
Agar aktifitas siswa tersebut terwadahi maka hal juga perlu disediakan oleh sekolah adalah adanya majalah dinding yang diletakan di dalam kelas. Majalah dinding merupakan media yang memuat segala bentuk hasil cipta siswa  dalam bentuk kreatifitas baik dalam bentuk, cerita atau puisi yang dapat dilihat secara bersama-sama.
c.    Perpustakaan
koleksi perpustakaan terus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sudah saatnya perpustakaan tidak hanya berisi buku-buku paket, koleksi perpustakaan juga dapat berupa buku-buku bacaanyang mampu menarik minat siswa untuk membacanya. Selain itu perpustakaan dapat jugamelengkapi koleksinya dengan koleksi audiovisual sehingga tidak memberikan kesanlayanan yang monoton.
sarana atua perabot perpustakaan perlu dilengkapi, perpustakaan dapat dilengkapi dengan pendingin udara, televisi dan komputer multimedia. Perabotan perpustakaan perlu didesain dan disusun sesuai dengan kondisi fisik anak-anak sehinggadapat memberikan kesan nyaman bagi anak. Ruang perpustakaan juga dapat dicat warna-warni dan dilukis gambar lucu sehingga menghilangkan kesan formil perpustakaan. Dengan perubahan kondisi fisik perpustakaan ini akan memberikan kesan nyaman anak berada diperpustakaan sehingga anak-anak akan rajin datang ke perpustakaan.
Masalah SDM perpustakaan juga perlu mendapatkan perhatian.Perpustakaan harus dikelola oleh tenaga yang memiliki keahlian serta berlatar belakangilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi. SDM memiliki latar belakang ilmu perpustakaan tentu mengerti bagaimana mengelola serta mengembangkan perpustakaan berdasarkan kaidah ilmu perpustakaan. Memberikan tanggung jawab pegelolaan perpustakaan kepada guru perlu dikaji ulang, guru yang memiliki tugas utama sebagaitenaga pengajar tidak akan mampu maksimal dalam pengembangan perpustakaan karenaharus membagi waktunya untuk mengajar. Perpustakaan akan tutup apabila guru tersebutmendapat tugas mengajar. Keadaan semacam ini tentu dapat menghambat proses pembinaan minat baca anak.
Sebenarnya masalah terbatasan koleksi, sarana perpustakaan sertaminimnya SDM perpustakaan disebabkan karena keterbatasan dana. Keterbatasan dana menyebabkan perpusakaan tidak mampu membeli buku, melengkapi sarana perpustakaanserta membayar tenaga profesional untuk mengelola perpustakaan. Sebagai solusinya di perlukan perhatian pemerintah, pengelola sekolah serta peran aktif wali murid.Pemerintah perlu memberikan perhatian bagi pengembangan perpustakaan sekolah.
Ketersedian fasilitas tersebut akan menimbulkan aktifitasi membaca serta komunitasi sosial yang nantinya pada tiap anak akan membicarakan cerita yang ia baca atau dapatkan dari buku-buku yang diperolehnya dengan teman-temannya. Aktifitas ini sangat berdampak positif terhadap perkembangan anak dikarenakan anak akan terbiasa dalam membaca serta kondisi sosial dan perkembangan bahasa yang ia miliki.
4.    Metode Pengajaran Sastra
Ketersedian fasilitas atau sarana dalam pembelajaran tidak dapat menentukan dalam kesukses untuk membangun kecintaan anak terhadap dunia sastra jika tidak dilakukan dengan cara atau metode pengajaran sastra yang tepat di kelas. Ada beberapa metode dalam pengajaran sastra agar tujuan dapat tercapai. Metode yang dapat dilakukan diantaranya:
a.    Strory-telling
Metode pengajaran sastra dengan menggunakan strory-telling dapat dilakukan oleh siswa atau guru. Kegiatan ini adalah guru atau siswa membecakan suatu cerita yang dipilih berdasarkan keinginan. Seseorang yang menggunakan strory-telling sambil duduk dengan lingkari anak-anak. Dalam bentuk lain kegiatan strory-tellling dapat menggunakan make up dan konstum tertentu yang menggambarkan karakter tokoh utama dalam cerita tersebut  sehingga menimbulkan ketertarikan siswa terhadap isi cerita yang disampaikan oleh guru. Dalam penyampain ceritapun harus diikuti dengan gerakan dan mimik wajah tertantu.
Meskipun dalam penyampainya beragam akan tetapi ada beberapa hal yang menajdi prosedur untuk harus di lakukan yaitu:
1)    Memilih cerita yang akan dibacakan dengan memperhatikan kekuatan karakter pelaku dengan tegangan ceritanya sehingga nantinya benar-benar menarik perhatian anak
2)    Membaca terlebih dahulu secara lisan sambil memperhatikan dan melatih bentuk visualiaai ataupun gerak mimik yang tepat. Untuk itu mesti dipahami gambaran ciri fisik dan perwatakan pelaku, gambaran suasana, dan bagian-bagian cerita, baik bagian awal tengah, maupun akhir.
3)    Menentukan satuan bentuk cerita sehingga memudahkan pembuatan jeda penentuan saat dialog dengan anak-anak guna mempelajari, dan memudahkan antisipasi tempo dan ritme penceritaan.
4)    Mempelajari cara mengawali cerita maupun bentuk-bentuk tanggapan yang mau diinteraksikan dengan anak, misalnya ketika menggambarkan pelaku yang lagi berkenalan dengan teman barunya, atau bentuk-bentuk interaksi lainya.
5)    Berlatih melakukan strory-telling sampai diri sendiri merasa yakin dan nyaman menyajikannya di depan kelas. Dalam hal ini perlu diperhatikan keselarasan antara bunyi ujaran yang dihasilkan dengan gerak, mimik, dan posisi dalam bacaan.
6)    Melakukan kegiatan penceritaan dengan suara, sikap, intonasi yang bisa diharapkan menarik anak-anak. Selama membacakan perlu adanya kontak pandangan mata dan kimunikasi dengan anak-anak, misalnya dalam bentuk tanya jawab
b.    Readers theatre
Readers theatre merupakan salah satu bantuk penyajian cerita melalui pameran dan pelisan dalam bentuk kelompok melalaui kegiatan “pementasan”. Meskipun disebut sebagai kegiatan pementasan bukan berarti bahwa siswa harus menyiapkan kostum, propertis maupun pentaan panggung. Dalam kegiatan ini anak-anak cukup mengubah cerita menjadi scripts yang disusun oleh mereka dan tidak harus menghapalkannya hanya mempraktekan gambaran tokoh yang diperankannya dengan menggunakan intonasi suara yang sesuai dengan tokoh dalam cerita.
Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan dialog, lakuan dan interaksi dengan palakulainya secara tepat dan bermakna. Selain itu kegiatan ini juga bermanfaat agar siswa dapat mengetahui karakter penokohan dan alur cerita dari karya sastra yang mereka pilih dan baca.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan  readers thatre yaitu:
1)    Guru memperkenalkan konsep readers theatre dan mempertega perbedaannya dengan dramatisasi cerita. Setelah itu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membentuk kelompok yang disesuaikan dengan kebutuhan.
2)    Membantu memperbanyak atau mengkopi  cerita yang dipilih oleh siswa untuk dibagikan pada setiap individu agar dapat dipelajari seraca bersama-sama.
3)    Anak-anak melakukan kegiatan membaca secara lisan dalam kelompok. Mereka juga sekaligus diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam  memilih karakter tokoh yang dinginkan.
4)    Anak diberikan kesempatan latihan yang dibimbing oleh gurunya.
c.    Menggambar dan Bercerita
Pada umumnya anak-anak sangat suka dalam kegiatan menggambar hal ini sangat berpotensi jika dikaitkan dengan kegiatan pengajaran sastra anak. Anak-anak dapat diarahkan oleh gurunya untuk menggambar dari cerita yang mereka baca yang nantinya akan dipertunjukan dihadapan teman-temannya sambil menceritakan isi cerita dengan menggunakan gambarnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah anak-anak dilatih untuk memahami isi cerita, meningkatkan daya kreatifitas mereka, dan berani tampil dalam menceritakan isi cerita di dapan teman-temannya.
C.    Kesimpulan
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan. Salah satu dari manfaat sastra anak adalah dapat menumbuhkan rasa minat baca yang sangat tinggi. Dalam proses penerapannya ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya menciptakan lingkungan yang kondusif, ketersediaan fasilitas, pemilihan bahan bacaan, dan cara pengajaran sastra yang dapat menimbulkan rasa keinginan terhadap dunia sasra yang berimplikasi pada minat baca.
Daftar Rujukan

Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Gamble, Nikki dan Sally Yates. 2002. Exploring Children’s Literature: Teaching The Language And Reading of Fiction. London. SAGE Publications
Huck, Charlotte S, Susan Hepler, dan Janet Hickman. 1887. Children’ s Literature in the Elementary School. New York: Holt, Rinehart and Winson.
Hunt Peter, 2005. Understanding Children’s Literature. New York. Rautledge
Kurniawan, Heru. 2009. Sastra Anak: Dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, Hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta. Graha Ilmu
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Oittinen, Riitta. 2000. Translating For Children. New York: Garland Publishing
Wellek, Rene and Austin Werren. 1956. Theory of Leterature. New York: Harcout, Brace and World Inc
Rahmanto. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta. Kanisius
Resmini, Novi. Sastra Anak dan Pengajarannya di Sekolah Dasar. Universitas Pendidikan Indonesia. http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032NOVI_RESMINI/SASTRA_ANAK_DAN_PENGAJARANNYA.pdf  diakses pada tanggal 26 Januari 2013 Artikel Sastra anak dalam pembelajaran di kelas

Posted on February 13, 2013, in artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: