MENGENAL BUMI PAGUNTAKA KOTA TARAKAN

MENGENAL BUMI PAGUNTAKA KOTA TARAKAN

OLEH JEPRIDIN

Indonesia sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Setiap pulau yang ada di Indonesia terdapat suku – suku dan suku tersebut memiliki tradisi kebudayaan yang sangat menarik untuk di kaji dalam ilmu pengetahuan. Tradisi kebudayaan tersebut telah diwariskan dari generasi ke genarasi dengan tujuan untuk di lestarikan dan muatan dari tradisi kebudayaan tersebut memiliki nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Salah satu suku yang terdapat di Indonesia adalah suku tidung yang mendiami daerah provinsi Kalimantan Timur khususnya wilayah Utara yang tetap eksis dalam mempertahankan kebudayaannya dan memiliki tradisi yang sangat banyak dan sangat baik untuk di kaji dalam pandangan ilmu pengetahuan. Di dalam tradisi tersebut mengandung pesan rohani dalam bentuk nilai-nilai moral, gagasan, cita-cita dan pandangan kehidupan suku tidung baik hubungan terhadap manusia, hubungan terhadap tuhan maupun hubungan terhadap alam yang menjadi tempat tinggal untuk melakukan aktifitas keseharian. Jadi bagaimana para leluhur suku tidung dalam pandangan kehidupan yang di tampilkan dalam bentuk kebudayaan.
Penelitian ini sangat menarik untuk di kaji dan layak untuk di pentingkan karena berhubungan langsung dengan ilmu pengetahuan sastra khususnya pada sastra lisan dikeranakan tradisi yang di gunakan dalam mempertahankan kebudayaan suku tidung dilakukan dengan cara lisan.
Tradisi kebudayaan yang diwariskan secara lisan dari pada setiap generasi disebut dengan sastra lisan yang masuk pada kajian ilmu foklor. Foklor akan membicarakan warisan tradisi lisan diantranya cerita prosa  rakyat, bahasa rakyat, ungkapan tradisional, sajak dan puisi rakyat.
Pengumpulan terhadap tradisi kebudayan dari suatu suku akan memberikan sumbangan pengetahuan kepada setiap orang yang tertarik pada kajian kebudayaan di masa mendatang dan juga membantu untuk mendokumentasikan secara keseluruhan dari kebudayaan yang terdapat di Nusantra. Mempelajari dan mengkaji secara dalam terhadap trasdisi suatu suku akan juga memberikan pengawetan terdap keberadaan tradisi tersebut dari hantaman arus modern yang sasaranya adalah generasi muda. Dengan penelitian terdapat tradisi suku tidung berarti turut memberikan sumbangsi pengetahuan dan mempertahankan kebudayaan tersebut.

MENGENAL KOTA TARAKAN

Kota Tarakan merupakan satu-satunya kota di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia dan juga merupakan kota terkaya ke-17 di Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 250,80 km² dan sesuai dengan data Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana, Kota Tarakan berpenduduk sebanyak 239.787 jiwa. Tarakan atau juga dikenal sebagai Bumi Paguntaka, berada pada sebuah pulau kecil
Kota yang memiliki semboyan  “BAIS” (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera) ini memiliki empat kecamatan yaitu Kecamatan Tarakan Timur, Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Utara dengan total dua puluh kelurahannya yaitu
Berikut adalah daftar Kelurahan di Kota Tarakan:
1.    Kelurahan Karang Anyar
2.    Kelurahan Karang Anyar Pantai
3.    Kelurahan Karang Balik
4.    Kelurahan Karang Rejo
5.    Kelurahan Karang Harapan
6.    Kelurahan Pamusian
7.    Kelurahan Kampung 1 Skip
8.    Kelurahan Selumit
9.    Kelurahan Selumit Pantai
10.    Kelurahan Sebengkok
11.    Kelurahan Lingkas Ujung
12.    Kelurahan Gunung Lingkas
13.    Kelurahan Kampung 4
14.    Kelurahan Kampung 6
15.    Kelurahan Mamburungan
16.    Kelurahan Mamburungan Timur
17.    Kelurahan Pantai Amal
18.    Kelurahan Juata Permai
19.    Kelurahan Juata Laut
20.    Kelurahan Juata Kerikil
Secara geografis kota Tarakan yang bersetatus kota madya ini  terletak pada 3°14’23” – 3°26’37” Lintang Utara dan 117°30’50” – 117°40’12” Bujur Timur, terdiri dari 2 (dua) pulau, yaitu Pulau Tarakan dan Pulau Sadau dengan luas wilayah mencapai 657,33 km².
Adapaun batas-batas wilayah sebagai berikut :
•    Sebelah Utara : Kecamatan Pulau Bunyu
•    Sebelah Timur : Laut Sulawesi
•    Sebelah Selatan : Kecamatan Tanjung Palas
•    Sebelah Barat : Kecamatan Sesayap dan Kecamatan Sekatak
Suhu udara minimum Kota Tarakan rata-rata 24,1 °C dan maksimum 31,1 °C dengan Kelembabab rata-rata 84,7%. Curah Hujan dalam 5 tahun terakhir rata-rata sekitar 308,2 mm/bulan dan penyinaran rata-rata 49,82%, telah memberikan julukan tersendiri bagi pulau ini sebagai daerah yang tak kenal musim.

PRIBUMI TARAKAN
Suku tidung merupakan salah satu suku yang terdapat di Kalimantan Timur wilayah Utara, tepat nya di pulau Tarakan, Tanah Tidung, Bulungan, Nunukan dan Malinau. Suku tidung menganut agama islam dan mayoritas mendiami di pulau Tarakan, Tanah Tidung dan Nunukan. System mata pencarian hidup sebagai nelayan.
Suku tidung juga memiliki kekayaan kebudayaan yang di wariskan secara turun temurun seperti pesta rakyat yang biasa disebut dengan iraw tengkayu yang berarti pesta laut, upacara perkawinan, rumah adat, bahasa, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, cerita prosa rakyat seperti mite, legenda, dan dongeng,  kesenian seperti nyayian, dan tarian dan lain – lain. Tradisi tersebut telah lahir sejak zaman dahulu dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan keseharian.
Suku Tidung juga memiliki kerjaan besar yang induk kerajaan tersebut pada kerjaan Bulungan, sedangkan kerajaan Tidung berada di Tarakan dan daerahnya meliputi salimbatu. Pada zaman dahulu suku tidung juga dikenal dengan sebutan kaum Tenggara hal ini di kerenakan suku tidung memiliki pemimpin yang di lahirkan dari dinasti Tenggara.
Berdasarkan silsilah, sejarah kerajaan Tidung di mulai pada tahun 1076. Pada saat itu, di pesisir timur Pulau Tarakan tepatnya di kawasan Binalatung sudah ada Kerajaan Tidung kuno, yang berkuasa kira-kira sepanjang tahun 1076-1156. Setelah itu, tahun 1156 hingga tahun 1216, kerajaan berpindah lagi, namun tetap di sekitar pesisir barat  yakni di kawasan Sungai Bidang kira-kira pada tahun 1216-1394. Setelah itu berpindah lagi, ke kawasan Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning yang letaknya cukup jauh dari pulau Tarakan sekitar pada tahun 1394-1557.
Pada tahun 1557, Kerajaan Tidung menempati lokasi Pamusian wilayahnya di Tarakan sebelah Timur. Sejak Dinasti Tenggara tercatat mulai bertahta pertama kalinya melalui Raja Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet, yang berkuasa hingga tahun 1571. Setalah itu, secara turun temurun Dinasti Tenggara memimpin Kerjaan Tidung. Berikut adalah nama-nama keturunan Dinasti Tenggara yang pernah memimpin kerjaan sampai awal abad 20.
1.    Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
2.    Amiril Pengiran Dipati (1571-1612)
3.    Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
4.    Amiril Pengiran Maharajalilah I (1650-1695)
5.    Amiril Pengiran Maharajalilah II (1695-1731)
6.    Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
7.    Amiril Pengiran Maharajadinda (1731-1765)
8.    Amiril Pengiran MAharajalila III (1782-1817)
9.    Amiril Tadjoedin (1817-1844)
10.    Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
11.    Datoe Maolena/Ratoe Intan Doera (1867-1896)
12.    Datoe Adil (1896-1916)

JEJAK SEJARAH
DI KOTA TARAKAN

ERA HINDIA BELANDA
Ketenangan masyarakat setempat agak terganggu ketika pada tahun 1896, sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menemukan adanya sumber minyak di pulau ini. Banyak tenaga kerja didatangkan terutama dari pulau jawa seiring dengan meningkatnya kegiatan pengeboran. Mengingat fungsi dan perkembangan wilayah ini, pada tahun 1923 Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang Asisten Residen di pulau ini yang membawahi 5 (lima) wilayah, yakni: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau. Namun pada masa pasca kemerdekaan, Pemerintah RI merasa perlu untuk mengubah status kewedanan Tarakan menjadi Kecamatan Tarakan sesuai dengan Keppress RI No. 22 Tahun 1963
ERA PENDUDUKAN JEPANG
Pada saat pendaratan Sekutu, angkatan Jepang di Tarakan berjumlah 2.200 orang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Satuan terbesar adalah Batalion Infantri Independen ke-455 yang berkekuatan 740 orang yang dikomandoi oleh Mayor Tadai Tokoi. 150 pasukan pendukung AD juga ada di Tarakan. Sumbangan AL kepada garnisun Tarakan tersusun atas 980 pelaut yang dikomandoi oleh Komandan Kaoru Kaharu. Satuan laut utama adalah Angkatan Garnisun Laut ke-2 yang berkekuatan 600 orang. Satuan laut ini dilatih bertempur sebagai infantri dan mengoperasikan beberapa senapan pertahanan pesisir. 350 pekerja minyak sipil Jepang juga diharapkan bertempur pada saat serangan Sekutu. Angkatan Jepang termasuk sekitar 50 orang Indonesia yang berdinas di satuan pengawal pusat. Mayor Tokoi mengarahkan keseluruhan pertahanan Tarakan, meskipun hubungan antara AL dan AD buruk.
Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, pelabuhan utama Tarakan dan tempat satu-satunya pantai yang cocok untuk pendaratan pasukan. Pembela itu telah menghabiskan waktu beberapa bulan sebelum serangan yang menyusun posisi bertahan dan menanam ranjau.[6] Pertahanan yang diatur itu banyak dipakai selama pertempuran, dengan taktik Jepang yang difokuskan pada posisi bertahan pra-persiapan yang kuat. Jepang tak melakukan kontra-serangan besar apapun, dan kebanyakan gerakan menyerang terbatas pada beberapa pihak penyerang yang mencoba menyelusup garis Australia.[7]
Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan garnisun Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari di mana separuh pasukan Belanda gugur. Saat ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944.

Menyusul penyerahan Belanda, 5.000 penduduk Tarakan amat menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan dan sebagai akibatnya banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai “jugun ianfu” (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.[9]
Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat pada tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu.[10] Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia.[11] Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, garnisun Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.

ERA KEMERDEKAAN
Letak dan posisi yang strategis telah mampu menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan Timur bagian utara sehingga pemerintah perlu untuk meningkatkan statusnya menjadi Kota Administratif sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1981.
Status Kota Administratif kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-undang RI No. 29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997, sekaligus menandai tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Kota Tarakan.
Sejak tahun 2012, Kota Tarakan merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, seiring dengan pemekaran provinsi baru tersebut dari Provinsi Kalimantan Timur

FOKLOR BUMI PAGUNTAKA
LEGENDA, NYAYIAN DAN ADAT ISTIADAT
Suku Tidung sangat memiliki khasanah tradisi yang sangat unik dan mangandung pesan moral yang sangat mendalam. Tradisih tersebut dituangkan dalam bentuk cerita rakyat yang melegenda, dalam bentuk kesenian berupa  nyayian sekaligus menjadi media hiburan, dan adat istiadat berupa upacara dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa cerita-cerita rakyat dalam bentuk legenda, nyayian, dan adat istiadat:
1.    Cerita Rakyat
Suku tidung memiliki cerita-cerita rakyat, baik yang bersifat dongeng maupun legenda. Cerita-cerita ini diwariskan secara turun temurun atau dari generasi ke generasi yang biasanya disampaikan sebagai pengantar tidur anak dan menjadi cerita hiburan masyarakat suku Tidung. Cerita rakyat tersebut diantaranya:
BETAWOL
Di daerah sebuku hiduplah seorang pemuda yang bernama betawol. Suatu hari ia pergi berburuh dengan membawa beberapa ekor anjing untuk menemani dirinya. Hingga hari menjelang sore Betawol belum juga mendapatkan hasil buruannya. tiba-tiba anjing yang ia bawa menggogong dengan suara yang sangat aneh tidak seperti ketika anjing peliharaanya melihat buruannya. Betawol pun bertanya-tanya dalam hati dan melihat daerah sekitarnya tapi tidak melihat sesatu yang diinginkannya kemudian dengan rasa penasaran ia memanjat pohon dengan maksud untuk melihat lebih jauh lagi. Di atas pohon, Betawol melihat 7 (tujuh) wanita cantik sedang mandi sambil bercanda ria di kolam. lalu ia mendekati dengan cara mengendap-endap. kemudian mengambil dan menyembunyikan baju dari salah satu wanita tersebut. Ketika wanita-wanita tersebut selesai mandi mereka pun memakai pakaian mereka lalu satu persatu  terbang  melayang. Betawol pun menyadari bahwa mereka merupakan bidadari. Salah satu diantara mereka tidak bisa terbang dikarenakan baju yang ia miliki disembunyikan oleh Betawol. Bidadari tersebut mencari-cari baju miliknya. tiba-tiba, betawol datang menghampiri sehingga bidadari tersebut terkejut lalu ia menanyakan baju yang ia cari kepada batawol akan tetapi jawaban dari betawol berbada dari pertanyaan wanita tersebut. Betawol hanya mengungkapkan rasa kekaguman dirinya terhadap kecantikan bidadari itu tanpa memperdulikan pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya. Terjadi pembicaraan diantara mereka lalu Betawol mengajak bidadari tersebut ke kemapungnya, kemudian Betawol menjadikan bidadari tersebut sebagai istrinya.Dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup seperti manusia biasa dan dari hasil perkawinannya mereka memiliki seorang anak.
Suatu hari di desa mereka sedang mengadakan iraw (pesta adat). Dalam acara iraw tersebut sangat banyak kegiatan yang dilakukan seperti tarian, dan nyayian. Dikarenakan istri betawol merupakan wanita yang sangat cantik masyarakatpun menginginkan istri Betawol yang bernama dayang dadari untuk menari sehingga dapat dilihat kecantikan nya. Akan tetapi permintaan tersebut tidak langsung di penuhi oleh dayang dadari ia menolak akan tetapi masyarakat terus memaksa sehingga dayang dadari mengajukan satu syarat yaitu ia akan menari dengan menggunakan baju yang disembunyikan oleh suaminya. Suamipun menyanggupi syarat tersebut lalu memberikan baju dayang dadari untuk digunakan menari.  Dalam tarian masyarakat tidak menyadari bahwa dayang dadari telah menari tetapi kaki tidak lagi menyentuh tanah hingga masayarat dan suaminya barulah menyadari hal tersebut ketika dayang dadari telah berada diatas ketinggian suaminya pun meminta sang istri untuk turun tetapi dayang dadari tidak menghiraukannya tetap saja menari sambil terbang mengarah ke laut diikuti oleh Betawol sambil terus memanggil istrinya untuk turun kembali.
Dalam pengejarannya dayang dadari sempat berdiri di atas batu (batu tinagat) yang berada di tengan laut   ia pun menghampiri dan meminta dengan segala bujuk rayunya agar sang istri untuk turun tetapi sang istri tidak juga turun. Betawol pun menabang batu tersebut dengan usaha yang sangat keras sehingga membuat hati dayang dadari kasian dan berkata “jika ingin bertemu denganku maka tunggu lah di muara sungai sebuku pada air mulai pasang” kemudian ia terbang lagi dan menghilang. Betawol segara kembali pulang dan menjemout anaknya untuk dibawah ke muara sungai sebuku untuk menunggu istrinya. Tiba waktu air dalam keadaan pasang maka datanglah gelombang yang cukup besar menghampiri betawol dan anaknya tiba-tiba muncullah dayang dadari yang berdiri di atas gelombang tersebut. Kemudian Betawol pun menarik tangan anaknya untuk terjun ke air kemudian mereka hilang diseret gelombang.

Amanat cerita menggambar tentang cinta dan kasih sayang seorang pria dari manusia kepada istrinya yang berasal dari bidadari.

BENAYUK
Benayuk merupakan kisah dari Menjelutung tepat di daerah Kecamatan Sesayap, awal kisah Benyuk dimulai dari sebuah kampung yang didaerah tersebut terpat sebuah pohon yang bernama tenggilang yang diyakini oleh masyarakat kampung tersebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Dikarenakan kampung tersebut masyarakatnya tidak pernah sakit maka tidak ada orang yang meninggal. Hal ini berbeda dengan dua kampung yang berada disekitarnya yang mengenal dengan kematian.
Suatu ketika masyarakat Benayuk ingin melaksanakan upacara Iraw Bengkayan yang berarti pesta kematian. Dikarenakan mereka tidak dapat mati maka mereka memutuskan untuk mengambil ikan yang sangat besar lalu dibungkus seperti orang yang sedang mati setelah itu mereka melaksanakan iraw Bengkayan yang dalam acara tersebut sebagian oleh mereka menangis dan yang lainya menikmati pesta minum-minuman dan bersenang-senamg.
Ditengah kelangsungan acara Iraw Bengkayan tiba-tiba petir benyambar yang disebut dengan gasam yang dikuti dengan hujan yang sangat lebat. Sehingga menenggelamkan semua masyarakat kampung tersebut.
Pada saat acara Iraw Bengkayan suami Benayuk sebagai putra mahkota raja tidak mengikuti dan berada di kampung yang lain. Ketika pulang ia sangat terkaget dikarenakan kampungnya tenggelam dalam perjalanan yang temani oleh pengawal ia mendengar suara dari istrinya yang berasal dari pusaran air lalu ia juga menemukan topi milik Benayuk yang disebut dengan kedabang keyakinannya bertambah ketika melihat bayangan istri muncul dari pusaran air, ia pun terjun ke dalam pusaran air. Secara tiba-tiba pengawal yang turut menemaninya mendengar suara nyayian yang berasal dari pusaran tersebut.
Amanat dari cerita tersebut bahwa manusia tidak boleh memain-mainkan binatang dan mensukuri nikmat kehidupan dari Tuhan yang maha Esa.
KIMO KAJANG
Suatu kampung tinggalah seorang ibu dan anak laki-laki yang bernama alung  yang hidup secara sederhana. Setiap hari sang ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sedangkan alung  setiap hari hanya bermain. Hari-hari ibunya mencari ikan disungai yang tidak jauh dari rumah mereka  untuk dijadikan makanan.
Suatu hari ibunya mencari ikan disungai tersebut akan tetapi hari menjelang siang hanya seekor ikan yang ia dapatkan. Sehingga ia pulang dengan membawa ikan tersebut untuk dimasak dan dijadikan lauk. Setelah selesai memasak sang ibu kembali lagi mencari ikan di sungai namun ia tidak mendapatkan hasil tanggapan.
Sang ibu kembali pulang kerumah. Sesampainya dirumah, ia terkaget dikarenakan semua masakannya dihabiskan olah alung. Ia pun kembali mencari sayuran yang dapat dijadikan lauk. Dalam pencarian ia menumakan papaya muda yang berada di pinggir tebing. Sang ibu berupaya untuk mengambil buah papaya tersebut namun terjatuh  yang kemudian masuk kedalam dasar sungai yang ada Kimo kajang sehingga ia di telan.
Sayup-sayup sang anak mendengar suara ibunya memanggil-manggil anaknya. Sang anakpun berlari mencari sumber suara. Alangkah  terkagetnya ia melihat ibunya hampir seluruh badanya di telan kimo kajang dan alungpun berlari mengejar ibunya akan tetapi setelah ia mendekat sang ibu hanya tersisah rambut. Secara perlahan alung mendengar pesan ibunya.
Selamat Tinggal Alung…jaga dirimu baik-baik… kemudian alung sempat bertanya pada ibunya mengapa hal ini bisa terjadi.. ibunya menjabawa bahwa ibu telah sendapan karena tidak sempat memakan hidangan siang.

NYAYIAN RAKYAT
Salah satu bentuk kesenian yang diwariskan secara turun-temurun dan bersifat tradisional adalah nyayian rakyat. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Suku tidung juga memiliki khasanah kebudayaan nyayian rakyat yang tetap terpelihara hingga saat ini. Nyanyian rakyat tidung beraneka ragam temanya mulai yang bersifat historis hingga yang bermakna kehidupan manusia.

BEBALEN
Pesan

Inindang … Inindang
Menari … Menari

I yadu yaki
I nenek kakek

Bebilin yadu yaki (2X)
Pesan  nenek kakek

Nyusub de labu bebilit (2X)
Surutnya labu memilit

Penembeyud ne de pikir (2X)
Teriring pesan untuk di pikir

Impeng ne de lunas insuai (2X)
Tidak menghendaki dasar perahu untuk bercerai

Sapu tangan jingga
Sapu tangan berwarna jingga

Sapu tanggan jingga – jingga
Sapu tangan warna jingga jingga

Mapit ke gulu injakin (2X)
Singga sebentar

Buei kati intamu (2X)
Lama sudah kita tidak bertemu

Betapap maya bedindang (2X)
Betepuk kita menari

Katul ku lesakan
Gusung di waktu surut

Maneng katulku lesakan
Betul gusung di waktu surut

Maneng katulku lesakan (2X)
Betul gusung di waktu surut

Suang lubeku indalem (2X)
Banyak teluk yang dalam

Besapai ke ki de nunuk (2X)
memanjat pohon beringin

Nupe ke sangakad sie (2X)
Tidak pernah akan terjangkau

Lakiu anak tambang
Berteriak si anak rusa

Laki lakiu anak tambang
Berteriak teriak si anak rusa

Lakiu anak tambang (2X)
Berteriak si anak rusa

Guang naked de pisau (2X)
Hendak memanjat pohon kelapa

Kalap ke ki naked sie (2X)
Hendak memanjat pohon kelapa

Belinggage upun nane
Dapatkah engkau memanjatnya

Belinggaga upun nane (2X)
Banyak semut besar

Ku teganak kandis
Kayu kecil  buah kandis

Maneng ku teganek kandis
Sebatang kayu kecil buah kandis

Maneng ku teganek kandis (2X)
Sebatang kayu kecil buah kandis

Layau ni adan ku gine (2X)
Begitulah merunduk dahan ku

Sembalayan awei lumet (2X)
Serumpun rotan kecil

Batan tembalei ku kie (2X)
Hanya cukup untuk pondok bagiku

Makna filosofis yang terdapat pada lagu bebalen adalah utamakan persatuan hindarkan perpecahan, seorang harus memiliki jati diri sekalipun ia tidak memiliki harta tetapi ia akan di hormati, seseorang yang harus memiliki cita-cita yang tinggi, seseorang yang memiliki kemampuan dalam mengahadapi masalah dapat muda diselesaikan.

BELADAW

Beladaw gilambey beladaw
Beladaw melambai beladaw

Gilambe lambay beladaw
Melambai lambai beladaw

Gilambey beladaw gilamdey beladaw
Melambai beladaw melambai beladaw

Gilambey lambey beladaw
Melambai lambai beladaw

Beladaw beladaw beladaw

Piasau nakod de piasaw
Memanjat pohon kelapa

Gium dupun anu disaw
Dari pohon yang rendah

Tenugos de pataw (2X)
Membuat santan

Lutu maya de siyandaw
Bekal pergi ke siandaw

Beladaw beladaw beladaw

De padaw imbusay de padaw
Di perahu mendayung di perahu

Ngayas lala dasam mindauw
Bergegas taku turun hujan

Intad de si yaudaw (2X)
Dari si andaw

Bagu muli makow ngambaw
Baru pulang menangkap kepiting

Beladaw beladaw beladaw

DI GANDANG
Ke heranan

Ina madui gandang, gandang guruki gurandang (2X)

Di gandang …. Di gandang … di gandang

Ndang dudu jamban senengkilang, ina madui gandang
Kamu berjalan di atas jembatan kayu,

Samamu ligad senunsui
Jembatan itu jangan bergoyang saat di lewati

Lala di yujang ke tundang, ina madni gandang
Takut paman jatuh

Yujang ngibit de kuntika
Paman membawa buku pedoman

Ina madui gandang, gandang guruki gurandang (2X)

Di gandang … di gandang … di gandang

Katu – katub buan bebal, ina madui gandang
Bejatuhan buah bebal

Ketundang de langas tawa
Jatuh di padang lumbur yang luas

Imaniman yuti mundut, ina madui gandang
pemuda yang kecewa memungut buah

Tandes ne buai belimpung
Dia menyangka itu buah yang bundar

Ina madui gandang, gandang, gandang guruki gurandang (2X)

Di gandang … di gandang … di gandang

Beguntung tanan Tarakan, ina madui gandang
Beruntung tanah Tarakan

Bayan bintang gidedatu
Ada bintang jatuh di sana

Manengi kati bepiat, ina madui dangan
Walapun di tidak berkilau

Belindada de linuang
Berbayangan ke daerah lain

Ina madaui gandang, gandang guruki gurundang (2X)

Di gandang …. Di gandang … di gandang

UNTUN BELANAY

Musay de padaw pelitulituk
Mendayung perahu seorang diri
Tudung dedulung padaw tepilay
Pedayung duduk di haluan

Damo Talu guang beiluk
Kami hendak menari
Beiluk jepin untun belanay
Menari jepin untun belanay

Nitik degambus tabid sepuluh
Memetik gambus senar sepuluh
Ransak ketipung tugos siramay
Irama pukulan ketipung membuat dia menjadi ramai

Jepin inumbak damu talu
Jepin kami mainkan
Iluk no nggalan duntun belanay
Tariannya bernama duntun belanay

Baloy mayo begatap sirap
Gedung beratap sirap
Betingkot talu atap meligay
Bersusun tiga atap mahligai

Kasino sala malok no map
Mohon maaf kalau ada salah
Mulow ni jepin untun belanay
Berhenti dulu tarian jepin untun belanay

Untun Belanay merupakan jenis pantun yang di yang di lagukan. Hal ini dapat dilihat dari sajak yang memiliki a-a sehingga ini dapat dikatagorikan sebagai sastra lisan yang berjenis pantun. Pantun yang berbahasa tidung ini membuktikan bahwa suku tidung telah memiliki kebudaan sastra yang sangat tinggi.

SUARA SIAM
Suara Sembilan

Bulu serapun mai neramu
Serumpun bambo habis di ambil
Tugos buyagan penakay mintu
Membuat buyagan (tempat ikan) di pakai memancing

Sedungan taka kalap intamu
Senang kita dapat bertemu
De adow bais de baya gitu
Di hari yang baik di tempat ini

Buan lansat benungkus dayam
Buah langsat di bungkus pakai tikar
Guang pengitak danak iujang
Untuk di berikan pada anak si paman
Jepin kinsat suara siam
Jepin kinsat suara sembilan
Jika inumbak pantun bedindang
Jika di mainkan pantun dinyayikan

Pasok urut linuang kayam
Deras air surut di linuang kayam
Nyasak nelisir sawa temanga
Kalau melawan arus jangan di tengah
Jepin kinsat suara siam
Jepin kinsat suara sembilan
Mbak umbak laid tantu iningga
Permainan lama tentu di sayangi

Abun gabur sumbul pemulu
Abun gabur sumbul pemulu (nama benda yang terbuat dari kuningan)
Guang si bulay bais benagu
Kalau mau bersih sebaiknya di cuci
Jepin kinsat mulow ni gulu
Jepin kinsat berhenti dahalu
Senggilan adow intamu bagu
Kapan-kanpan kita bertemu lagi

Iluk Tengkayu
Anak melayu intad de umo
Anak melayu dari ladang
Ngibit pelampung batang pesana
Membawa pelampung dari batang gambus
Iluk tengkayu inumbak damo
Tarian pesisir kami mainkan
Nitik ketipung gendang rebana
Membunyikan ketipung, gendang, rebana

Dasam bebilis tada belintung
Hujan gerimis tampak pelangi
Mindaw bejiyu putri kayangan
Turun mandi putri kayangan
De adow bais taka intimung
Di hari baik kita berkumpul
Iluk tengkayu rati sedungan
Tarian pesisir artinya senang

Indulung baya mukot pesayan
Indulung tempat memukat udang pesayan
De mamburungan baya besamu
Di mamburungan tempat mengambil bahan bangunan
Intimung taka bekeremayan
Kita berkumpul untuk beramai-ramai
Nyawo sedungan taka intamu
Hati senang kita bertemu

Ka buan lampun mupok ku tending
Kalau buah durian jatuh
Tantu ni bua nu mansak dupun
Itulah buah yang sudah matang
Bepantun damo bedindang
Berpantun kami bernyayi
Dagu besuja andang semusun
Kata bersajak memang bersusun

TARIAN KEBUDAYAAN
Khasanah kebudayaan juga terlihat dari tarian-tarian yang dimiliki oleh kaum Tenggara (sebutan suku tidung) yang sering ditampilkan pada acara adat, aca penyambutan dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan waktu tarian ini mendapatkan sambutan yang hangat pada seluruh masyarakat Tarakan dan pemerintah kota Tarakan. Menjamburnya sangar-sangar tari tradisional yang ada di kota Tarakan sebagai bukti bahwa tradisi ini tetap dipelihara atau dipertahankan sebagai warisan yang memiliki identitas seni yang tinggi.

UPACARA ADAT
UPACARA ADAT BESITAN
Upacara adat besitan merupakan upacara adat suku tidung yang bertujuan untuk mengobati orang yang sedang sakit. Dalam upacara besitan digunakan alat kesenian yang disebut dengan kulintangan atau sejenis gamelan, gendang, rebana, biola, dan tumpung atau suling. Kemudian di dalam acara tersebut terdapat pula orang yang disebut penyidit yaitu seseroang yang bertugas untuk melantunkan nyayian kemudian seorang yang dijadikan mediator untuk menyembuhkan dengan cara dirasuki oleh roh-roh.
Setelah roh memasuki tubuh mediator terlebih dahulu roh tersebut akan menjelaskan penyakit yang diderita oleh pasien kemudian sang roh akan memberikan arahan untuk mengambil obat-obatan yang berasal dari alam seperti daun-daunan, akar-akaran dan buah-buahan yang nantinya akan dijadikan ramuan kesembuhan pasien.
UPACARA IRAW TENGKAYU
Iraw tengkayu yang berarti pesta rakyat adalah tradisi upacara adat suku tidung yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa sukur atas hasil panen yang diperoleUpacara ini dilakukan semenjak suku tidung belum mengenal islam hingga sekarang. Dalam proses perjalanannya upacara adat iraw tengkayu mengalami penyesuaian terhadap agama islam hal ini dikarenakan islam merupakan agama kepercayaan dari suku tidung. Dalam acara tersebut terdapat sebuah perahu yang disebut padaw tujuh dulung yang berarti perahu tujuh haluan. Perahu ini berbeda dengan bentuk perahu lainya dikarenakan bentuk dari ujung perahu terbagi tiga, kiri dan kanannya bertingkat dua dan tengahnya bertingkat tiga sehingga jumlah keseluruhanya tujuh yang memiliki makna jumlah hari dalam seminggu sebagai aktifitas keseharian manusia.
Kemudian warna yang terdapat pada perahu berjumlah tiga warna yaitu kuning, hijau dan merah. Warnah kuning mendominasi warna perahu dan ditempatkan paling teratas yang bermakna ditinggikan, dimuliakan dan dihormati. Sedangkan warna hijau yang bermakna agama islam dan warna merah merupakan sikap keberanian. Kemudian di tengah perahu terdapat lima tiang yang berdiri melambangkan jumlah sholat lima waktu yang diikat dengan kain yang disebut dengan pari-pari, diambil dari nama ikan pari dikarenakan sifat ikan pari yang berada didasar laut tidak mudah digerakan sehingga makna filosofisnya melambangkan keteguhan dari suku tidung.
UPACARA PERKAWINAN
Suku tidung memiliki tradisi adat perkawinan. Tradisi ini telah berjalan pada setiap generasi dari suku tidung. Prosesi dari adat perkawinan suku tidung memiliki beberapa tahap diantaranya :
GINISINIS
Merupakan tahapan pertama ketika seseorang yang ingin menikah. Tahapan ini merupakan perjodohan dimana seorang pria yang dicarikan wanita yang nanti akan dijadikan istri. Pria tersebut tidak pernah melihat wanita yang dimaksud sampai nanti akan dipernalkan kepada dirinya. Peran ginisinis sangat menentukan terhadap kecocokan seorang pria dan wanita dan ketika didapatkan kecocokan maka akan berlanjut pada tahap selanjutnya
BESERUAN
Setelah mendapatkan kecocokan antara pria dan wanita maka tahapan selanjut adalah beseruan yaitu prosesi lamaran yang dilakukan oleh pihak pria kepada wanita dengan cara pihak dari keluarga pria mendatangi keluarga pihak wanita dan sebelum membicarakan inti dari lamaran maka terlebih dahulu pihak pria memberikan cindra mata yang biasanya bentuk perhiasaan cincin. Pemberian cintra mata ini dinamakan buka sungut.  Ketika pemberian tersebut telah diterimah barulah pembicaraan dimulai. Selama pembicaraan tuan rumah tidak akan memberikan hidangan kepada keluarga pria kemudian ketika mendapatkan kata sepakat  barulah hidangan akan diberikan kepada keluarga pria yang menandakan lamaran diterimah.
NGANTON DE PULUT
Acara selanjut adalah ganton de pulut yang berarti mengantar mas kawin. Mas kawin merupakan hasil kesepatan pada saat beseruan yang menjadi kewajiban untuk di penuhi oleh calon mempelai pria untuk diantar kerumah calon mempelai wanita.
KAWIN SURU
Kawin suru merupakan rangkaian acara lanjutan dari nganton de pulut dimana dalam acara ini merupakan akad nikah atau peresmian pernikahan. Di dalam acara kawin suru atau akad nikah sebelum mempelai pria masuk kedalam rumah  ia akan melakukan tradisi dimana mempelai pria diberikan dua wadah atau tempat yang satunya berisi beras berwarna kuning yang bermakna rezeki dan yang wadah satunya berisi air yang bermakna kesejukan dalam berumah tangga. Wadah yang berisi beras berwarnah kuning akan diambil segengam oleh mempelai pria untuk dicium dan memasukannya ke dalam wadah yang berisi air. Setelah prosesi itu selesai barulah mempelai pria masuk kedalam rumah untuk melakukan akad nikah.
Dalam acara akad nikah dari rangkaian kawin suru, mempelai wanita tidak di perlihatkan kepada tamu undangan. Mempelai wanita berada di dalam kamar. Setelah prosesi kawin suru selesai mempelai pria akan dipertemukan kepada mempelai wanita yang diantar oleh beberapa orang tua menuju kamar mempelai yang kemudian melakukan tradisi sumbung gabol dimana kedua mempelai masuk kedalam satu sarung yang kemudian secara cepat untuk keluar dari sarung tersebut.
BEPUPUR
Acara selanjut adalah bepupur yang dilakukan di malam hari. Acara ini dilaksanakan di rumah masing-masing akan tetapi jika salah satu dari pihak mempelai berbeda kampung maka akan dilaksanakan secara bersama-sama. Acara bepupur yaitu diamana mempelai wanita dan mempelai pria di berikan pupur dingin yang dibuat oleh masing-masing keluarga yang nantinya akan saling bertukar antar kedua keluarga mempelai. Dalam prosesi acara bepupur akan diiringi dengan kesenian hadra  yang kemudian dilanjutkan dengan acara selanggo yaitu acara ini masing mempelai di pakaikan pewarnah kuku yang berwarnah merah yang berasal dari daun-daunan.
BEBANTA ATAU BESANDING
Setelah rangkaian acara bepupur yang dilakukan pada malam hari maka keesokan harinya dilanjutkan dengan acara bebanta atau besanding. Sebelum acara besanding di mulai terlebih dahulu dilakukan acara arak- arakan dari keluarga pria menuju rumah keluarga wanita. Dalam acara arak-arakan akan diringi dengan kesenian hadra yang kemudian diacara tersebut juga akan dibawah beberapa perlengkapan yang diantaranya busak dia yang berarti bunga lilin, sedulang berupa cindra mata yang berbentuk piring, gelas, dan sendok, dan nasi pengantin.
Setelah rombongan arak-arakan tiba di halaman rumah maka kesenian hadra yang menjadi pengiring berhenti, yang kemudian keluarga wanita mengutus salah satu dari pihak keluarga untuk menjemput rombongan pihak mempelai pria dengan membacakan selawat nabi dan melemparkan beras kuning yang kemudian barulah keluarga pria memasuki rumah wanita.
Ketika rombongan memasuki rumah akan diringi musik kulintangan dan menyayikan lagu taliwuda yang berarti raja berangkat setelah itu mempelai pria berdiri di depan pelaminan yang disebut pagau yang kemudian akan melakukan prosesi pugau-pagau yaitu semua undangan yang hadir akan memberika hadiah berupa uang yang dimasukan kedalam tempat yang telah disediakan. Setelah itu dilanjutkan tradisi membuka tabir berupa kain yang menutupi pelaminan yang berlapis dua, setelah itu mempelai pria akan melewati satu tahap dimana wajah dari mempelai wanita tutupi dengan kipas yang dipegang oleh seseorang yang sebut ina pengantin yang nantinya akan di buka oleh mempelai pria. Setelah semua terbuka maka mempelai pria akan memegang pergelangan tangan wanita bertanda di ijinkan nya pria duduk di samping kanannya. Setelah duduk mempelai akan melakukan prosesi saling menyuap nasi pengantin yang bermakna saling berbagi kemudian meniup lilin yang bermakna masa remaja telah berkhir.
Dalam acara bebanta atau besanding sesorang akan membacakan tulisan yang disebut dengan kerangan yang berisi tentang maksud dan tujuan acara serta ucapan termah kasih kepada tamu undangan yang hadir dan pihak-pihak yang membantu.
Setelah pembacaan kerangan maka akan dilanjutkan dengan tarian iluk beguna sejenis tarian penghormatan yang dipersembahkan pada tamu undangan yang telah hadir.
KIWON TELULANDO
Kiwon talulando yang berarti malam ketiga merupakan acara lanjutan dari prosesi perkawinan. Acara ini dilakukan pada malam hari dimana akan dihadiri undangan yang kemudian di isi oleh ajara hiburan jepin sejenis tarian. Setalah undangan pulang maka akan dilanjutkan dengan acara menyayikan lagi bebalon yang dilakukan hingga pagi hari. Sementara acara menyayikan lagu bebalon barulah kedua mempelai masuk kedalam kamar dan dapat melakukan hubungan suami istri.
Dalam acara kiwon telulando diadakan pula acara sedulang sebagai rangkaian di dalamnya yaitu peralatan makan akan di bersihkan dan dibagikan pada kerabat keluarga.
BENIUK
Pada subuh hari mempelai wanita akan dimandikan oleh beberapa orang tua yang diringi dengan music hadra acara ini dinamakan beniuk.
BETAMOT
Setelah acara beniuk selesai maka dilanjutkan dengan aca betemot pada pagi hari yaitu acara ini mempelai pria akan menamatkan bacaan Al-Quran. Acara betemot tidak menjadi wajib ketika mempelai pria telah melaksanakan acara betemot Al-Quran sebelum ia menikah
BEBALOI
Pada siang hari setelah acara betamot di lakukan maka dilanjutkan dengan acara bebaloi yaitu keluarga dari mempelai wanita akan berkunjung kerumah keluarga mempelai pria. Sesampainya dirumah keluarga pria maka kedua mempelai akan melakukan upacara yang dinamak kidau betuap upun lading yaitu mempelai pria akan mengijak batu, gigit pisau dan minum air putih yang bermakna keteguhan dalam menjalani keluarga.  Dan ketika acara kunjungan tersebut dilakukan, dirumah keluarga mempelai wanita diadakan acara acara pembokaran tenda-tenda dan peralatan perkawinan yang menandakan acara perkawinan telah selesai.
UKIRAN SUKU TIDUNG
Seni ukir juga telah dikenal oleh suku tidung yang menjadi bagian dari seni kebudayaan  foklor setengah lisan. Hasil ukiran biasanya dijadikan sebagai hiasan rumah atau menjadi motif gambar pada media lain seperti baju dan lain sebagainya. Ciri khasi dari motif ukiranya adalah dua naga yang saling berhadapan atau saling membelakangi.

SEBUTAN KEKERABATAN

No    Nama kekerabatan    Sebutan Kekeraban
1.    Kakek    Yaki
2.    Nenek    Yadu
3.    Ibu    Ina
4.    Ayah    Yama
5.    Kakak    Yakak
6.    Paman    Ujang
7.    Bibi    Acil
8.    Sepupu    Telengado
9.    Cucu    Ingkupu
10    Adik     Yadik
11.    Ipar     Iras
12.    Keponakan    Kemenakon
13.    Panggilan Kepada seseorang yang telah memeliki anak     Man i
14.    Suadara orang tua yang lebih tua    Aya
15.

GELAR KEBANGSAWAAN

No    Nama    Gelar Kebangsawaan Tidung
1.    Raja Utama/Bangsawaan Tertinggi     Sultan
2.    Gelar bangsawaan yang diberikan kepada seseorang karena jasanya atau dari keturunan dari sultan    Pengiran
3.    Kerabat Raja/keturunan dari keluarga sultan    Datu
4.    Gelar Bangsawaan yang diberikan sebagai tanda penghormatan dan jasa seseorang    Aji
5.    Seseorang yang bergelar haji    Puaji
6.    Raja Sembakung    Andin
7.    Perempuan dari keturunan Sultan    Pengiyan
8.    Perempuan dari keluarga Sultan    Dayang
9.    Gelar yang diberikan kepada seseorang yang bertugas sebagai orang yang bekerja mengurusi kapal    Kimas
10.    Pemuka Agama dari keturunan Arab    Habib

TARAKAN WAJAH BARU
Jika merujuk pada penetapan Tarakan sebagai kota madya pada tahun 1997 maka usia kota ini masih tergolong muda. Namun dalam proses perkembangannya kota yang dijuluki dengan kota penghasil minyak ini memiliki kemajuan yang sangat pesat. Hal itu tidak terlepas dari semua elemen masyarakat Tarakan yang bersatu pada dalam memajukan kota Tarakan sebagai kota yang moderen. Secara goerafis letak kota Tarakan sangat strategis hal ini menjadi keberuntungan untuk pengembangan di bidang jasa di tambah dengan kekayaan laut yang berlimbah sehingga hasilnyapun mampu menopang ekonomi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan yang bermuara pada pendapatan daerah.
Kepimpinan oleh kepala daerah sebagai ujung tombak dalam melakukan perubahan juga menajadi bagian yang tidak terlepas dalam membenah kota ini hingga mendapatkan penghargaan adipura secara berturut-turut. Secara bertahap kota ini mulai menampakkan wujudnya baik di bidang sosial, pendidikan, dan lain sebagainya.
Dialah  dr. Yusuf Sk. Sebagai walikota Tarakan sosok pria yang memiliki jiwa kepemimpinan dan berpikir visioner. Hampir sudut kota ini tidak luput dari pandangannya. Secara bertahap semenjak ditetapkan sebagai walikota Tarakan dirinya mulai melaksanakan tugasnya. Pembendahan dari mulai sistem drainase yang diperlancar agar tidak menimbulkan banjir, kemudian pasar yang dahulu sangat kumuh berupa menjadi pasar yang sangat bersih dan moderen demikian juga di bidang pembangunan pendidikan hampir seluruh sekolah semua jenjang pendidikan berlantai tiga dengan harapan dapat melahirkan generasi yang unggul. Semangat perubahan untuk memajukan kota Tarakan di manifestasikan dalam bentuk sebuah slogan yang sangat populer yaitu Tarakan The Litte Singapore atau singapore kedua, merujuk pada keindahan dan kenyaman negara singapore dan letak goerafis yang sama maka Tarakan sangat percaya diri dalam mewujudkan seperti halnya negara negera yang dijuluki dengan negara “singa” yang selalu didampingi oleh wakilnya yaitu H. Thamrin. Kedua pria ini sangat memiliki peran yang besar dan keduanya pun tidak pernah berpisah dalam kepemimpinan pada dua priode jabatan.

Posted on February 20, 2013, in artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: